Dr. Ahmad Hosaini, M.Pd
Khutbah Pertama
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا، لاَ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَاإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلاَّ إِيّاَهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ الكاَفِرُوْنَ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِلْإسْلَامِ، وَمَنَّ عَلَيْنَا بِشَهْرِ الصِّيَامِ، وَأَعَانَنَا فِيْهِ عَلَى الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ، وَبَلَّغْنَا مِنْهُ التَّمَام، أَحْمَدَهُ عَلَى صِفَاتِهِ الْعُلَى، وَنِعَمِهِ الَّتِي لَا تُعَدُّ وَلَا تُحْصٰى.
وَالصَّلاَةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِهِ الْمُصْطَفَى وَعَبْدِهِ اْلمُجْتَبَى، خَيْرِ مَنْ صَلَّى وَصَامَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الْكِرَام.
أمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ أُوْصِي نَفْسِي وَإيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللّٰهِ. فَإِنَّ هَذَا الْيَوْمَ يَوْمٌ عَظِيْمٌ يَفْرَحُ فِيْهِ الْمُسْلِمُ بِإِكْمَالِ شَهْرِ رَمَضَان وَيَشْكُرُ اللّٰهَ تَعَالَى عَلَى تَوْفِيْقِهِ فِيْهِ وَإِعَانَتِهِ عَلَى الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ ﴾ (البقرة: 185).
اللَّهُ أَكْبَرُ مَا صَامَ الصَّائِمُوْنَ، اللَّهُ أَكْبَرُ مَا قامَ للِصَّلَاةِ الْقَائِمُوْنَ، اللَّهُ أَكْبَرُ مَا رَتَّلَ الْقُرْآنَ الْكَرِيْمَ الْمُرَتّلُِوْنَ، اللَّهُ أَكْبَرُ مَا ذَكَرَ اللّٰهَ تَعَالَى الذَّاكِرُوْنَ.
*Jama’ah Idul Fitri Yang dimuliakan Allah*
Alhamdulillah pada hari ini kita bisa melaksanakan hari raya Idul Fitri dalam keadaan sehat dan berbahagia. Kita berbahagia dan sepatutnya memang bersuka cita karena pada hari ini kita dapat merayakan hari kemenangan. Hari di mana umat Islam seluruh dunia merayakannya dengan suka ria. Suka cita karena kita telah selesai mendidik pribadi kita, menggembleng diri kita menyelami hakikat kesabaran, mengarungi samudera ujian di bulan Ramadhan. Bulan yang menjadi sekolah bagi diri manusia dalam mengelola emosi dan meningkatkan spiritualitas penghambaan kita pada Allah Yang Maha Kuasa. Bulan yang penuh dengan magfirah, ampunan dari Allah. Bulan yang segala amal ibadah yang kita kerjakan akan dilipatgandakan ganjarannya oleh-Nya.
Hadirin khadirat muslimin muslimat jama’ah Idul Fitri Yang dimuliakan Allah
Perayaan kemenangan Idul Fitri tahun ini bertepatan dengan ketegangan atau peperangan antara Iran dan Amerika beserta bestinya Israil. Perang yang dapat memicu terjadinya perang dunia ketiga. Perang di mana tidak menguntungkan sama sekali pada peradaban dunia. Perang yang hanya unjuk gagah-gagahan, memproklamirkan kekuatan masing-masing dan mengorbankan nasib dan masa depan bangsa. Kita tidak usah terlalu larut atau mengomentari ini dan itu. Doakan perang segera berakhir karena manakala perang ini terus berlanjut, maka kita pasti terkena imbasnya. Selama selat Hurmuz diblokade oleh Iran, maka minyak dunia akan mengalami kenaikan yang signifikan yang imbasnya nanti pada kenaikan barang kebutuhan pokok, maka kita doakan semoga perang segera berakhir. Amin Allahumma amin.
اللهُ أَكْبَرُ ٣× لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
Jama’ah Idul Fitri yang dimuliakan Allah
Kehidupan kita sebenarnya memiliki tiga fase yaitu fase praeksistensi yaitu fase di mana kita masih menjadi ruh, fase eksistensi yaitu kita sudah terlahir menjadi manusia dan fase pascaeksistensi yaitu fase saat kita berada di alam barzah.
