Sumenep — Riuh belum reda, justru mengeras. Di tengah gugatan yang dilayangkan PERSSU, Turnamen ASKURI Hamsani Cup 2026 di Kecamatan Arjasa, Kepulauan Kangean, tak bergeming. Panitia angkat suara—tegas, terukur, dan menolak seluruh tuduhan ilegalitas yang beredar.
Ketua panitia menegaskan, turnamen ini tidak berdiri di ruang abu-abu. Semua prosedur, dari administrasi hingga teknis pertandingan, disebut telah dipenuhi sesuai ketentuan resmi.
“Tidak benar jika disebut ilegal. Turnamen ini berjalan sesuai prosedur dan telah mengantongi izin resmi dari pihak terkait,” ujarnya, mematahkan spekulasi yang kian liar.
Gugatan PERSSU sebelumnya memuat sejumlah tudingan serius: ketiadaan izin, perubahan jadwal sepihak, hingga penggunaan perangkat pertandingan yang dianggap tak sesuai rekomendasi. Namun panitia membalas dengan data dan klaim yang tak kalah tegas.
Mereka merinci: izin penyelenggaraan telah dikantongi melalui ASKAB PSSI Kabupaten Sumenep, pengamanan kegiatan mendapat restu dari Polsek Kangean, dan seluruh perangkat pertandingan—wasit hingga hakim garis—memiliki lisensi resmi. Dengan kata lain, fondasi turnamen ini disebut berdiri di atas aturan, bukan asumsi.
Soal perubahan jadwal, panitia menyebutnya sebagai dinamika teknis yang lumrah dalam penyelenggaraan kompetisi. Bukan pelanggaran, melainkan penyesuaian situasional yang masih dalam koridor regulasi.
Turnamen yang digelar sepanjang 2026 ini bukan sekadar kompetisi. Ia menjadi denyut pembinaan sepak bola lokal di Kepulauan Kangean—melibatkan klub-klub daerah dan menghidupkan gairah olahraga masyarakat. Menghentikannya tanpa verifikasi utuh, menurut panitia, sama saja memutus nadi pembinaan yang sedang tumbuh.
Di titik ini, sikap panitia jelas: kompetisi tetap berjalan, sembari membuka pintu selebar-lebarnya untuk klarifikasi. Mereka menyatakan siap duduk satu meja dengan pihak penggugat maupun Askab PSSI Sumenep guna meluruskan polemik.
“Kami menghormati proses yang berjalan, tetapi jangan sampai opini liar menggiring persepsi publik. Sepak bola ini ruang pembinaan, bukan arena saling menjatuhkan,” tegasnya.
Nada serupa datang dari Uuk. Ia menilai penghentian turnamen tanpa dasar hukum yang jelas justru berisiko merugikan banyak pihak—dari pemain hingga masyarakat luas. Dalam pandangannya, semangat sportivitas tak boleh kalah oleh tarik-menarik kepentingan.
Uuk meyakini turnamen akan tetap bergulir sesuai jadwal, sembari memberi ruang bagi siapa pun yang merasa dirugikan untuk menempuh jalur klarifikasi.
“Sepak bola ini milik masyarakat. Jangan dikaburkan oleh isu yang tidak berdasar. Kami berdiri di atas aturan,” tutupnya.(@red).












