PASAMAN, RELASI PUBLIK – Tidak banyak pemilik usaha yang memiliki kesadaran untuk mengikutsertakan karyawannya ke dalam program perlindungan sosial yang diselenggarakan oleh lembaga pemerintah.
Di antara yang tidak banyak itu terdapat nama Syafrizal, pemilik depot air minum isi ulang 789 RO yang berlokasi di Jalan Prof. Hamka Nomor 194 Lubuk Sikaping, ibukota Kabupaten Pasaman
Memiliki 25 karyawan dari semua devisi, Zal –panggilan akrab Syafrizal– sudah sejak lama mengikutsertakan semua karyawannya ke dalam program BPJS Ketenagakerjaan. “Sudah sekitar 10 tahun yang lalu,” kenangnya.
Ditemui di depotnya, Sabtu (19/9/2026), Zal mengungkapkan keputusannya mengikutsertakan seluruh karyawan dalam program BPJS Ketenagakerjaan murni karena kemauan pribadi dan kesadaran sendiri.
“Tidak ada yang mendorong, apalagi memaksa,” tambah Zal. “Karena saya melihat program ini menawarkan banyak keuntungan, baik material atau pun non material, baik untuk saya maupun para karyawan,” ucapnya.
Dikisahkan Zal, bila dalam aktivitas sehari-hari para karyawan dalam mendukung operasional usaha dihadapkan dengan kondisi-kondisi tertentu, pihaknya tidak pusing untuk mencari biaya penanganannya.
“Semisalnya ada yang terluka atau mengalami jenis kecelakaan kerja lainnya,; soal pembiayaan penanganannya sudah ditanggung sepenuhnya oleh BPJS Ketenagakerjaan,” ungkapnya.
“Tidak ada yang menghendaki untuk terjadinya peristiwa-peristiwa di luar dugaan,”:katanya. “Tapi bila peristiwa di luar dugaan itu datang menimpa, siapa pula yang bisa mengelak.
Kalau kemudian Zal mendaftarkan seluruh karyawannya untuk ikut program BPJS Ketenagakerjaan, menurut Zal, pada dasarnya ia melakukan pemindahan beban.
Bila tidak ikut program, sementara terjadi peristiwa di luar dugaan, pembiayaannya akan menjadi beban pemilik usaha. “Dengan ikut program, beban pembiayaan itu akan menjadi tanggung jawab BPJS Ketenagakerjaan.
Zal mengaku tidak mengeluarkan uang yang terlalu banyak setiap bulan untuk membayar premi kepesertaan seluruh karyawannya di BPJS Ketenagakerjaan. “Tidak terlalu banyak,” katanya tanpa merinci lebih jauh.
Selain mendapat keuntungan material berupa terbebas dari beban biaya bila ada di antara karyawan dihadapkan dengan kondisi-kondisi tertentu, Zal mengklaim keuntungan non-material jauh lebih besar lagi.
“Jujur, hari-hari saya merasa tenang dalam mengelola usaha,” tandasnya. “Tidak ada yang perlu dicemaskan karena sudah ada BPJS Ketenagakerjaan yang memback-up bila dihadapkan dengan kondisi darurat,” ungkapnya.
Mengutamakan Kualitas
Sudah tergolong lama beroperasi dan masih bertahan sampai saat ini, Zal mengaku kunci yang tetap ia pegang teguh dalam mengelola usaha adalah mengutamakan kualitas.
“Dalam soal kualitas, saya tidak mau bermain-main,” katanya. Buktinya, ungkap Zal, secara berkala produk yang dihasilkan usaha itu diperiksa oleh laboratorium Diskes Pasaman sebelum diedarkan ke masyarakat.
“Sekali kita lalai menjaga kualitas, taruhannya sangat mahal,” ungkap Zal. “Bisa-bisa orang seumur hidup tidak percaya lagi dengan produk yang kita pasarkan,” tambahnya.
Zal juga tidak mengabaikan kesejahteraan para karyawannya. “Bila para karyawan mendapatkan kesejahteraan yang cukup, dipastikan mereka akan berbuat yang terbaik untuk kepentingan usaha ini,” tutupnya. (spa)













