Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
BERITA UTAMADAERAHTERBARU

Nagari Creative Hub Pangian Dorong UMKM Go Digital, Jadi Pusat Kreativitas dan Pelestarian Budaya

3
×

Nagari Creative Hub Pangian Dorong UMKM Go Digital, Jadi Pusat Kreativitas dan Pelestarian Budaya

Sebarkan artikel ini
Ketua Satgas Nagari Creative Hub (NCH) Nagari Pangian, Zilnovita Zainal (Elok Piko),

SUMBAR, RELASI PUBLIK – Program unggulan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar), Nagari Creative Hub (NCH), mulai menunjukkan dampak nyata dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan kreativitas masyarakat di tingkat nagari. Di Nagari Pangian, Kecamatan Lintau Buo, Kabupaten Tanah Datar, pusat kreativitas tersebut berkembang tidak hanya sebagai wadah pengembangan generasi muda, tetapi juga menjadi ruang pemberdayaan UMKM, pelestarian seni budaya, dan pemasaran produk lokal berbasis digital.

Program yang diinisiasi Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah, bersama Wakil Gubernur Vasco Ruseimy itu kini menjadi salah satu motor penggerak ekonomi nagari. Meski demikian, sejumlah tantangan masih dihadapi, terutama dalam meningkatkan kapasitas pelaku UMKM agar mampu bersaing di era digital.

Ketua Satuan Tugas (Satgas) NCH Nagari Pangian, Zilnovita Zainal atau yang akrab disapa Elok Piko, mengatakan Pemprov Sumbar telah menyediakan lima fasilitas utama untuk mendukung operasional NCH, yakni Teras Nagari sebagai pusat informasi potensi daerah, Lapau Nagari untuk pemasaran digital UMKM, Medan Balindung sebagai ruang pelatihan dan diskusi, Medan Nan Bapaneh sebagai pusat kegiatan seni budaya, serta layanan internet gratis.

“Seluruh fasilitas tersebut telah dimanfaatkan masyarakat sejak NCH diluncurkan dan mendapat respons yang sangat positif,” ujarnya di Nagari Pangian, Rabu (29/7/2026).

Di sektor ekonomi, enam produk unggulan UMKM Nagari Pangian kini dipasarkan secara rutin melalui akun TikTok Shop @nch.pangian setiap pukul 19.00 hingga 21.00 WIB. Produk tersebut meliputi aneka sambalado, rendang belut, minuman kesehatan serai-lemon-jahe, keripik pisang, kerajinan tangan, hingga produk kriya dan deta khas masyarakat setempat.

Menurut Elok Piko, potensi UMKM Nagari Pangian sebenarnya jauh lebih besar. Namun, sebagian besar produk kuliner masih terkendala daya simpan yang relatif singkat sehingga belum siap dipasarkan secara lebih luas melalui platform digital.

“Produk kita sebenarnya banyak. Kendala terbesar adalah bagaimana makanan bisa bertahan lebih lama. Produk seperti sambal dan kuliner khas lainnya masih membutuhkan teknologi pengawetan yang baik agar bisa dipasarkan secara nasional melalui platform digital,” katanya.

Ia menjelaskan, berbeda dengan rendang belut yang mampu bertahan hingga sekitar dua bulan, sebagian besar produk kuliner lainnya masih memerlukan inovasi dalam teknologi pengemasan dan pengawetan. Karena itu, pendampingan kepada pelaku UMKM tidak hanya difokuskan pada peningkatan kualitas produksi, tetapi juga penerapan teknologi pangan agar produk memiliki daya simpan lebih panjang dan daya saing lebih kuat.

Selain itu, transformasi digital juga menjadi tantangan tersendiri. Keterbatasan kemampuan memanfaatkan teknologi membuat proses adaptasi pelaku UMKM masih berlangsung bertahap. Untuk mengatasinya, Satgas NCH menggandeng mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai mitra pendamping.

Mahasiswa KKN membantu pelaku UMKM mulai dari pembuatan akun TikTok, strategi meningkatkan jumlah pengikut, teknik siaran langsung (live shopping), pengelolaan pesanan, hingga sistem pembayaran digital.

“Kami terus belajar sambil berjalan. Mahasiswa KKN banyak membantu kami memahami cara melakukan live TikTok, mengelola pesanan hingga sistem pembayaran,” ujarnya.

Meski nilai penjualan daring belum terlalu besar, Elok Piko menilai proses tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem pemasaran digital di tingkat nagari.

Ia menambahkan, pelaku UMKM juga masih harus memenuhi berbagai persyaratan administrasi sebelum dapat memasarkan produk melalui TikTok Shop, termasuk kepemilikan sertifikat halal. Setelah itu, peningkatan kapasitas dalam mengelola pemasaran digital secara profesional juga masih diperlukan.

“Kami juga masih kekurangan host untuk live shopping. Anak-anak muda biasanya lebih cepat beradaptasi dengan teknologi dibandingkan kami, tetapi sebagian besar dari mereka merantau atau tidak berada di kampung,” tambahnya.

Di luar pemasaran digital, sejumlah produk UMKM Nagari Pangian sebenarnya telah memiliki pasar yang cukup menjanjikan. Produk seperti minuman kesehatan serai-lemon-jahe dan rendang belut bahkan telah dipasarkan di salah satu pusat oleh-oleh di Kota Padang.

Namun, peluang tersebut juga menghadirkan tantangan baru, yakni menjaga kontinuitas produksi agar pasokan tetap tersedia.

“Masalahnya bukan kualitas, tetapi konsistensi produksi. Kalau bahan baku habis atau produksi terhenti, produk bisa langsung dikeluarkan dari jaringan pemasaran,” jelasnya.

Tak hanya menjadi pusat pengembangan ekonomi, Nagari Creative Hub Pangian juga berkembang sebagai ruang aktivitas sosial dan pelestarian budaya masyarakat. Berbagai kegiatan seperti latihan silek tradisi, randai, tari, sanggar senam, hingga pelatihan pemberdayaan masyarakat kini dipusatkan di kawasan NCH. Seluruh program pelatihan yang didanai pemerintah nagari juga diarahkan untuk mendukung pengembangan pusat kreativitas tersebut.

Melalui pendekatan itu, Nagari Creative Hub tidak hanya menjadi sarana pengembangan UMKM, tetapi juga ruang kolaborasi masyarakat dalam memperkuat ekonomi lokal, melestarikan budaya Minangkabau, serta membangun ekosistem kreativitas yang berkelanjutan di tingkat nagari.

Sebagai informasi, pada tahap awal pengembangannya Pemprov Sumbar mengimplementasikan program Nagari Creative Hub melalui proyek percontohan di tiga nagari, yakni Nagari Sikalang di Kota Sawahlunto, Nagari Toboh Gadang Barat di Kabupaten Padang Pariaman, dan Nagari Pangian di Kabupaten Tanah Datar. (adpsb/bud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *