sumbar.relasipublik.com // Tanah Datar
Kekayaan budaya Nagari di Kabupaten Tanah Datar tampil memukau pada pembukaan Festival Minangkabau 2026 di pelataran Istano Basa Pagaruyung, Kamis (25/6/2026). Mulai dari parade ratusan Baju Milik khas Nagari Padang Magek, tari kolosal, prosesi adat, hingga sajian kuliner tempo dulu sukses menyedot perhatian ribuan pengunjung sekaligus menegaskan Tanah Datar sebagai pusat pelestarian budaya Minangkabau.
Salah satu penampilan yang paling mencuri perhatian adalah parade sekitar 180 Baju Milik dari Nagari Padang Magek, Kecamatan Rambatan. Busana adat perempuan yang menjadi identitas masyarakat setempat itu tampil anggun dan menjadi magnet bagi para pengunjung yang berbondong-bondong mengabadikan momen melalui swafoto.
Baju Milik merupakan pakaian adat yang biasa dikenakan dalam berbagai upacara adat seperti batagak gala, pesta pernikahan, dan kegiatan adat lainnya. Keunikannya terletak pada perpaduan tangkuluak, baju hitam, rok hitam, selendang, ikat pinggang, serta kambuik bajaik, yang sarat makna filosofis.
Lebih dari sekadar busana, Baju Milik melambangkan falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK), sekaligus mencerminkan kokohnya adat Minangkabau yang “indak lakang dek paneh, indak lapuak dek hujan”—tetap lestari meski diterpa perubahan zaman.
Kemegahan pembukaan festival juga diperkuat dengan penampilan tari kolosal Saribu Katidiang Saok dari Nagari Tanjung Alam, Kecamatan Tanjung Baru. Tarian yang melibatkan anak nagari dari berbagai generasi, mulai dari anak-anak hingga bundo kanduang, menggambarkan semangat kebersamaan dan gotong royong masyarakat dalam menjaga adat istiadat di tengah derasnya modernisasi.
Suasana semakin semarak ketika masing-masing nagari dari seluruh kecamatan di Tanah Datar menampilkan beragam tradisi warisan leluhur yang hingga kini masih dijaga dan dilestarikan. Prosesi adat seperti turun mandi, maanta marapulai, managuah, hingga mamanih-manisi anak dipertontonkan kepada masyarakat sebagai bentuk edukasi budaya sekaligus penguatan identitas daerah.
Rangkaian atraksi budaya ditutup dengan penampilan tari kolosal multietnik dari Nagari Baringin yang menampilkan keberagaman budaya dalam bingkai persatuan masyarakat Tanah Datar.
Tak hanya pertunjukan seni dan adat, kawasan Lapangan Cindua Mato (LCM) Batusangkar juga menjadi pusat perhatian melalui hadirnya kawasan kuliner tempo dulu. Berbagai makanan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun, seperti karupuak leak, pinukuik tampuruang, lompong sagu, godok ubi, hingga minuman tradisional aie aka, menjadi favorit pengunjung.
Bupati Tanah Datar Eka Putra bersama para tamu undangan bahkan menyempatkan diri mencicipi langsung karupuak leak dan aie aka di salah satu stan kuliner.
“Inilah salah satu tujuan Festival Minangkabau. Kuliner tempo dulu kami hadirkan kembali, bukan hanya untuk mengobati kerinduan masyarakat terhadap cita rasa warisan leluhur, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat dan pelaku UMKM,” ujar Eka Putra.
Festival Minangkabau 2026 berlangsung selama empat hari, mulai 25 hingga 28 Juni 2026. Selain menampilkan kekayaan adat, budaya, dan kuliner, setiap malam pengunjung juga akan dihibur dengan pertunjukan seni yang dipusatkan di Lapangan Cindua Mato, menghadirkan sejumlah artis Minang ternama seperti Kintani, Pinki Prananda, Upiak Isil, dan Uda Rio.
Melalui perpaduan seni, tradisi, dan ekonomi kreatif, Festival Minangkabau 2026 kembali membuktikan diri bukan sekadar perayaan budaya, melainkan etalase kebesaran peradaban Minangkabau yang terus hidup, berkembang, dan menjadi kekuatan dalam mendorong pariwisata serta kesejahteraan masyarakat Tanah Datar(d13)













