PASAMAN – Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), Sabar AS, mengatakan Gerakan Langit Biru Indonesia Asri (GLBIA) merupakan wujud komitmen Partai Demokrat tentang pembangunan berkelanjutan.
“Partai Demokrat dalam memaknai Hari Jadi ke-25 tahun 2026 mengambil isu lingkungan hidup sebagai tema sentral,” ujar Sabar melalui sambungan telepon, Rabu (29/7/2026) siang. Sabar saat itu mengaku sedang berada di Padang
Sabar menilai, Demokrat dalam merayakan Hari Jadi ke-25 tahun 2026, dengan menjadikan isu lingkungan hidup sebagai tema sentral, merupakan sebuah momentum yang dinilai sangat tepat.
“Betapa krusial persoalan lingkungan hidup yang dihadapi umat manusia saat ini,” ungkap mantan Bupati Pasaman itu. “Betapa sangat diperlukan sinergi dan kolaborasi semua elemen untuk menanganinya.”
Menurut Sabar, tanpa perhatian dan penanganan yang sungguh-sungguh, bukan tidak mungkin persoalan lingkungan hidup akan menjadi bom waktu dan beban yang tidak ringan bagi generasi mendatang.
“Akibatnya, apa yang dengan susah-payah kita bangun hari ini dengan menelan anggaran yang tidak sedikit, bukan tidak mungkin akan menjadi sia-sia di waktu yang akan datang,” ujar mantan anggota DPRD Sumbar.
Menurut mantan aktivis mahasiswa itu, melalui GLBIA semua elemen di tengah masyarakat diingatkan tentang betapa pentingnya upaya yang sungguh-sungguh untuk menyelamatkan lingkungan hidup.
“Ini penting, karena kelestarian lingkungan hidup menyangkut nasib generasi yang hidup di zaman sekarang dan anak-cucu kita ke depan,” ungkap mantan Wakil Bupati Pasaman itu.
Menurut Sabar, GLBIA, yang merupakan bagian kegiatan menyambut HUT Partai Demokrat ke-25, adalah saat yang tepat untuk membuktikan kepedulian seluruh kader Demokrat di Pasaman terhadap upaya kelestarian lingkungan hidup.
Mantan Bupati Pasaman itu membeberkan dua kegiatan dalam Gerakan Asri Langit Biru di Pasaman, yang direncanakan akan dilaksanakan pada 31 Juli mendatang.
Kegiatan utama. adalah kegiatan bersih-bersih, terutama dilakukan di fasilitas umum. “Kita berpandangan, kegiatan bersih-bersih ini dipusatkan di Taman Equator Bonjol,” sebut Sabar.
Pertimbangannya, ungkap Sabar AS, selain merupakan salah satu destinasi wisata utama di Pasaman, Taman Equator Bonjol juga memiliki nilai historis yang tinggi.
Pertimbangan lain, kondisi lingkungan di Taman Equator Bonjol saat ini terkesan kurang terawat dengan baik. “Kita berharap, pemusatan kegiatan bersih-bersih di Taman Equator Bonjol mampu mengembalikan kondisi objek wisata itu ke keadaan seperti yang diharapkan bersama,” papar Sabar.
Sementara kegiatan kedua adalah berupa penanaman pohon. Sabar mengusulkan, kegiatan penanaman pohon dipusatkan di Benteng Tuanku Imam Bonjol yang berlokasi di Bukit Tajadi.
Dijelaskan Sabar AS, diharapkan kedua kegiatan tersebut membuahkan sinergitas yang saling mendukung, dan memberi dampak nyata terhadap kelestarian lingkungan, terutama di objek yang menjadi pusat kegiatan.
Sementara lokasi untuk kegiatan pembersihan lingkungan adalah Taman Wisata Equator Bonjol, dan untuk penanaman pohon dipusatkan di Bukit Tajadi/Benteng Tuanku Imam Bonjol. “Kegiatan dilaksanakan secara serentak pada Jumat 31 Juli 2026,” urai Sabar. (spa)













