Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
BERITA UTAMATERBARU

Jalan Poros Kangean Rusak Parah, Warga Menjerit: Ibu Hamil Melahirkan di Jalan Meninggal Sebelum Tiba di Rumah Sakit

1
×

Jalan Poros Kangean Rusak Parah, Warga Menjerit: Ibu Hamil Melahirkan di Jalan Meninggal Sebelum Tiba di Rumah Sakit

Sebarkan artikel ini

Sumenep – Kondisi jalan poros penghubung Desa Pajanangger, Gelaman, Songlor, Kalinganyar hingga menuju pusat Kecamatan Arjasa, Kabupaten Sumenep, kembali memantik sorotan tajam masyarakat. Jalur sepanjang kurang lebih 22 kilometer yang menjadi urat nadi kehidupan ribuan warga itu kini mengalami kerusakan parah, terutama pada ruas sekitar 7 kilometer yang disebut warga sebagai titik paling kritis dan nyaris tak layak dilalui.

Menurut Kepala Desa Pajanangger, Suhrawi, kerusakan paling parah berada di akses penghubung antara Desa Pajanangger menuju Gelaman dan wilayah sekitarnya. Ia menegaskan bahwa pemerintah desa bersama masyarakat telah berupaya melakukan kolaborasi dan gotong royong demi mencari solusi sementara agar akses tersebut tetap bisa dilalui.

“Jalan yang paling parah sekitar tujuh kilometer. Kami bersama masyarakat Desa Pajanangger dan Desa Gelaman terus berkolaborasi agar jalan ini bisa diperbaiki bersama,” ujar Suhrawi.

Jalan tersebut bukan sekadar akses biasa. Bagi masyarakat Kepulauan Kangean, jalur itu adalah satu-satunya akses darat utama yang menghubungkan sejumlah desa menuju pusat layanan kesehatan, pendidikan, pemerintahan, dan distribusi kebutuhan pokok. Tidak adanya jalur alternatif membuat warga terpaksa bertahan melewati jalan rusak tersebut setiap hari, meski risikonya sangat tinggi.

Ironisnya, kerusakan jalan kini tidak lagi sekadar berdampak pada ekonomi dan aktivitas sosial masyarakat, melainkan telah menyentuh persoalan kemanusiaan dan keselamatan jiwa.

Perwakilan warga yang menyampaikan aspirasi masyarakat mengungkapkan bahwa banyak tragedi terjadi akibat sulitnya akses transportasi menuju rumah sakit. Beberapa ibu hamil bahkan disebut terpaksa melahirkan di tengah perjalanan karena ambulans dan kendaraan sulit melintasi jalan berlubang dan berlumpur.

“Yang paling membuat kami sedih, banyak ibu hamil yang hendak dirujuk ke rumah sakit justru melahirkan di jalan. Warga sakit juga banyak yang kondisinya semakin parah saat perjalanan. Bahkan ada yang meninggal dunia setelah tiba di rumah sakit karena terlalu lama di perjalanan akibat jalan rusak,” ungkapnya dengan nada pilu.

Warga menilai penderitaan yang mereka alami selama ini seolah luput dari perhatian serius. Padahal, berbagai upaya komunikasi telah dilakukan, mulai dari koordinasi dengan pemerintah kecamatan, aparat kepolisian, hingga perangkat desa agar persoalan tersebut segera mendapatkan penanganan konkret.

Namun hingga kini, kondisi jalan disebut belum mengalami perubahan berarti.

Lebih memprihatinkan lagi, warga menyebut kondisi yang tampak dalam dokumentasi video yang beredar sebenarnya belum menggambarkan situasi terburuk di lapangan. Pada beberapa titik di wilayah yang lebih terpencil, kerusakan jalan disebut jauh lebih ekstrem, dipenuhi lubang dalam, lumpur, dan bebatuan tajam yang membahayakan pengendara.

“Kalau di video itu masih agak mendingan. Di ruas yang lebih dalam kondisinya benar-benar minta ampun. Sudah bukan jalan yang layak dilalui manusia, tapi kami tidak punya pilihan lain selain melewati jalan ini,” lanjut warga tersebut.

Setiap hari, akses itu dilalui anak-anak sekolah, warga yang membawa hasil pertanian, kendaraan pengangkut sembako, pasien darurat, hingga ibu hamil yang membutuhkan pertolongan medis cepat. Akibatnya, biaya transportasi meningkat, kendaraan cepat rusak, dan risiko kecelakaan terus menghantui masyarakat.

Warga kini berharap pemerintah daerah maupun pihak terkait segera turun tangan sebelum jatuh korban lebih banyak. Mereka meminta adanya langkah nyata berupa pengalokasian anggaran dan percepatan pembangunan jalan demi menghentikan penderitaan masyarakat kepulauan yang selama ini terisolasi oleh infrastruktur rusak.

“Kami hanya ingin jalan ini segera diperbaiki. Kami ingin penderitaan masyarakat berakhir. Jangan sampai korban jiwa terus bertambah hanya karena akses jalan yang rusak. Kami mohon pemerintah mendengar jeritan masyarakat kecil di kepulauan,” pungkasnya.

Di tengah kerasnya medan dan sunyinya perhatian, masyarakat Kangean kini hanya menggantungkan harapan pada satu hal sederhana: jalan yang layak untuk hidup yang lebih manusiawi.(@red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *