PESISIR SELATAN — Inovasi pertanian yang dikembangkan masyarakat Kabupaten Pesisir Selatan mulai menarik perhatian daerah lain. Salah satunya Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, yang datang langsung ke Pesisir Selatan untuk mempelajari penerapan Mulsa Tanpa Olah Tanah (MTOT) dan Sawah Pokok Murah (SPM), Selasa (11/8/2026).
Kunjungan tersebut berlangsung selama tiga hari, 11–13 Agustus 2026. Selain menjadi ajang pembelajaran, kegiatan ini juga menjadi ruang pertukaran pengalaman mengenai inovasi pertanian yang dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing daerah.
Dalam agenda tersebut, Pemerintah Kabupaten TTU membawa pengalaman mengenai pemanfaatan EcoEnzyme sebagai salah satu pendekatan untuk mendukung pengembangan pertanian berkelanjutan.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan memperkenalkan sejumlah praktik pertanian yang telah dikembangkan di wilayahnya, khususnya MTOT dan SPM yang diterapkan bersama masyarakat.
Rombongan Pemkab TTU berjumlah sekitar 23 orang dan dipimpin Kepala Dinas Pertanian Kabupaten TTU, Chairel Malelak. Rombongan juga didampingi Tim GIZ-SSTC Pusat, GIZ Provinsi, serta LP2M Provinsi Sumatera Barat.
Kedatangan rombongan disambut Kepala Bapperida Kabupaten Pesisir Selatan, Subchandri, S.E., M.Si., di Aula Mandeh Lantai II Bapperida Kabupaten Pesisir Selatan.

Subchandri menyampaikan bahwa pertukaran pengetahuan antardaerah merupakan kesempatan penting untuk memperluas wawasan sekaligus mencari solusi atas berbagai tantangan pembangunan pertanian.
Menurutnya, setiap daerah memiliki karakteristik, potensi, serta persoalan yang berbeda. Karena itu, pengalaman dari satu daerah dapat menjadi referensi bagi daerah lain setelah disesuaikan dengan kondisi setempat.
“Semoga pertemuan ini menjadi ruang untuk berbagi cerita dari daerah masing-masing, termasuk masalah, kendala dan inovasi, sehingga dapat ditemukan solusi yang memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat,” ujar Subchandri.
Ia menegaskan, pembelajaran dalam kegiatan tersebut tidak berhenti pada diskusi di dalam ruangan. Para peserta juga diajak melihat langsung penerapan inovasi pertanian di lapangan sehingga dapat memperoleh gambaran yang lebih nyata.
Pembelajaran lapangan tersebut didampingi Sekretariat SDGs Kabupaten Pesisir Selatan. Delegasi TTU berkesempatan berinteraksi dengan pemerintah nagari maupun petani yang telah menerapkan inovasi pertanian di wilayahnya.
Salah satu inovasi yang menjadi perhatian adalah Mulsa Tanpa Olah Tanah atau MTOT. Teknologi tersebut dinilai memiliki potensi dalam membantu petani menghemat penggunaan air sekaligus mengurangi kebutuhan pengolahan lahan.
Hal tersebut menjadi relevan bagi Kabupaten TTU yang memiliki karakteristik geografis dan musim kering yang lebih panjang. Kondisi tersebut membuat inovasi pertanian yang mampu meningkatkan efisiensi penggunaan air menjadi salah satu kebutuhan penting.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pesisir Selatan, Hamdi, menjelaskan bahwa penerapan MTOT dapat menghasilkan produksi sedikitnya lima ton per hektare dengan memanfaatkan bahan-bahan alami sebagai pendukung budidaya.
“MTOT merupakan salah satu inovasi yang terus kita dorong karena dapat membantu petani mengelola lahan dengan lebih efisien. Bahan yang digunakan juga dapat berasal dari sumber yang mudah diperoleh, seperti pupuk kandang dan cangkang telur,” jelas Hamdi.
Menurut Hamdi, penerapan metode tersebut juga memiliki manfaat dalam menekan kebutuhan air dan penggunaan pupuk. Efisiensi tersebut menjadi salah satu aspek yang menarik untuk dipelajari oleh daerah yang menghadapi keterbatasan sumber daya air.
Setelah mendapatkan penjelasan mengenai MTOT, rombongan kemudian melanjutkan pembelajaran lapangan ke Nagari Sungai Gayo Lumpo. Di nagari tersebut, delegasi melihat secara langsung penerapan Sawah Pokok Murah yang dikembangkan masyarakat.
Kunjungan tersebut dimanfaatkan peserta untuk berdialog langsung dengan pemerintah nagari dan petani. Mereka mendapatkan penjelasan mengenai proses penerapan inovasi, mulai dari tahapan budidaya hingga hasil yang telah diperoleh.
Wali Nagari Sungai Gayo Lumpo bersama champion pertanian, Dharmini, turut memberikan pemaparan mengenai pelaksanaan Sawah Pokok Murah di wilayah tersebut.
Penerapan SPM di Nagari Sungai Gayo Lumpo diketahui telah memasuki panen kedelapan. Konsistensi penerapan inovasi tersebut menjadi salah satu hal yang menarik perhatian delegasi TTU.
Pada panen perdana, penerapan Sawah Pokok Murah disebut mampu meningkatkan hasil produksi hingga sekitar 2,5 kali lipat dibandingkan metode konvensional. Capaian tersebut menjadi pengalaman yang dinilai penting untuk dipelajari dan disesuaikan dengan kondisi daerah lain.
Selain mengejar peningkatan produktivitas, penerapan SPM juga diarahkan pada pengembangan budidaya yang lebih ramah lingkungan. Pendekatan tersebut sejalan dengan kebutuhan pertanian masa kini yang tidak hanya berorientasi pada hasil produksi, tetapi juga mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan.

Bagi Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan, kunjungan Pemkab TTU menjadi bentuk nyata bahwa inovasi yang lahir dari masyarakat dapat menjadi sumber pembelajaran bagi daerah lain.
Subchandri menilai, pertukaran pengalaman seperti itu perlu terus dikembangkan karena pembangunan pertanian tidak harus menggunakan pola yang sama di setiap daerah. Inovasi dapat dikembangkan melalui proses berbagi pengalaman dan penyesuaian terhadap karakteristik wilayah.
“Yang kita harapkan bukan hanya kunjungan, tetapi ada pengetahuan yang bisa dibawa pulang dan dikembangkan sesuai kondisi daerah masing-masing. Begitu juga Pesisir Selatan dapat belajar dari pengalaman TTU,” katanya.
Melalui kegiatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan berharap jejaring kerja sama antardaerah dalam pengembangan pertanian berkelanjutan semakin kuat. Inovasi MTOT dan Sawah Pokok Murah diharapkan dapat terus dikembangkan, sementara pengalaman TTU dalam pemanfaatan EcoEnzyme juga dapat menjadi inspirasi bagi Pesisir Selatan.
Pertukaran pengetahuan antara Pesisir Selatan dan Timor Tengah Utara menunjukkan bahwa inovasi pertanian dapat bergerak melampaui batas wilayah. Dari pengalaman petani di Pesisir Selatan hingga praktik pertanian di TTU, setiap daerah memiliki pengetahuan yang dapat dipelajari dan dikembangkan bersama.
Kolaborasi tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya mendorong pertanian yang lebih adaptif terhadap perubahan lingkungan, efisien dalam penggunaan sumber daya, serta mampu meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani. (Adv/Kominfo)













