sumbar.relasipublik.com // Tanah Datar
Alek adat Batagak Gala dan Pati Ambalau yang mengusung tema “Mampaarek Nan Lungga, Mangumpuan Nan Taserak” menjadi momentum penting dalam memperkuat persatuan kaum, melestarikan adat Minangkabau, sekaligus mengukuhkan kembali peran penghulu sebagai pemimpin adat di tengah masyarakat. Kegiatan berlangsung di Jorong Panti, Nagari Rambatan, Kabupaten Tanah Datar, Sabtu (25/7), dan akan mencapai puncaknya pada Minggu (26/7).
Mengusung filosofi “Mampaarek Nan Lungga, Mangumpuan Nan Taserak” yang bermakna mempererat hubungan yang renggang serta menghimpun kembali yang tercerai-berai, alek adat ini tidak sekadar seremoni pengangkatan gelar adat. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi simbol kebangkitan nilai-nilai kebersamaan, musyawarah, dan persatuan kaum dalam menghadapi dinamika sosial yang terus berkembang.
Sebanyak 12 orang penghulu dari lima suku akan menerima gelar adat sebagai bentuk amanah kaum untuk memimpin, mengayomi, serta menjaga marwah adat di nagarinya.
Adapun para datuak yang akan dilewakan yakni:
- Adi Putra bergelar Dt. Rajo Dubalang
- Kapten Kav. (Purn) Syamsinir bergelar Dt. Alang Gumanti
- Yusbar bergelar Dt. Gindo Kayo
- Jones bergelar Dt. Palang Kayo
- Muhammad Salim bergelar Dt. Panghulu Sutan
- Getrizal bergelar Dt. Pandeka Sutan
- Dafrizal bergelar Dt. Monti Basa
- Harry Aldi bergelar Dt. Gindo Malano
- Edi Masrizon bergelar Dt. Rangkayo Batuah
- Zulfendri bergelar Dt. Jonang Sati
- Peni Arli bergelar Dt. Malin Panghulu
- Ali Amran bergelar Dt. Malin Kayo
Kedua belas penghulu tersebut berasal dari lima suku, yakni Mandaliko Tabek Patah, Mandaliko Tabek Budua, Mandaliko Batu Larang, Mandaliko Tabek Gadang, dan Sumagek Kapalo Koto.
Ketua Panitia Pelaksana, Kapten Kav. (Purn) Syamsinir Dt. Alang Gumanti, menegaskan bahwa Batagak Gala bukan hanya prosesi pemberian gelar, tetapi merupakan momentum memperkokoh tali persaudaraan seluruh anggota kaum yang selama ini mungkin terpisah oleh kesibukan maupun jarak.
“Filosofi Mampaarek Nan Lungga, Mangumpuan Nan Taserak menjadi semangat utama kegiatan ini. Kami ingin alek adat ini menjadi ruang untuk mempererat kembali silaturahmi, memperkuat persatuan kaum, sekaligus menghidupkan nilai-nilai adat yang diwariskan para ninik mamak terdahulu,” ujarnya.
Ia menambahkan, penghulu yang akan dikukuhkan memikul tanggung jawab besar sebagai pemimpin adat. Gelar yang disandang bukan sekadar kehormatan, melainkan amanah untuk menjaga marwah kaum, menyelesaikan persoalan secara bijaksana, serta menjadi teladan dalam kehidupan bermasyarakat.
Menurutnya, keberhasilan penyelenggaraan alek adat tersebut merupakan hasil gotong royong seluruh unsur kaum, ninik mamak, bundo kanduang, pemuda, serta perantau yang memberikan dukungan demi suksesnya kegiatan.
“Kami berharap Batagak Gala ini menjadi titik awal semakin kokohnya persatuan kaum dan semakin kuatnya komitmen bersama dalam menjaga adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Adat harus tetap hidup dan menjadi pedoman bagi generasi yang akan datang,” katanya.
Rangkaian kegiatan akan berlanjut pada Minggu (26/7) sebagai acara puncak dengan prosesi adat Batagak Gala dan Pati Ambalau yang diperkirakan dihadiri ninik mamak, tokoh masyarakat, bundo kanduang, perantau, serta undangan dari berbagai daerah.
Alek adat tersebut diharapkan tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Jorong Panti dan Nagari Rambatan, tetapi juga menjadi contoh nyata bahwa pelestarian adat Minangkabau tetap relevan sebagai perekat persatuan, identitas, dan kekuatan sosial masyarakat di tengah arus modernisasi(d13)













