AGAM, RELASI PUBLIK – Nagari Pangian, Kecamatan Lintau Buo, kembali menegaskan jati dirinya sebagai nagari yang kaya akan nilai-nilai budaya dan tradisi luhur. Sejak dahulu, Pangian dikenal melahirkan generasi yang berkarakter kuat—memiliki harga diri, keberanian, kecerdasan, serta ketangguhan dalam menghadapi tantangan zaman.
Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat yang diwakili Kepala Bidang Sejarah, Adat, dan Nilai Tradisi (Jarahnitra), Zardi Syahrir, SH., MM saat membuka kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Melestarikan Nilai-Nilai Tradisi Silek Pangian di Nagari Creative Hub, Senin (13/4/2026).
Menurut Zardi, keberadaan gedung cagar budaya Konselor II di kawasan tersebut menjadi bukti historis bahwa sejak masa pemerintahan Hindia Belanda, masyarakat Pangian telah diperhitungkan dan disegani.
“Ini menunjukkan bahwa masyarakat Pangian sejak dahulu memiliki karakter kuat, sehingga keberadaannya sangat dihargai bahkan oleh pemerintahan kolonial,” ujarnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Camat Lintau Buo Ikrar Pahlevi, S.STP., M.Si, Wali Nagari Pangian Hijrah Adi Sukrial, unsur KUA Kecamatan Lintau Buo, Fungsional Ahli Muda Dinas Kebudayaan Ridho Arifandi, S.STP., MAP, akademisi Universitas Andalas Dr. Hasanuddin, para tuo silek, serta pelajar dan siswa Nagari Pangian.
Dalam pemaparannya, Zardi menekankan bahwa silek (silat tradisi) bukan sekadar kemampuan bela diri, tetapi mengandung nilai-nilai filosofis yang dalam.
“Basilek bukan untuk berkelahi atau adu kekuatan, tetapi mengandung nilai keberanian, religiusitas, budi pekerti, serta kemampuan mengendalikan diri. Silek adalah jalan membentuk karakter dan menjaga harga diri,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan generasi muda agar tetap bangga terhadap identitas budaya, termasuk dalam hal pola hidup dan makanan tradisional.
“Anak Nagari Pangian telah terbukti mampu bertahan dan sukses, bahkan di rantau, dengan kekuatan dari alam sendiri—dari pisang, ubi, beras, dan hasil bumi lainnya. Jangan sampai kita meninggalkan jati diri hanya karena terpengaruh budaya luar,” tegasnya.
Menurutnya, makanan tradisional bukan hanya soal rasa, tetapi juga bagian dari identitas, kesehatan, dan sumber kekuatan generasi.
Lebih jauh, Zardi mengajak para pelajar untuk terus mempelajari dan melestarikan Silek Pangian sebagai warisan budaya yang telah berkembang luas hingga ke berbagai daerah.
“Jangan pernah abaikan tradisi sendiri. Jadikan silek sebagai benteng diri, pakaian hidup, dan kebanggaan. Nilai-nilai ini akan menjadi bekal saat kita bersaing dan berjuang di perantauan,” pesannya.
Sementara itu, Wali Nagari Pangian Hijrah Adi Sukrial menegaskan bahwa generasi muda Pangian adalah generasi hebat dengan makna yang mendalam.
“Hebat itu Harmonis, Elok Baso, Beradab, Agamis, dan Tentram. Ini yang harus dijaga oleh anak-anak Nagari Pangian,” ujarnya.
Ia menjelaskan, harmonis berarti menjaga kebersamaan, elok baso mencerminkan sikap rendah hati, beradab menunjukkan sopan santun, agamis berarti taat beribadah, dan tentram mencerminkan kecintaan pada kedamaian serta semangat menuntut ilmu.
Hijrah juga mengingatkan bahwa generasi muda memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga dan melanjutkan warisan budaya serta pembangunan nagari ke arah yang lebih baik.
“Anak-anak Pangian adalah harapan nagari. Mereka harus mampu menjaga tradisi silek dan budaya, sekaligus membawa kemajuan bagi kampung halaman,” katanya.
Kegiatan ditutup dengan yel-yel penuh semangat yang menggema di ruangan.
“Pangian…!” seru Wali Nagari.
“Hebat…!” jawab para peserta dengan lantang.
Semangat tersebut menjadi simbol kuat bahwa nilai-nilai tradisi Silek Pangian akan terus hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi.














