Kenapa SR terbesar di Indonesia berlokasi di Tanjung Alam? Jawabannya tidak jatuh dari langit. Ada mimpi di baliknya. Semua anak Minang yang merantau selalu punya mimpi untuk keluarga dan kampung halamannya. Putera asli nagari tersebut, Dony Oskaria membawa mimpinya jadi kenyataan.
“Beliau punya mimpi menjadikan nagari asalnya, Tanjung Alam sebagai desa yang sejahtera,” kata Ketua DPRD Tanah Datar, Anton Yondra di Tanjung Alam, Sabtu (8/8/26). Menurut Anton, Dony lahir dan tumbuh di kampungnya itu. “Waktu itu tak ada TK di sini, sekarang ada,” kata dia pula.
SR itu berdiri di atas tanah 23 hektare. Tidak ada sekolah di Sumbar dengan kampus seluas itu. Bandingkan kampus UNP Air Tawar yang menampung puluhan ribu mahasiswa hanya sekitar 34 hektare. Sebuah sekolah rakyat, kampusnya sekelas universitas. Tanahnya dari keluarga besar Dony Oskaria. Perai untuk sekolah.
Tanah itu punya kisahnya sendiri. Dari 543 nagari induk di Sumatera Barat, hanya 219 yang masih memiliki tanah ulayat. Sisanya sudah beralih jadi tanah negara, dilepas ke investor lewat HGU, lalu hilang begitu HGU habis. “Hanya 219 saja lagi nagari yang punya tanah ulayat,” kata Prof. Kurnia Warman, ahli tanah ulayat Universitas Andalas. Di tengah arus itu, Tanjung Alam berlawanan jalan. Ulayatnya lepas bukan ke kebun sawit, melainkan ke bangku sekolah anak miskin. Prosesnya pun tidak main serobot. Musyawarah adat bajanjang naiak, batanggo turun, melibatkan niniak mamak, kaum dan warga pemilik ulayat, sampai mufakat. Legalitas adat berjalan seiring hukum negara. Bersih, tanpa konflik.
Dony Oskaria lahir dan dibesarkan di Gantiang Bawah, Tanjung Alam. Masa kecilnya masa kanak-kanak desa, main bola, main-main ke sawah, mengaji dan tidur di surau. Juga malala kian kemari dalam nagari bahkan ke bukit-bukit. Di SD depan rumahnya, yang pagi untuk SD dan sore untuk anak PGA, ia selalu jadi ketua kelas dan juara satu. “Tidak bisa kami mengalahkannyo doh,” kata Erman, kawan sekelasnya dulu, kini
Sekretaris Kecamatan Tanjung Baru. Kelas IV Dony pindah sekolah ke Padang, lalu merantau jauh dan memikul amanah besar di Jakarta. Tapi, sejauh apa pun rantau, kampung tidak pernah lepas dari ingatannya.
Mimpi itu kini menemukan jalannya. Sekolah Rakyat berdaya tampung 3.000 siswa dibangun di kampung halamannya dengan investasi Rp1,5 triliun. SD tua tempat ia belajar dulu masih awet, namun gulma sudah tumbuh di halamannya. Tak jauh dari situ, sekolah triliunan rupiah sedang berdiri. Bagi Dony, SR bukan sekadar bangunan. SR adalah pintu memutus rantai kemiskinan. “Ini untuk memutus rantai anak kelompok rentan agar bisa bersekolah seperti yang lain. Negara mesti hadir untuk anak bangsa,” kata Dony.
Sekolah Rakyat adalah program Presiden Prabowo untuk anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Semua gratis. Pendidikan, asrama, makan, seragam, buku, layanan kesehatan, ditanggung negara. Secara nasional 166 titik SR sudah beroperasi di 34 provinsi, menampung hampir 16 ribu siswa.
Targetnya 200 titik pada 2027. Dan yang terbesar dari semuanya, dibangun di Nagari Tanjung Alam, Tanah Datar.
Angka Rp1,5 triliun itu perlu diletakkan dalam timbangan. Dalam sepuluh tahun terakhir, uang sebesar itu di satu titik di Sumatera Barat bisa dihitung dengan jari. Pabrik Indarung VI Semen Padang Rp4 triliun, beroperasi 2017. Tol Padang-Sicincin hampir Rp10 triliun. Panas bumi Muara Laboh di Solok Selatan bertriliun-triliun pula. Hanya itu. Semuanya semen, jalan dan perut bumi. Belum pernah sekali pun uang sebesar itu ditanam untuk pendidikan. Baru kali ini.
Tanjung Alam akan jadi kota kecil. Bukan soal gemerlap lampu kala malam. Ini tentang uang yang berputar. Penduduk nagari itu 9 ribu jiwa, murid SR 3.000 orang. Nah, kehidupan peserta didik dijamin pemerintah.
Mantunlah, Tanjung Alam dekat ke Batusangkar, dekat pula ke Payakumbuh, juga Bukittinggi. Akan jadi titik pertumbuhan baru yang diapit tiga kota tadi.
Uang sebesar itu tidak berhenti di pagar sekolah. Sekolah berasrama dengan 3.000 siswa hidup 24 jam. Dapurnya menyiapkan 9.000 porsi sehari. Berasnya hampir satu ton per hari, telurnya 3.000 butir sehari, ayam dan ikan berton-ton sebulan. Belanja dapur saja Rp3 sampai 4 miliar sebulan. Ditambah gaji 400 sampai 500 guru dan tenaga pendukung, belanja seribu keluarga penjenguk tiap akhir pekan, jasa cukur, laundry sampai fotokopi, putaran uangnya Rp5 miliar sebulan atau Rp55 sampai 70 miliar setahun. Angka itu sebanding dengan APBDes puluhan desa. Petani, peternak, pedagang pasar sampai tukang ojek kebagian. Satu sekolah, seribu periuk nasi.
Dony sekali pulang, membawa buah tangan jumbo. Ia juga akan membuat “taman hutan” sebagai obyek wisata di lahan seluas 15 hektare. Lokasinya sehamparan dengan SR. Ini akan jadi ikon wisata Sumbar beberapa tahun lagi.
Masjid, pasar, kantor walinagari dan kantor KAN juga segera dipermak. Lapangan bola kaki, basket, badminton akan dibangun pula. Segeh luar biasa nagari tersebut nanti. Apa yang ia lakukan bukan untuk ria, namun kecintaan pada kampung halaman semata. Kalau untuk kesenangan hati, ia sudah punya banyak hal.
Orang Minang berpasal, satinggi-tinggi tabang bangau, suruiknyo ka kubangan juo. Sang ketua kelas yang dulu jalan kaki ke Tabek Patah itu kini pulang. Membawa sekolah, membawa hadiah, rimba jadi taman hutan nan rancak. Membawa roda ekonomi. Berputarlah. Itulah efek domino SR. (kj)













