sumbar.relasipublik.com // Jakarta
Jarak antara rantau dan kampung halaman ternyata tak pernah cukup kuat untuk memutus tali persaudaraan. Semangat itulah yang terasa dalam Silaturahmi Akbar Ikatan Keluarga Lintau Buo (IKLB) IX Koto Jabodetabek yang digelar di Lantai 3 Gedung Swasana BRIN Thamrin Convention Hall, Jakarta Pusat, Minggu (19/7/2026).
Mengusung tema “Manjopuik Raso, Merawat Silaturahmi, Basamo Kito Mambangun Nagari”, kegiatan tersebut bukan sekadar ajang berkumpulnya para perantau. Lebih dari itu, silaturahmi menjadi ruang untuk memperkuat solidaritas, menjaga identitas budaya sekaligus meneguhkan komitmen bersama membangun kampung halaman.
Ratusan perantau asal Lintau IX Koto yang berdomisili di Jabodetabek hadir bersama tokoh masyarakat, niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang, pemuda hingga unsur pemerintahan nagari.
Bupati Tanah Datar Eka Putra yang hadir langsung memberikan apresiasi terhadap kekompakan masyarakat Lintau IX Koto, baik yang berada di ranah maupun di rantau.
Menurutnya, soliditas masyarakat menjadi modal penting dalam menghadapi berbagai persoalan dan mendorong pembangunan daerah.
“Silaturahmi akbar ini menjadi bukti bahwa hubungan persaudaraan masyarakat Lintau IX Koto, baik yang berada di ranah maupun di perantauan, tetap terjalin erat. Atas nama pribadi dan Pemerintah Kabupaten Tanah Datar, saya menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi. Dengan menjaga kekompakan dan kebersamaan, tidak ada persoalan yang tidak dapat kita selesaikan bersama,” ujar Eka Putra.
Bupati juga menyoroti keterlibatan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) asal Lintau IX Koto dalam kegiatan tersebut.
Menurutnya, kehadiran produk kuliner khas daerah di tengah komunitas perantau bukan sekadar pelengkap acara, tetapi menjadi bagian dari strategi memperkenalkan sekaligus membuka pasar bagi produk masyarakat.
“Saya melihat banyak UMKM yang ikut berpartisipasi, mulai dari usaha sate, lontong, soto, lapek sarikayo hingga kerupuk kuah khas Lintau. Ini merupakan bentuk promosi yang sangat baik bagi produk-produk unggulan masyarakat kita,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Eka Putra juga memaparkan sejumlah capaian pembangunan Kabupaten Tanah Datar, termasuk langkah pemerintah daerah mempercepat pemulihan pascabencana yang dalam beberapa tahun terakhir melanda sejumlah wilayah.
Ia kemudian meminta doa dan dukungan masyarakat agar tetap diberikan kesehatan dan kekuatan dalam menjalankan amanah memimpin Tanah Datar.
Perantau Tak Sekadar Pulang, Tapi Membawa Pulang Harapan
Sementara itu, Dewan Penasehat IKLB IX Koto, Prof. Fasli Jalal, menegaskan besarnya kontribusi masyarakat rantau terhadap kemajuan kampung halaman.
Menurutnya, perhatian perantau selama ini tidak berhenti pada kegiatan sosial, tetapi mulai bergerak lebih jauh ke sektor ekonomi dan pendidikan.
Salah satu yang mendapat perhatian adalah perkembangan sentra tenun Lintau yang terus tumbuh berkat dukungan berbagai pihak, termasuk para perantau.
“Alhamdulillah, berkat dukungan tokoh-tokoh dan perantau kita, sentra tenun Lintau terus berkembang. Bahkan, informasi terakhir ada pengusaha dari Timur Tengah yang datang dan membeli produk tenun Lintau dalam jumlah cukup besar,” ungkap Fasli.
Menurutnya, perkembangan tersebut membuktikan bahwa produk lokal sebenarnya memiliki peluang besar menembus pasar yang lebih luas apabila dikelola secara serius dan mendapat dukungan bersama.
Tak hanya ekonomi, perhatian perantau juga diarahkan pada pendidikan. Fasli menyebut kontribusi masyarakat telah ikut mendorong berdirinya sebuah universitas di Lintau.
Ia berharap masyarakat tidak hanya mendukung secara moral, tetapi juga memberikan kepercayaan kepada perguruan tinggi tersebut untuk menjadi salah satu pilihan pendidikan bagi generasi muda.
“Mudah-mudahan dengan kekompakan dan kebersamaan yang terus terjaga, perekonomian masyarakat semakin maju dan mampu mendukung peningkatan kualitas pendidikan generasi muda di masa mendatang,” harapnya.
IKLB Perkuat Solidaritas dan Jaga Adat
Ketua IKLB IX Koto Jabodetabek, Pahlevi Dt. Rajo Lelo Angso, menegaskan bahwa silaturahmi akbar merupakan bagian dari upaya menjaga ikatan emosional masyarakat Lintau IX Koto di perantauan.
“Di perantauan inilah kita merasakan arti kebersamaan dan senasib sepenanggungan. Karena itu, melalui kegiatan ini kami berharap hubungan silaturahmi antarwarga Lintau IX Koto semakin erat,” ujarnya.
Ia mengatakan, IKLB selama ini juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial, terutama membantu sanak saudara yang tertimpa musibah maupun menghadapi kesulitan.
Namun, bagi IKLB, menjaga persaudaraan tidak cukup hanya dengan kegiatan sosial. Identitas budaya juga harus tetap hidup, terutama di tengah generasi muda yang lahir dan tumbuh jauh dari kampung halaman.
Karena itu, Silaturahmi Akbar turut dirangkai dengan prosesi adat Manjopuik Marapulai serta berbagai pertunjukan seni budaya Minangkabau.
“Kami ingin generasi muda yang lahir dan besar di rantau tetap mengenal, memahami, dan mencintai adat serta budaya Minangkabau,” tegas Pahlevi.
Ketua Panitia Bunda Rosi Syofyan menambahkan, suksesnya kegiatan merupakan buah dari kerja sama dan kekompakan seluruh unsur masyarakat Lintau IX Koto.
“Atas nama panitia, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi. Semoga kebersamaan yang terjalin dalam kegiatan ini membawa manfaat dan kebaikan bagi kita semua,” ujarnya.
Silaturahmi Akbar itu turut dihadiri Ny. Mufidah Jusuf Kalla, anggota DPRD Kabupaten Tanah Datar, Rektor UIN Mahmud Yunus Batusangkar, Ketua TP PKK Tanah Datar Ny. Lise Eka Putra, sejumlah kepala OPD Pemkab Tanah Datar, Camat Lintau Buo dan Lintau Buo Utara, wali nagari se-Lintau IX Koto, Ketua KAN, anggota BPRN, pelaku usaha, tokoh masyarakat, niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang, pemuda serta ratusan perantau asal Lintau IX Koto se-Jabodetabek.
Bagi masyarakat Lintau IX Koto, rantau bukanlah tanda berjaraknya seseorang dari kampung halaman. Justru dari rantau, kepedulian terhadap nagari terus dipupuk.
Sebab, sejauh apa pun kaki melangkah, kampung halaman tetap menjadi tempat raso dipulangkan dan nagari menjadi alasan untuk terus bersama membangun. (d13)