Pada fase awal kehidupan kita yaitu berupa ruh. Kita mengakui dan menyaksikan bahwa Allah adalah Tuhan kita. Di dalam Al-Qur’an disebutkan
Surat Al-A’raf Ayat 172
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَٰفِلِينَ
Artinya: Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,
اللهُ أَكْبَرُ ٣× لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
Ma’a siral muslimin wal muslimat jama’ah Idul Fitri hafidzakumullahu jami’an
Kita dipersaksikan oleh Allah agar di hari kiamat kita tidak membuat alasan yang tiada guna. Di alam pra eksistensi kita tidak menyadari bahwa kita pernah bersyahadat pada Allah, maka di alam pascaeksistensi kita baru akan menyadarinya bahwa Allah adalah Tuhan kita dan apa yang difirmankan adalah kebenaran yang nyata. Namun, kita sebagai manusia mengingkari Allah dan perintah-Nya saat kita berada di alam eksistensi yaitu alam dunia. Kita sering durhaka pada Allah. Kita lalai dalam shalat, kita tidak benar-benar berpuasa dan kita tidak melaksanakan perintah-Nya yang lain. Bahkan di antara kita banyak yang ragu akan adanya hari kebangkitan, banyak yang tidak percaya dengan hari kiamat, banyak yang memperdebatkan tentang hisab di akhirat dan ada yang membantah adanya surga dan neraka.
Namun, para hadirin khadirat saat kita sudah meninggal dan dibangunkan di alam kubur, lalu bangkit di Padang Mahsyar, baru kita akan menyadarinya dan kita menyesal terhadap apa yang kita perbuat di dunia. Tapi pada hari itu yakinlah bahwa penyesalan tiada guna.
اللهُ أَكْبَرُ ٣× لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
Hadirin khadirat jama’ah Idul Fitri hafidzakumullahu jami’an
Coba kita merenung sejenak, seandainya pada hari Kiamat nanti, pada saat berada di Padang Mahsyar, pada saat telah dihisap, ditimbang amal-amal kita, kemudian kita digiring ke Neraka Allah karena kelalaian atau dosa yang kita perbuat saat di dunia ini. Kemudian saat itu kita baru akan menyesal, ingatlah saudara pada waktu itu sudah tidak berguna lagi yang namanya penyesalan. Sudah tidak berlaku lagi air mata buaya. Sekeras apapun jeritan manusia yang berdosa, Allah sudah tidak peduli lagi. Allah sudah tidak menghiraukan lagi. Kita yang berdosa digiring ke neraka dengan wajah hina dina.
Kalau pada hari ini di antara kita masih ada yang mendustakan hari kebangkitan atau hari kiamat mohon untuk bertaubat. Bertaubatlah sebelum ajal kita berada di kerongkongan karena dalam hadits Nabi
إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ
“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla menerima taubat seorang hamba selama (nyawa) belum sampai di tenggorokan (sakaratul maut/ghargharah).” (HR. At-Tirmidzi)
Hari kiamat pasti terjadi karena itu janji Allah. Selama kita percaya bahwa Allah itu ada dan adalah Tuhan yang kita sembah, maka informasi dalam Al-Qur’an sebagai kalamullah adalah benar adanya. Hari kiamat pasti terjadi dan kita akan diminta pertanggungjawaban terhadap apa yang kita kerjakan di dunia ini. Dalam Surah Al-Infitar (82) ayat 19, Allah berfirman yang berbunyi:
يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِّنَفْسٍ شَيْـًٔا ۗوَالْاَمْرُ يَوْمَىِٕذٍ لِّلّٰهِ
“(Yaitu) pada hari (ketika) seseorang sama sekali tidak berdaya (menolong) orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah”.
Pada hari Kiamat urusan kita nafsi-nafsi. Kita tidak peduli dengan urusan orang lain. Kita sibuk dengan diri sendiri. Apalagi pada hari itu, mulut yang sering kita gunakan untuk memberikan alasan dan pandai bermain lidah sudah dikunci rapat-rapat oleh Allah, tangan dan kaki kitalah yang akan berbicara terhadap apa yang telah kita perbuat.
اَلْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلٰٓى اَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَآ اَيْدِيْهِمْ وَتَشْهَدُ اَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Yasin: 65)
Pada saat berada di neraka pun, bukan mulut kita yang berbicara tapi telinga, mata, kulit kita yang akan menjadi saksi. Anggota tubuh yang sebelumnya tidak bicara, pada waktu itu fasih berbicara.
