Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
BERITA UTAMAKabupaten AsahanTERBARU

Warga Soroti Material Timbunan Bekas Galian Pipa Gas DUSEM di Jalinsum Asahan

×

Warga Soroti Material Timbunan Bekas Galian Pipa Gas DUSEM di Jalinsum Asahan

Sebarkan artikel ini
Truck Colt Diesel muatan ayam potong terperosok di beram jalan bekas galian pipa DUSEM di Simpang PT. satu Pulau Maria Asahan 7 Agustus 2026.(dok/ist)

ASAHAN, RELASI PUBLIK – Masyarakat Desa Air Teluk Kiri, Kecamatan Teluk Dalam, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, menyoroti kondisi sejumlah bekas galian proyek pemasangan pipa transmisi gas DUSEM (Dumai-Sei Mangkei) Segmen 1C.

Keluhan tersebut kemudian disampaikan melalui laporan tertulis tertanggal 28 Agustus 2026 kepada Inspektorat Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI serta pihak manajemen perusahaan dan konsorsium yang terkait dengan pelaksanaan proyek.

Laporan itu ditandatangani lima perwakilan masyarakat, yakni Johan Wahyudi, M Wahyudi Panjaitan, Surya, Muslim Pasaribu alias Ulim, dan Dedy Iskandar. Salah satu persoalan yang disoroti warga adalah material yang digunakan dalam proses penimbunan kembali area bekas penggalian pipa di sejumlah bahu Jalan Lintas Sumatera.

M Wahyudi Panjaitan mengatakan warga menduga sebagian material yang digunakan untuk menimbun kembali bekas galian berasal dari tanah hasil penggalian itu sendiri. Menurutnya, terdapat kekhawatiran terhadap kondisi tanah yang digunakan, terutama apabila berasal dari area yang lembek atau berlumpur.

“Terkadang tanah bekas galian yang lembek dan berlumpur di area rendahan yang tergenang air ditimbunkan juga untuk pemulihan di bahu jalan,” ujar Wahyudi.

Ia mengatakan kondisi tersebut, menurut warga, menyebabkan sejumlah bagian bahu jalan belum stabil. Akibatnya, kendaraan yang menepi ke sisi jalan disebut berisiko terperosok ke bagian tanah yang masih labil.

Kondisi itu dinilai cukup berbahaya, terutama bagi kendaraan besar seperti truk angkutan yang membutuhkan ruang lebih luas saat berpapasan dengan kendaraan dari arah berlawanan.

Warga menyebut persoalan tersebut ditemukan di sejumlah titik sepanjang Jalinsum, mulai dari kawasan Hessa Perlompongan hingga Pulau Maria di Kecamatan Teluk Dalam.

Selain bahu jalan, masyarakat juga melaporkan adanya akses keluar masuk rumah dan tempat usaha yang belum sepenuhnya kembali seperti kondisi semula. Sejumlah fasilitas yang terdampak disebut berada di sepanjang jalur proyek, termasuk rumah makan, klinik kesehatan, Puskesmas, usaha tambal ban dan tempat usaha masyarakat lainnya.

Dalam laporan tersebut, warga juga menyoroti kerusakan pada sebagian badan jalan di kawasan Hessa Perlompongan. Masyarakat menduga kerusakan aspal dan kondisi jalan yang amblas berkaitan dengan aktivitas alat berat dalam pelaksanaan pekerjaan proyek.
Johan Wahyudi menegaskan bahwa keberatan masyarakat bukan bentuk penolakan terhadap proyek pembangunan.

Menurutnya, masyarakat hanya meminta agar pekerjaan proyek dan pemulihan area terdampak dilaksanakan dengan memperhatikan standar teknis dan keselamatan warga.
“Kami mendukung pembangunan, tetapi keselamatan masyarakat dan kondisi jalan harus tetap menjadi perhatian,” katanya.

Melalui laporan tersebut, warga berharap pihak Kementerian ESDM dan manajemen proyek dapat menindaklanjuti keluhan masyarakat dengan melakukan pemeriksaan di lapangan.

Hingga berita ini diterbitkan, belum diperoleh tanggapan resmi dari pihak pelaksana proyek maupun pihak terkait atas laporan dan keluhan yang disampaikan perwakilan masyarakat Desa Air Teluk Kiri.(is)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *