Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
BERITA UTAMAOPINITERBARU

Manifesto Keberpihakan Intelektual

18
×

Manifesto Keberpihakan Intelektual

Sebarkan artikel ini

Oleh: Novita Sari Yahya

Intelektual sejati tidak diukur dari kepandaian berbicara, melainkan dari keberpihakan saat kekuasaan meminta kompromi. Sejarah bangsa ini mencatat bahwa titik balik peradaban
selalu lahir dari pilihan-pilihan sunyi
yang diambil dalam tekanan.

Bahwa tidak semua yang berwajah rapi berpihak pada kebenaran. Bahwa tidak semua yang tersenyum di hadapan kekuasaan memikul tanggung jawab sejarah.

Antek-Antek Globalis vs Pahlawan Rakyat

Tersenyum merekah ketika diminta menjadi ketua yayasan globalis.
Berkebaya, bersanggul, menerima amanah global.
Berjas dan berdasi, berbaris rapi menerima surat keputusan.
Senyum semringah tersungging di bibir, namun tanpa kegelisahan moral, tanpa pertanyaan etis, tanpa keberanian untuk berkata tidak.

Intelektual yang kehilangan keberpihakan akan selalu pandai merasionalisasi pengkhianatan.
Mereka menyebut tunduk sebagai kolaborasi. Menyebut penyerahan sebagai kemajuan.
Menyebut kepentingan asing sebagai masa depan bangsa.

Sejarah menawarkan perbandingan yang jujur.
Natsir menambal kemejanya untuk sebuah pertemuan penentu dengan Soekarno.
Pertemuan yang berujung pada perintah pembubaran Masyumi.
Di pundaknya bertumpu tanggung jawab etis dan logis yang tidak bisa diwakilkan.

Natsir tahu konsekuensinya, tahu risikonya.
Namun ia memilih keberpihaka melindungi rakyat dan kampung halaman Ranah Minang.
Ia berdiri bukan sebagai pemenang kekuasaan,
melainkan sebagai penjaga nurani bangsa.
Di sinilah perbedaan itu menjadi terang.

Dua peristiwa penting
dengan latar belakang yang berbeda.
Dua suasana psikologis yang tak pernah sama, dua arah masa depan kepemimpinan.
Yang satu berdiri bersama rakyat dan bersedia disingkirkan.
Yang lain menyediakan diri
menjadi antek globalis
dan bersedia mengorbankan kedaulatan.

Manifesto ini menolak kebingungan moral.

Pengkhianatan tidak berubah bentuk hanya karena dibungkus kebaya,
jas, atau bahasa pembangunan.
Penjajahan tidak lenyap
hanya karena diberi nama kerja sama global.
Kami sadar, sejarah sering ditulis oleh mereka yang berkuasa.
Namun sejarah selalu memiliki cara untuk menuliskan kebenaran
pada masanya.

Sejarah berpihak pada yang benar.
Bukan pada yang paling berpengaruh, bukan pada yang paling sering tampil.
Melainkan pada mereka
yang berani membayar harga keberpihakan.
Waktu akan menentukan, bukan propaganda, bukan jabatan , bukan pujian.

Dan ketika seluruh arsip kekuasaan dibuka, sejarah akan menyebutnya dengan jelas:
Siapa pahlawan rakyat,
dan siapa pengkhianat bangsa.
Bahwa intelektual tanpa keberanian, hanya akan menjadi pelayan zaman.
Dan bangsa yang membiarkan itu, akan kehilangan masa depannya.

Ini bukan puisi hiburan.
Ini manifesto intelektual.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *