KabupatenSemarang,RELASIPUBLIK— Wangi harum nira kelapa yang tengah direbus menusuk hidung saat melintas di dapur milik Pak Iman Gimin, warga Desa Cukil, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang. Pada Jumat(24/7/2026), pria paruh baya ini tetap setia mengolah tetesan nira menjadi gula kelapa tradisional, sebuah profesi yang telah ia geluti selama bertahun-tahun.
Sejak subuh dini hari, Pak Iman sudah bersiap memanjat puluhan pohon kelapa yang menjulang tinggi di sekitar pekarangan rumah dan kebun warga. Dengan perlengkapan sederhana seperti bumbung bambu dan arit khusus, ia dengan cekatan mengumpulkan cairan manis hasil penyadapan nira yang terpasang sejak sore sebelumnya.
Proses pembuatan gula kelapa olahan Pak Iman terbilang masih sangat alami dan mempertahankan cara-cara lama. Cairan nira segar yang berhasil dikumpulkan harus segera disaring terlebih dahulu agar bersih dari kotoran atau serangga kecil sebelum dituang ke dalam wajan besi berukuran besar.
Di atas tungku tanah liat berdinding tebal dengan bahan bakar kayu kering, nira tersebut mulai direbus selama berjam-jam. Api tungku harus dijaga tetap stabil, tidak boleh terlalu besar agar nira tidak hangus, dan tidak boleh terlalu kecil agar adonan terkaramelisasi dengan sempurna.
Sepanjang proses pengukusan dan perebusan, cairan nira harus terus diaduk secara berkala. Adonan yang tadinya cair dan berwarna bening kecokelatan perlahan berubah menjadi kental, berbuih halus, serta mengeluarkan aroma manis yang sangat khas.
Momen paling menentukan adalah saat adonan nira mulai meletup-letup dan berubah warna menjadi cokelat pekat. Pak Iman dengan teliti mengecek tingkat kekentalannya, jika sudah dirasa pas, wajan segera diangkat dari tungku untuk dimatikan apinya, lalu adonan diaduk cepat hingga teksturnya siap dicetak.
Menggunakan cetakan alami yang terbuat dari potongan bambu atau batok kelapa, Pak Iman dan sang istri menuang adonan gula cair hangat satu per satu. Proses pencetakan ini harus dilakukan secara cepat sebelum adonan keburu dingin dan mengeras di dalam wajan.
Dibutuhkan waktu beberapa puluh menit hingga gula kelapa tersebut benar-benar dingin dan memadat sempurna. Gula kelapa buatan Pak Iman memiliki ciri khas tekstur yang renyah namun lembut saat digigit, serta cita rasa manis legit alami tanpa ada campuran bahan kimia atau pemanis buatan.
Meskipun saat ini gula pasir modern sangat mudah didapat di pasaran, gula kelapa hasil olahan tangan Pak Iman tetap memiliki peminat setia. Banyak pedagang kuliner tradisional, pembuat kue, hingga ibu rumah tangga dari wilayah Tengaran hingga Salatiga yang sengaja datang langsung untuk membeli gula cair maupun gula cetak buatannya.
Ketekunan Pak Iman Gimin dalam mempertahankan usaha pembuatan gula kelapa ini bukan sekadar mencari nafkah untuk keluarga, tetapi juga menjaga keberadaan penganan lokal khas Desa Cukil. Di tengah gempuran produk serba instan, geliat asap dari tungku Pak Iman pada Jumat ini menjadi bukti nyata kekayaan kuliner berbasis kearifan lokal yang masih bertahan kokoh di pedesaan.