حَتَّىٰٓ إِذَا مَا جَآءُوهَا شَهِدَ عَلَيۡهِمۡ سَمۡعُهُمۡ وَأَبۡصَآرُهُمۡ وَجُلُودُهُم بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ
“Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan, dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. Fussilat 20)
Kemudian ketika sudah masuk ke neraka barulah kita akan menyesal sebagaimana yang digambarkan dalam Al-Qur’an
اَنْ تَقُوْلَ نَفْسٌ يّٰحَسْرَتٰى عَلٰى مَا فَرَّطْتُّ فِيْ جَنْۢبِ اللّٰهِ وَاِنْ كُنْتُ لَمِنَ السّٰخِرِيْنَۙ
(Maksudnya,) supaya (tidak) ada orang yang berkata, “Alangkah besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah dan sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah).” (QS. Az-Zumar: 56).
Atau dengan bahasa
اَوْ تَقُوْلَ لَوْ اَنَّ اللّٰهَ هَدٰىنِيْ لَكُنْتُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَۙ
Atau, supaya (tidak) ada yang berkata, “Seandainya Allah memberi petunjuk kepadaku, tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zumar: 57).
Atau bahkan minta dikembalikan lagi ke dunia untuk berubah menjadi orang yang patuh pada perintah-Nya.
اَوْ تَقُوْلَ حِيْنَ تَرَى الْعَذَابَ لَوْ اَنَّ لِيْ كَرَّةً فَاَكُوْنَ مِنَ الْمُحْسِنِيْنَ
Atau, supaya (tidak) ada (pula) yang berkata ketika melihat azab, “Seandainya aku dapat kembali (ke dunia), tentu aku termasuk orang-orang yang muhsin.” (QS. Az-Zumar: 58).
Namun, pada waktu itu tidak ada lagi penyesalan. Tidak berlaku lagi kesempatan kedua. Sama dengan hidup ini tidak ada kesempatan yang datang kedua kali. Kita semua sedang menunggu antri untuk mati.
Permohonan orang kafir di neraka juga digambarkan dalam ayat yang lain.
قالُوا رَبَّنا أَمَتَّنَا اثْنَتَيْنِ وَأَحْيَيْتَنَا اثْنَتَيْنِ فَاعْتَرَفْنا بِذُنُوبِنا فَهَلْ إِلى خُرُوجٍ مِنْ سَبِيلٍ
Mereka menjawab: “Ya Tuhan kami Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka apakah ketika (keluar dari neraka dan) kembali ke dunia akan mengikuti perintah atau jalan Tuhan?” (QS. Ghafir: 11).
Kesadaran mereka ketika berada di neraka bahwa kita ini mati dua kali dan hidup dua kali. Maksudnya sebelum keberadaan kita di dunia ini kita awalnya adalah _nuthfah_ (air mani) yang berproses di perut ibu kita sampai lahir ke dunia. Inilah yang dimaksud kematian pertama. Kehidupan kita di dunia ini juga adalah kehidupan yang pertama. Kemudian setelah itu kita akan mati dan itu adalah kematian yang kedua. Lalu kita dibangkitkan lagi dan itulah kehidupan yang kedua.
Pada kehidupan kedua setelah berada di neraka, kita baru mengakui dosa-dosa yang telah kita perbuat saat di dunia. Namun, sekarang saat di dunia kita angkuh dan sombong untuk tidak mengakuinya dengan pertobatan. Kita baru akan mengakuinya saat penyesalan sudah tidak berguna lagi. Mereka yang berada di neraka minta untuk keluar kembali ke dunia guna melakukan amal kebaikan. Kemudian sindiran Allah jelas dalam Al-Qur’an,
…فَهَلْ إِلى خُرُوجٍ مِنْ سَبِيلٍ
…Maka apakah ketika keluar dari neraka dan kembali ke dunia akan mengikuti perintah atau jalan Tuhan?”
Maka jawabannya adalah tidak. Tidak ada jalan keluar dari neraka dan kembali ke dunia.
ذلِكُمْ بِأَنَّهُ إِذا دُعِيَ اللَّهُ وَحْدَهُ كَفَرْتُمْ وَإِنْ يُشْرَكْ بِهِ تُؤْمِنُوا فَالْحُكْمُ لِلَّهِ الْعَلِيِّ الْكَبِيرِ
Yang demikian itu (adab yang menimpa kalian) adalah karena kamu (disebabkan perbuatanmu di dunia) apabila diajak mengesakan Allah (menyembah Allah saja), kamu mengingkarinya. Dan apabila Allah dipersekutukan, kamu membenarkannya. Maka putusan (adzab sekarang ini) adalah karena Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. Ghafir: 12) (Al-Mufasshalu fi Tafsir al-jalalain, Maktabah Lubnan Nasirun, Beirut 2008. Hal. 1662).
