JAKARTA, RELASI PUBLIK – Gubernur Sumatera Barat (Sumbar) Mahyeldi Ansharullah melakukan takziah ke rumah duka Try Sutrisno di kawasan Menteng, Jakarta, Minggu (8/3/2026). Kunjungan tersebut merupakan bentuk penghormatan dan ungkapan belasungkawa Pemerintah Provinsi Sumatera Barat kepada keluarga almarhum.
Kehadiran Mahyeldi menjadi representasi empati masyarakat Sumbar terhadap sosok Try Sutrisno yang dikenal sebagai tokoh nasional dan pernah menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia pada periode 1993–1998. Selain itu, almarhum juga pernah memegang berbagai jabatan strategis di lingkungan militer.
Dalam kesempatan tersebut, Mahyeldi menyampaikan doa agar almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT serta keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan dalam menghadapi duka.
“Semoga almarhum husnul khatimah dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan serta kekuatan,” ujar Mahyeldi saat menyampaikan belasungkawa.
Menurut Mahyeldi, almarhum memiliki kedekatan tersendiri dengan masyarakat Sumatera Barat. Hal itu tidak terlepas dari pengalaman almarhum yang pernah bertugas dan berinteraksi langsung dengan masyarakat di daerah tersebut.
Ia menilai sosok Try Sutrisno dikenal sebagai pribadi yang sederhana, santun dalam bertutur kata, serta memiliki kepedulian terhadap masyarakat.
Dalam kegiatan takziah Try Sutrisno tersebut, Mahyeldi turut didampingi oleh Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Sumbar, Mursalim, serta Kepala Badan Penghubung Pemerintah Provinsi Sumbar, Aschari.
Di rumah duka, rombongan Gubernur Sumbar diterima langsung oleh istri almarhum, Tuti Sutiawati. Pertemuan berlangsung dalam suasana penuh haru dan kehangatan.
Dalam kesempatan itu, Tuti mengenang sejumlah pengalaman almarhum ketika masih menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) dan melakukan kunjungan ke Sumatera Barat.
Ia menceritakan bahwa kunjungan tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi almarhum. Ketika itu, almarhum disambut hangat oleh masyarakat, termasuk para ibu-ibu yang masih mengingatnya sejak masa menjadi taruna Akademi Militer yang pernah menjalani latihan di daerah tersebut.
Meski peristiwa itu telah berlangsung puluhan tahun sebelumnya, masyarakat masih mengenal dan menyambut almarhum dengan penuh keakraban.
Menurut Tuti, hal tersebut menunjukkan adanya hubungan emosional yang kuat antara almarhum dengan masyarakat Sumatera Barat.
Ia menilai kehangatan masyarakat Minangkabau yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan, penghormatan, serta falsafah adat adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah meninggalkan kesan mendalam bagi almarhum semasa hidupnya.
Dalam kesempatan itu, Tuti juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Sumatera Barat apabila selama almarhum bertugas dan berinteraksi di daerah tersebut terdapat kekhilafan.
Ia juga menyampaikan pesan yang sering disampaikan almarhum semasa hidupnya, yakni agar setiap orang berhati-hati dalam berkata serta selalu berusaha berbuat baik kepada sesama.
Sementara itu, salah seorang pengawal pribadi almarhum, Riko Tanjung, yang turut memandikan jenazah menyampaikan bahwa kondisi wajah almarhum tampak bersih dan tenang.
Hal tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi mereka yang menyaksikannya, sebagai gambaran ketenangan seorang pribadi yang dikenal sederhana, santun, serta memiliki dedikasi panjang dalam pengabdian kepada bangsa dan negara. (adpsb/nol)














