Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Kabupaten Solok

Ny. Kurniati Terpaku Lihat Keringat Calon Paskibraka Solok: “Naluri Seorang Ibu Langsung Bergetar”

6
×

Ny. Kurniati Terpaku Lihat Keringat Calon Paskibraka Solok: “Naluri Seorang Ibu Langsung Bergetar”

Sebarkan artikel ini
Foto : istimewa Relasipublik.com

Solok, Relasipublik.com — Minggu pagi biasanya menjadi waktu masyarakat berolahraga dan menjaga kebugaran. Namun, suasana berbeda terasa di kawasan GOR Batu Batupang, Kotobaru, Kabupaten Solok, Minggu (9/8/2026).

Kegiatan Solok Sehat yang rutin digelar setiap Minggu pagi itu mendadak menjadi panggung kecil yang memperlihatkan sisi lain perjuangan generasi muda Kabupaten Solok.

Ketua TP-PKK Kabupaten Solok, Ny. Kurniati Jon Firman Pandu, S.Si., M.Si., mendapat sambutan tak biasa dari 60 siswa calon Pasukan Pengibar Bendera (Paskibraka) yang tengah menjalani masa karantina dan Training Center.

Begitu tiba di area parkir GOR Batu Batupang, Ny. Kurniati langsung dikelilingi para calon Paskibraka. Dengan seragam olahraga yang serasi, para siswa membentuk formasi dan memberikan penghormatan khas Paskibraka.

Gerakan itu berlangsung spontan, tetapi tetap rapi dan penuh disiplin.

Sesaat kemudian, suasana latihan yang biasanya serius berubah menjadi lebih cair. Para calon Paskibraka mengiringi Ny. Kurniati jogging mengelilingi lintasan GOR Batu Batupang sebelum bersama-sama mengikuti senam sehat.

Namun, bagi Ny. Kurniati, pagi itu bukan sekadar aktivitas olahraga.

Ada sesuatu yang lebih dalam ia lihat dari para siswa tersebut: keringat, kelelahan, disiplin, sekaligus keteguhan hati anak-anak muda yang sedang ditempa untuk mengemban tugas kebangsaan.

Keringat yang Membuat Hati Seorang Ibu Bergetar

Kepada Expos Sumbar, Ny. Kurniati mengaku terpaku melihat wajah para calon Paskibraka.

Sebagian wajah mereka tampak lelah. Kulit mulai menggelap karena harus berlatih di bawah terik matahari. Namun, semangat mereka tidak ikut surut.

Justru dari situlah ia melihat sebuah proses pembentukan karakter.

“Keringat yang mengalir deras dan menetes di dagu mereka, secara spontan naluri seorang ibu melihat anaknya seperti itu langsung membuat hati saya bergetar,” ujar Ny. Kurniati.

Ia mengaku beberapa kali tidak mampu mengalihkan pandangan dari wajah para siswa.

Bagi seorang ibu, melihat anak-anak muda menjalani latihan fisik yang berat tentu menghadirkan rasa haru. Tetapi di balik rasa haru itu, Ny. Kurniati melihat sebuah proses panjang yang diyakininya akan memberi pengaruh terhadap kehidupan para siswa.

Mereka bukan sekadar sedang berlatih untuk berdiri tegak di hadapan tiang bendera.

Mereka sedang belajar tentang bagaimana menghadapi rasa lelah, menahan diri, mematuhi aturan, bekerja dalam tim dan tetap bertahan ketika kondisi fisik mulai menuntut untuk berhenti.

17 Hari Menempa Mental dan Karakter

Sebanyak 60 calon Paskibraka tersebut berasal dari berbagai kecamatan di Kabupaten Solok. Mereka kini menjalani masa karantina selama 17 hari sebagai bagian dari persiapan menghadapi tugas pengibaran bendera pada Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Masa karantina menjadi fase penting dalam proses pembinaan.

Latihan baris-berbaris, aktivitas fisik, kedisiplinan waktu hingga pembentukan mental menjadi bagian dari keseharian mereka.

Ny. Kurniati memahami bahwa proses tersebut tidak mudah.

“Latihan ini memang berat, disiplin yang diterapkan juga keras dan intensitas fisiknya tinggi. Tetapi semua itu adalah proses untuk membentuk mereka menjadi pribadi yang lebih disiplin,” tuturnya.

Menurutnya, menjadi Paskibraka tidak boleh dimaknai sebatas kemampuan melakukan gerakan baris-berbaris atau menjalankan tugas pada momentum peringatan kemerdekaan.

Ada nilai yang jauh lebih besar yang harus dibawa pulang oleh setiap peserta.

Bukan Sekadar Paskibraka, Tetapi Bekal Masa Depan

Ny. Kurniati berharap pengalaman selama masa karantina tidak berhenti ketika tugas pengibaran bendera selesai.

Justru setelah kembali ke lingkungan keluarga dan sekolah, nilai kedisiplinan yang mereka dapatkan diharapkan tetap melekat.

“Anak-anak ini bukan hanya sedang dilatih menjadi Paskibraka. Mereka sedang ditempa untuk menghadapi masa depan yang penuh tantangan. Mudah-mudahan apa yang mereka jalani selama karantina ini menjadi bekal dalam menentukan pola hidup dan prinsip hidup ke depan,” ungkapnya.

Pesan tersebut menjadi penting karena masa muda adalah fase ketika karakter seseorang sedang dibentuk.

Rasa lelah yang mereka rasakan hari ini mungkin hanya berlangsung beberapa pekan. Namun, disiplin, tanggung jawab, ketahanan mental dan kemampuan bekerja dalam tim yang diperoleh selama proses tersebut dapat menjadi modal yang jauh lebih panjang manfaatnya.

Ketika Olahraga Bertemu Perjuangan Generasi Muda

Kehadiran para calon Paskibraka dalam kegiatan Solok Sehat akhirnya menghadirkan sebuah gambaran sederhana tentang bagaimana olahraga dapat menjadi ruang untuk membangun karakter.

Di satu sisi, masyarakat Kabupaten Solok hadir untuk menjaga kesehatan melalui jogging dan senam bersama.

Di sisi lain, puluhan pelajar tengah menjalani proses keras untuk mempersiapkan diri membawa nama daerah dalam tugas kebangsaan.

Pertemuan keduanya berlangsung dalam suasana sederhana di lintasan GOR Batu Batupang.

Namun, pagi itu menyisakan pesan yang jauh lebih besar.

Ada keringat yang harus dibayar dengan ketekunan. Ada rasa lelah yang harus dilawan dengan disiplin. Dan ada proses panjang yang harus dijalani sebelum seorang anak muda dipercaya berdiri membawa simbol kehormatan bangsa.

Bagi Ny. Kurniati, setiap tetes keringat para calon Paskibraka adalah bagian dari perjalanan berharga.

Sedangkan bagi Kabupaten Solok, 60 siswa tersebut bukan hanya calon pengibar bendera.

Mereka adalah generasi muda yang sedang dipersiapkan untuk menjadi pribadi yang tangguh, disiplin dan siap menghadapi masa depan. (A3)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *