PESISIR SELATAN – Keluarga besar kaum Sikumbang Kampung Pauh, Nagari Kambang Timur, Kecamatan Lengayang, menggelar kegiatan penuh kehangatan bertajuk Bajonjang (belanjung) di tepi Sungai Lubuk Lalang, Jumat (27/03/2026).
Sejak pagi, suasana sudah dipenuhi semangat kebersamaan. Kaum laki-laki turun langsung ke aliran sungai membawa jala, menyusuri air yang jernih untuk mencari ikan. Gelak tawa pun pecah setiap kali jala dilempar, terlebih saat hasil tangkapan didapat—menambah keseruan kegiatan yang berlangsung alami dan penuh keakraban.

Sementara itu, di tepian sungai, kaum ibu dan remaja mulai menyiapkan perlengkapan memasak. Nasi dimasak bersama dengan cara sederhana, menggunakan peralatan seadanya, namun justru di situlah letak kehangatan Bajonjang.
Menu yang diolah pun terasa istimewa karena berasal langsung dari hasil alam sekitar. Ikan hasil tangkapan dimasak dengan berbagai cara, di antaranya diolah menjadi masakan khas ala pangek arab. Selain itu, sebagian ikan digoreng hingga matang, lalu dicampur dengan sayur pakis, daun ubi singkong, serta jengkol, menciptakan cita rasa khas kampung yang menggugah selera.
Aroma masakan yang mulai tercium bercampur dengan suasana alam yang asri, menghadirkan pengalaman yang tak terlupakan. Anak-anak pun tak kalah antusias. Mereka bermain di sekitar sungai, berlarian, bahkan ikut mencoba menjala ikan dengan penuh rasa penasaran. Kegiatan ini benar-benar menjadi momen kebersamaan lintas generasi—tanpa sekat, tanpa jarak.

Bajonjang bukan sekadar memasak dan makan bersama, tetapi menjadi ruang berkumpulnya keluarga besar untuk saling berbagi cerita, mempererat hubungan, serta menghidupkan kembali nilai-nilai kekeluargaan yang kental dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.
Puncak acara ditandai dengan makan bersama di tepi sungai. Nasi dan berbagai hidangan hasil olahan bersama disantap dengan penuh kebersamaan, diiringi canda tawa yang semakin mempererat hubungan antar anggota kaum.
Kegiatan sederhana ini justru menghadirkan kesan mendalam—tentang arti kebersamaan, kekompakan, dan kebahagiaan yang lahir dari hal-hal sederhana.
Bajonjang di Koto Pulai pun menjadi bukti bahwa tradisi lama tetap hidup dan mampu menyatukan keluarga dalam suasana yang seru dan penuh makna. (Anto)