Inilah gambaran Allah di dalam Al-Qur’an dan itu pasti benar adanya.
اللهُ أَكْبَرُ ٣× لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
Hadirin Khadirat rahimakumullah
Allah berfirman dalam Al-Qur’an
فَاصْبِرْ اِنَّ وَعْدَ اللّٰهِ حَقٌّ وَّلَا يَسْتَخِفَّنَّكَ الَّذِيْنَ لَا يُوْقِنُوْنَ
Maka, bersabarlah engkau (Nabi Muhammad)! Sesungguhnya janji Allah itu benar. Jangan sampai orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu membuat engkau bersedih. (QS.Ar-Rum 60).
Janji Allah pasti benar adanya dan sabar dalam menjalani ketaatan dan penghambaan adalah sebagai solusi yang konkrit untuk kita terbebas dari api neraka. Apalagi sabar dalam menjalani ibadah puasa karena di dalam ibadah puasa kita telah melatih tiga kesabaran untuk terhindar dari hisab di akhirat.
Pertama, sabar dalam menjalani ketaatan kepada Allah. Puasa adalah perintah-Nya dan menjalaninya adalah sebuah kewajiban.
Kedua, sabar dalam menghadapi ujian. Berpuasa adalah melatih kesabaran karena bukan hanya tidak makan dan minum serta tidak melakukan sesuatu yang membatalkan puasa, tapi juga tidak menyakiti orang lain.
Ketiga, sabar untuk tidak melakukan perbuatan maksiat. Berpuasa kita harus senantiasa meninggalkan perbuatan maksiat.
Jika kita dalam melaksanakan ibadah puasa bisa menjaga tiga kesabaran tersebut apalagi setelah puasa, maka kita tanpa hisab di akhirat.
…اِنّما يُوَفَّى الصّٰبرون اَجْرهم بِغَيْرِ حِسابٍ
… sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa hisab (perhitungan). (QS. Az-Zumar 10).
اللهُ أَكْبَرُ ٣× لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
Ma’asyiral muslimin wal muslimat, jama’ah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah
Demikianlah Khutbah Idul Fitri kali ini, semoga bisa kita bisa mengambil hikmahnya dan kita selamat dari hisab di akhirat serta selamat dari siksa neraka. Semoga dengan hari raya Idul Fitri ini, kita dapat mempertahankan kesucian kita seperti bayi yang terlahir kembali. Ini kita dapat manakala kita berpuasa dengan sebenar-benarnya puasa. Amin Allahumma amin
نَسْأَلُ اللّٰهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنْ يُوَحِّدَ صُفُوْفَنَا وَيَرْفَعَ رَاَيْتَنَا وَيُؤَلِّفَ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَأَنْ يُعِيْدَ عَلَيْنَا هَذَا الْعِيْدَ بِالْأَمْنِ وَالْأَمَانِ. ءامين
هذَا وأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِي وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
اللّٰهُ أَكْبَرُ ٤× لَآ إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَاللّٰهُ أَ كْبَرُ، اللّٰهُ أَكْبَرُ وَ ِللّٰهِ الْحَمْدُ
*Khutbah Kedua*
اللهُ اَكْبَرُ (٣×) اللهُ اَكْبَرُ (٤×) اللهُ اَكْبَرُ كبيرًا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ
إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ نَحْمدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِه اللّٰه فَلاَ مُضِلّ لَه، وَمَنْ يُضْلِل فَلَا هَادِي لَه، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰه وَحْدَه لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللّٰه عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
اللّٰهُ أَكْبَرُ، اللّٰهُ أَكْبَرُ، اللّٰهُ أَكْبَر، اللّٰهُ أَكْبَر، اللّٰهُ أَكْبَر، اللّٰهُ أَكْبَر، اللّٰهُ أَكْبَر.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
اللّٰهُ أَكْبَرُ، اللّٰهُ أَكْبَرُ، لَآ إلهَ إِلَّا اللّٰهُ وَ اللّٰهُ أَكْبَرُ، اللّٰهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
*Penulis adalah santri alumnus Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo














