Sumenep – Setelah Kepala Dapur SPPG Gayam, Zainul Mujib mengklaim bahwa menu kering rapelan tiga hari mulai 23 – 25 Februari 2026 higienis dan aman dikonsumsi.
Justru wali murid dibuat panik saat roti bakery yang hendak dimakan oleh anaknya di hari ketiga melihat bentuk sudah berbeda.
Tampak terlihat bentuk roti bakery sudah berubah dari warna hingga bau makanan seperti sudah layu. Bahkan ditemukan ada jamur yang sudah menempel di sela-sela lipatan roti tersebut.
Meski begitu Zainul Mujib, Kepala Dapur SPPG Gayam, tetap memberikan pernyataan bahwa makanan tersebut tetap aman dikonsumsi. Ia menegaskan akan bertanggung jawab apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan oleh siswa dan wali murid.
“Saya tetap bertanggung jawab, Mas. Kalau semisal terjadi keracunan,” ungkapnya kepada pihak media.
Namun, penjelasan Kepala Dapur SPPG Gayam, tetap dianggap bertolak belakangan dengan kondisi lapangan yang sesungguhnya.
Ahli Gizi Lulusan Thailand, Nuris Zely Rabiah menyampaikan bahwa menu makanan berjamur tidak layak dikonsumsi, karena dapat membahayakan terhadap metabolisme tubuh.
Jamur yang menempel pada makanan dianggap sangat berbahaya saat sudah masuk dalam pencernaan.
“Jangankan berjamur, bau saja, meskipun tidak ada jamur, itu sudah tidak layak dimakan,” katanya.
Sharly mengaku, seharusnya setiap dapur MBG itu memiliki alat untuk menguji bahan baku kualitas makanan. Sehingga, membuat makanan lebih layak didistribusikan kepada siswa.
“Jadi itu tegantung bahan bakunya, yang dipakai bagus atau tidak, banyak UMKM yang tidak pakai pengawet tapi kuat dari 3-5 hari,” imbuhnya.
Publik semakin penasaran siapa yang menjadi suplayer roti bakery di SPPG Gayam, Sumenep.
Informasi yang dihimpun media ini, ada tiga nama yang disebut santer menjadi suplayer menu kering MBG di Yayasan Humairah Sejahtera. Mereka dari kalangan UMKM Lokal Pulau Sapudi.
Suplayer ada yang memproduksi sendiri, ada yang hanya menggunakan nama tapi produknya mengambil ke pelaku UMKM.
Berikut adalah tiga nama yang santer diperbincangkan menjadi suplayer roti MBG di SPPG Gayam.
Pertama, Bu Lilik, Warga Rokkorok, Desa Pancor. Ia memproduksi sendiri berbagai macam jenis roti bakery. Saat ini memiliki jumlah pegawai rumahan sebanyak 7-9 orang.
Kedua, Akhmad Muhsin, Warga Wakduwak, Desa Pancor. Ia juga disebut sebut sebagai pemasok roti bakery, tapi menggunakan jasa tangan lain untuk pengolahan produksi.
Ketiga, Bu I’In Istri Miftahol Arifin (Encung Penceng), Warga Bensanik, Desa Gayam. Ia juga santer disebut sebagai suplayer Roti bakery di MBG SPPG Gayam. Ia juga menggunakan pihak lain dalam memproduksi roti yang akan dimasukkan kepada Yayasan Humairah Sejahtera.
Ketiga suplayer itu diminta untuk memenuhi permintaan MBG Yayasan Humaira masing-masing 3617 pcs.
Jumlah yang cukup besar bagi pelaku UMKM sapudi untuk memenuhi kebutuhan MBG jika harus diselesaikan dalam waktu satu hari satu malam.
Sementara, inuk sebagai SPPI MBG Desa Gayam, saat dikonfirmasi awak media ini via Whatsapp masih bungkam
(@Noung daeng )














