Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita

Dukung Asta Cita dan Hilirisasi, Adhi Karya Optimistis Industri Konstruksi Tetap Menjanjikan pada 2026

7
×

Dukung Asta Cita dan Hilirisasi, Adhi Karya Optimistis Industri Konstruksi Tetap Menjanjikan pada 2026

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, RELASIPUBLIK – PT Adhi Karya (Persero) Tbk optimistis prospek bisnis konstruksi nasional sepanjang 2026 masih cukup besar. Kebutuhan pembangunan yang terus berlanjut dinilai membuka peluang pertumbuhan bagi industri konstruksi, terutama untuk mendukung program prioritas pemerintah.

Direktur Utama Adhi Karya, Moeharmein Zein Chaniago, mengatakan kebutuhan pembangunan nasional tetap terbuka di tengah berbagai dinamika bisnis yang terjadi saat ini. Menurutnya, pembangunan masih dibutuhkan untuk mendukung konektivitas, pengembangan kawasan, hilirisasi dan industrialisasi, transportasi, sumber daya air, hingga fasilitas publik.

“Kami melihat prospek bisnis konstruksi nasional masih cukup besar. Kebutuhan pembangunan di Indonesia tetap terbuka dan sejalan dengan program pemerintah melalui Asta Cita,” kata Moeharmein saat wawancara bersama CNBC Indonesia pada Selasa, (6/10/2026).

Ia menjelaskan, program pemerintah yang berfokus pada swasembada pangan, energi dan air, hilirisasi, industrialisasi, serta penguatan sumber daya manusia mendorong kebutuhan pembangunan berbagai infrastruktur strategis.

Kebutuhan tersebut antara lain pembangunan pabrik pupuk, smelter, Sekolah Rakyat, bendungan, jaringan irigasi, serta berbagai fasilitas pendukung sektor perikanan dan pertanian seperti tambak garam, tambak ikan, dan tambak udang.

Sebagai BUMN konstruksi, Adhi Karya memastikan kesiapan perusahaan mendukung pembangunan nasional melalui kompetensi engineering dan konstruksi yang dimiliki. Perusahaan saat ini terlibat dalam berbagai proyek strategis seperti pembangunan Sekolah Rakyat tahap pertama dan kedua, Jalan Tol Solo–Yogyakarta, Jalan Tol Yogyakarta–Bawen, kampung nelayan, bendungan, serta proyek-proyek hilirisasi dan industrialisasi berbasis Engineering, Procurement and Construction (EPC).

Moeharmein mengatakan, sejalan dengan arahan Danantara, BUMN konstruksi diarahkan untuk kembali fokus pada bisnis inti atau back to core business. Langkah tersebut bertujuan menciptakan pertumbuhan yang lebih sehat dan berkualitas.

“Pengembangan bisnis tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga pada kualitas dan kesehatan bisnis itu sendiri. Bagi Adhi Karya, yang penting adalah bagaimana peluang tersebut dapat diterjemahkan menjadi pertumbuhan yang berkualitas dengan memperkuat core business dan menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan,” ujarnya.

Dari sisi kinerja, hingga akhir Agustus 2026 Adhi Karya membukukan kontrak baru sekitar Rp8,9 triliun. Sebanyak 92 persen dari nilai tersebut berasal dari lini Engineering and Construction yang menjadi tulang punggung bisnis perusahaan.

Saat ini Adhi Karya mengelola sekitar 117 proyek aktif yang tersebar di seluruh Indonesia. Proyek tersebut mencakup sektor infrastruktur, gedung, perkeretaapian, energi, industri, hingga proyek tanggap darurat di Aceh dan Sumatera Utara.

Menurut Moeharmein, fokus perusahaan saat ini adalah memastikan setiap proyek yang diambil sesuai dengan kompetensi perusahaan, memiliki risiko yang terukur, struktur kontrak yang sehat, serta dapat diselesaikan secara optimal.

“Kami tidak hanya fokus mendapatkan kontrak, tetapi juga memastikan proyek dapat dijalankan secara sehat, berkualitas, dan berkelanjutan sehingga memberikan nilai tambah bagi perusahaan dan mendukung pembangunan nasional,” katanya. (***)