Pagi di Kelas Yang Mengajarkan Arti Jujur
Bel sekolah berbunyi pukul tujuh tepat. Suara riuh langkah siswa memenuhi lorong, bercampur dengan tawa kecil dan percakapan setengah berbisik. Di kelas XI IPS 2, suasana pagi itu terasa sedikit berbeda. Di papan tulis sudah tertulis kalimat besar dengan spidol hitam:
“Apa arti jujur bagi kalian?”
Beberapa siswa saling pandang.
“Waduh, pasti ceramah lagi,” bisik Rian sambil menjatuhkan tasnya ke meja.
Pintu kelas terbuka. Bu Ratri, guru Pendidikan Pancasila, masuk dengan langkah tenang. Senyumnya tipis, tetapi matanya menyapu seluruh kelas seolah membaca satu per satu pikiran muridnya.
“Selamat pagi.”
“Pagi, Bu,” jawab siswa serempak, meski tidak terlalu kompak.
Bu Ratri menaruh buku di meja.
“Hari ini kita tidak mulai dengan teori. Saya ingin mendengar kalian.”
Dia menunjuk tulisan di papan. “Menurut kalian, jujur itu apa?”
Kelas hening beberapa detik.
Akhirnya, Sinta mengangkat tangan.
“Jujur itu tidak bohong, Bu.”
Bu Ratri tersenyum.
“Itu definisi yang paling sering kita dengar. Tapi apakah cukup?”
Rian menyela tanpa mengangkat tangan.
“Kalau menurut saya, jujur itu susah, Bu. Kadang kalau jujur malah rugi.”
Beberapa siswa mengangguk setuju.
Bu Ratri tidak langsung menanggapi. Dia hanya bertanya pelan,
“Kenapa bisa rugi?”
Rian mengangkat bahu.
“Ya… misalnya ngaku salah. Bisa dimarahin, bisa kena hukuman.”
“Jadi kalian lebih memilih tidak jujur supaya aman?” tanya Bu Ratri.
Kelas kembali sunyi.
Cerita yang Mengusik
Bu Ratri duduk di tepi meja. Suaranya melembut.
“Ibu mau cerita sedikit. Dulu, waktu ibu masih sekolah, ibu pernah melihat teman dekat ibu menyontek saat ujian.”
Beberapa siswa langsung lebih fokus.
“Apa yang ibu lakukan?” tanya Dika.
“Ibu diam. Karena ibu takut kehilangan teman.”
“Terus?” Sinta terlihat penasaran.
“Teman ibu lulus dengan nilai tinggi. Ibu tidak pernah bilang siapa pun. Tapi sampai sekarang, ibu selalu merasa ada yang salah.”
Kelas menjadi hening, bukan karena bosan, tapi karena suasana berubah serius.
Bu Ratri menatap mereka satu per satu. “Kadang ketidakjujuran tidak langsung terlihat dampaknya. Tapi di dalam diri, kita tahu.”
Diskusi yang Menghangat
“Sekarang ibu mau tanya,” kata Bu Ratri.
“Pernahkah kalian berada di situasi harus memilih antara jujur atau aman?”
Tangan Fajar terangkat.
“Saya pernah, Bu. Waktu kerja kelompok, saya tidak ikut ngerjain. Tapi pas presentasi tetap dapat nilai.”
Bu Ratri mengangguk.
“Bagaimana perasaanmu?”
Fajar tersenyum kecut.
“Awalnya senang. Tapi sebenarnya malu juga.”
Lina menimpali,
“Kalau saya, Bu, pernah jujur malah disalahkan. Jadi kadang bingung.”
Bu Ratri tidak membantah.
“Itu memang kenyataan. Dunia tidak selalu adil. Tapi pertanyaannya, kalian mau membentuk diri kalian seperti apa?”
Makna Tanggung Jawab
Bu Ratri menulis kata baru di papan:
TANGGUNG JAWAB
“Kejujuran tidak bisa berdiri sendiri. Ia selalu berdampingan dengan tanggung jawab.”
Rian bertanya,
“Kalau orang jujur tapi tetap gagal, apa gunanya, Bu?”
Bu Ratri tersenyum tipis.
“Kejujuran bukan jaminan sukses cepat. Tapi ia menjaga kalian tetap utuh.”
Dika mengerutkan dahi.
“Maksudnya utuh?”
“Utuh artinya kalian tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain.”
Percakapan yang Menyentuh
Suasana kelas mulai terasa lebih personal. Bu Ratri berjalan pelan di antara bangku.
“Coba bayangkan,” katanya, “sepuluh tahun lagi kalian bekerja. Apa yang lebih penting, terlihat pintar atau bisa dipercaya?”
“Bisa dipercaya,” jawab beberapa siswa hampir bersamaan.
“Kenapa?”
Sinta menjawab pelan,
“Karena kalau dipercaya, orang akan tetap menghargai kita.”
Bu Ratri mengangguk puas. “Itulah fondasi kehidupan bersama. Tanpa kepercayaan, tidak ada kerja sama.”
Pengakuan yang Jujur
Tiba-tiba Rian mengangkat tangan lagi. Kali ini suaranya lebih pelan.
“Bu… kalau misalnya kita sudah sering tidak jujur, apa masih bisa berubah?”
Kelas langsung sunyi.
Bu Ratri menatapnya hangat. “Selama kamu masih bertanya seperti itu, berarti kamu sudah mulai berubah.”
Rian menunduk, lalu tersenyum kecil.
Penutup yang Menguatkan
Bel hampir berbunyi. Bu Ratri kembali ke depan kelas.
“Ibu hanya berharap kalian berani jujur, terutama pada diri sendiri.”
Dia berhenti sejenak.
“Karena bangsa yang kuat bukan dibangun dari orang paling pintar, tapi dari orang yang bisa dipercaya.”
Bel berbunyi.
Siswa mulai berkemas, tetapi suasana tidak lagi sama seperti pagi tadi. Tidak ada yang bercanda keras. Beberapa terlihat berpikir.
Sinta mendekati Bu Ratri.
“Bu, pelajaran hari ini beda ya.”
Bu Ratri tersenyum. “Karena hari ini bukan hanya pelajaran. Ini tentang pilihan hidup.”
Epilog — Sebuah Catatan di Papan
Setelah kelas kosong, tulisan di papan masih tertinggal:
“Kejujuran mungkin tidak selalu membuat hidup mudah, tetapi tanpa kejujuran hidup kehilangan arah.”
Bu Ratri menghapus papan perlahan, lalu berkata pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri,
“Semoga mereka mengingatnya, bukan hari ini saja, tapi nanti ketika hidup benar-benar menguji.”
Profil Novita Sari Yahya
Penulis dan Peneliti
Buku yang Diterbitkan:
1. Romansa Cinta Antologi 23 Cerpen
2. Padusi: Alam Takambang Jadi Guru
3. Novita & Kebangsaan
4. Ibu Bangsa, Wajah Bangsa
5. Perempuan Indonesia, Zamrud Khatulistiwa
6. Self Love: Rumah Perlindungan Dirij
7. Makna di Setiap Rasa: Antologi Puisi
8. Siluet Cinta, Pelangi Rindu
Pemesanan Buku: 089520018812














