Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
BERITA UTAMATERBARU

Dedikasi 16 Tahun Sirna: Nasib Pilu Tenaga Medis Kepulauan Kangean, Gaji Hanya Tersisa 350 Ribu

23
×

Dedikasi 16 Tahun Sirna: Nasib Pilu Tenaga Medis Kepulauan Kangean, Gaji Hanya Tersisa 350 Ribu

Sebarkan artikel ini

Sumenep – Kepiluan mendalam menyelimuti hati para tenaga kesehatan di Kepulauan Kangean, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, dengan pengabdian selama belasan tahun seolah tak memiliki nilai, seiring dengan perubahan status kepegawaian yang membuat nasib mereka kini terguncang.

Mereka yang dulunya dikenal sebagai tenaga kontrak dengan dedikasi tinggi, kini harus menelan pil pahit setelah dialihkan statusnya menjadi PPPK Paruh Waktu. Perubahan ini bukan hanya soal nama, melainkan sebuah tamparan keras pada kesejahteraan mereka yang begitu memilukan.

Dulu, dengan masa kerja yang telah mencapai 16 tahun, mereka bisa merasakan hasil jerih payah dengan penghasilan di atas 2.000.000 rupiah per bulan. Angka yang mungkin tidak seberapa bagi sebagian orang, Kana tetapi bagi mereka cukup untuk menghidupi keluarga dan membiayai kebutuhan dasar.

Namun kini, segalanya berubah drastis. Gaji yang sempat menopang hidup mereka kini anjlok drastis menjadi hanya tersisa 350.000 rupiah per bulan.

Angka itu sungguh jauh dari kata layak. Bagaimana mungkin seorang tenaga medis yang setiap hari bergelut dengan nyawa pasien, bekerja keras di puskesmas maupun rumah sakit, harus menerima nominal yang bahkan mungkin tidak cukup untuk biaya transportasi dan makan sehari-hari saja?

Rasa kecewa dan sakit hati tentu tak terelakkan. Bagi mereka, pemotongan gaji ini bukan sekadar masalah ekonomi, melainkan soal harga diri dan penghargaan.

“Selama 16 tahun kami mengabdi, mengabiskan masa muda dan tenaga untuk melayani masyarakat Sumenep. Tapi kini, rasanya pengabdian itu tidak dihargai sama sekali,” keluh salah satu tenaga kesehatan yang enggan disebutkan namanya, dengan nada suara getar dan berkaca kaca.

Mereka merasa seperti “dibuang” setelah dianggap tak lagi berguna dengan status lama. Harapan akan kesejahteraan yang semakin baik seiring bertambahnya masa kerja, kini justru berubah menjadi mimpi buruk.

Nasib para tenaga medis Sumenep ini menjadi cermin pahitnya realita birokrasi. Di satu sisi, negara membutuhkan tenaga mereka untuk menjaga kesehatan rakyat, namun di sisi lain, nasib dan kesejahteraan mereka diperlakukan semena-mena.

Hanya ada satu harap yang tersisa dari para pahlawan kesehatan ini: semoga ada kebijakan yang berpihak pada mereka, dan pengabdian panjang mereka selama hampir dua dekade ini tidak dianggap sebagai angin lalu.

Hingga berita ini publis, masih belum ada keterangan resmi dari dinas terkait, namun awak media akan yerus berupaya melakukan konfirmasi.

(@Noung daeng ).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *