Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
BERITA UTAMAINTERNASIONALNASIONALPERISTIWA

David Bergerak Lantaran Wilayah Pesisirnya Rusak

98
×

David Bergerak Lantaran Wilayah Pesisirnya Rusak

Sebarkan artikel ini
David Hidayat (35 tahun), salah seorang pegiat lingkungan hidup di Sungai Pinang, Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan. (Foto dok David)

David Hidayat bersama kawan-kawannya di Deep West Sumatra pantas menjadi teladan. Berkat kesungguhan dan kerja kerasnya melakukan berbagai aktivitas konservasi di Nagari Sungai Pinang, mulai dari pelestarian terumbu karang, pelestarian mangrove, lingkungan pesisir, penyu, budidaya rumput laut, edukasi dan lainnya, kawasan pesisir kembali asri dan perekonomian masyarakat pun bergerak

 

PESSEL, RELASI PUBLIKBila bagi kebanyakan orang “diam adalah emas”,  namun tidak demikan dengan David Hidayat (35 tahun), salah seorang pegiat lingkungan hidup di Sungai Pinang, Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar). Baginya, diam sama saja dengan tertindas dan membiarkan terumbu karang, mangrove, lingkungan pesisir, penyu menuju kehancuran.

Sebagai seorang putra asli daerah, anak  ke dua dari enam bersaudara dari pasangan Aswad (55 tahun) dan Nurhayati (50 tahun) ini menyadari betul bahwa terumbu karang di daerahnya Sungai Pinang sesungguhnya telah mengalami kerusakan parah.

Kenyataan itu pun dibuktikan dari hasil penyelaman yang dilakukan oleh tim survei lapangan identifikasi potensi dan pemetaan pulau-pulau kecil di Kabupaten Pesisir Selatan, pada Senin 4 Juli 2011 lalu.

Kala itu Koordinator tim tersebut, Harfiandri Damanhuri dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta, Padang, mengatakan kondisi terumbu karang di kawasan Sungai Pinang dalam keadaan jelek, karena tutupan terumbu karang kurang dari 25 persen.

Bahkan dari penyelaman dilakukan ahli terumbu karang Samsuardi dan ahli perikanan Yasser Arafat pada empat titik di sisi selatan, barat, utara, dan timur pulau tersebut, pada sisi selatan, utara, dan timur pulau itu tutupan terumbu karang yang ditemui kurang dari 10 persen.

Menerima kenyataan itu hati David Hidayat yang sejak tahun 2009 mulai aktif sebagai pegiat  lingkungan alam, terasa tercabik-cabik. David tak rela orang semena mena melampiaskan “nafsu purbanya” semata mata untuk menuntaskan “nafsu duniawinya” di tanah kalahiranya.

Cinta David pada tanah kelahirannya bukanlah cinta bersyarat, namun merupakan cinta “bermartabat”, yang membuncah dari lubuk hati yang suci dan wangi. Karena itu ia tak rela alamnya rusak binasa karena oleh ulah manusia. Apa lagi ia menyadari di daerahnya selain mengalami kerusakan terumbu karang, juga mengalami kerusakan hutan mangrovenya.

David sangat menyadarin bahwa fungsi hutan mangrove secara ekologis adalah sebagai tempat mencari makan (feeding ground), tempat memijah (spawning ground), dan tempat berkembang biak (nursery ground) berbagai jenis ikan, udang, kerang dan biota laut lainnya, serta tempat bersarang berbagai jenis satwa liar terutama burung dan reptil.

Ia pun menyadari betul bahwa terumbu karang sangat penting, dimana ketidakberadaannya akan menjadi masalah bagi alam maupun bagi  manusia, khusunya bagi nelayan yang mencari penghasilan dari menangkap ikan.

Bagi suami dari Lidia Angraini dan ayah dari Niji ini terumbu karang adalah nyawa bagi pesisir pantai. “Bila terumbu karang rusak, maka terancamlah kehidupan laut kami. Inilah alasan kenapa saya begitu peduli dengan kelangsungan hidup terumbu karang di nagari kami. Ini semata-mata demi menyelamatkan manusia, demi menyelamatkan alam,” kata David belum lama ini.

Bahkan kata alumni Fakultas Perikanan, Universitas Bung Hatta Padang ini, semenjak Kawasan Wisata Bahari Terpadu (KWBT) Mandeh yang berada di Kecamatan Koto XI Tarusan makin berkembang karena banyak dikunjungi para wisatawan pada tahun 2017, turut pula memperparah kerusakan terumbu karang, lantaran kebiasaan para wisatawan lokal dalam membuang sampah sembarangan.

Seperti diketahui, Sungai Pinang yang dikenal sebagai perkampungan nelayan juga memiliki alam yang indah dan menawan. Pesona Sungai Pinang yang memiliki potensi wisata bahari memang menjadi magnet bagi banyak wisatan lokal maupun asing mengunjungi daerah itu.

Namun sayang, prilaku tak terpuji wisatawan lokal dalam membuang sampah, pelan namun pasti menjadi “malapetaka” bagi kelangsungan hidup terumbu karang di daerah tersebut.

Oleh karena itu kata pria bertubuh kecil ini, dirinya melalui organisasi sosial Andespin (Anak Desa Sungai Pinang) Deep West Sumatra, yang merupakan kelompok masyarakat pengawas yang bergerak di bidang konservasi dengan visi dan misi terkait lingkungan, konservasi, edukasi, dan sosial kemasyarakatan mulai menggencarkan sosialisasi.

Andespin Deep West Sumatra sendiri kata David Hidayat, sudah didirikannya sejak tahun 2014 dan telah melakukan berbagai aktivitas konservasi di Nagari Sungai Pinang, mulai dari pelestarian terumbu karang, pelestarian mangrove, lingkungan pesisir, penyu, budidaya rumput laut, edukasi dan pembinaan anak-anak, serta pemberdayaan ekonomi dan sosial kemasyarakatan.

Namun kata dia, Andespin Deep West Sumatra baru terdaftar di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Painan dengan Nomor: 77/ADWS.HKM/VIII/2018/Parpen pada Kamis, 20 Agustus 2018, sesuai dengan ketentuan SK Kemenkum-HAM RI No AHU-661.AH.02.01 tahun 2013 dan SK Badan Pertanahan Nasional RI nomor 912/KEP/-17.3/XI/2013.

“Secara hukum, kelompok Andespin memiliki Akta Pendirian Nomor 48 Tahun 2018 tertanggal 29 Agustus 2018 melalui Notaris Ediwar Rachman, S.J., M.Kn. Pada 01 Desember 2020, kelompok ini juga memperoleh penetapan dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Barat melalu SK Kepala DKP Provinsi Sumatera Barat Nomor: SK.180/SK-DKP.3/XII/2020,” kata David Hidayat.

Andespin Deep West Sumatra kata David, didirikan sebagai upaya kelompok dalam pengelolaan dan pengawasan di perairan pesisir dan pulau-pulau kecil di Kabupaten Pesisir Selatan umumnya dan Nagari Sungai Pinang khususnya.

Salah satu kegiatan yang dilakukan oleh kelompok ini, katanya menambahkan, adalah pelestarian dan restorasi terumbu karang hingga budidaya rumput laut.

“Dengan adanya potensi sangat besar, sangat dibutuhkan perhatian untuk merawatnya. Sehingga, nantinya kawasan akan membrikan dampak pada peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) dan Sumber Daya Alam (SDA) untuk peningkatan ekonomi masyarakat pesisir serta menjadi kawasan konservasi dan ekowisata,” ujar David.

Beruntung, demi menyelamatkan terumbu karang di Sungai Pinang, Kecamatan Koto XI Tarusan, pikaknya (Andespin Deep West Sumatra) tak hanya sendirian. David pun berupaya merangkul pihak-pihak yang masih punya kepedulian tinggi. Untuk itu kata dia, Andespin Deep West Sumatra bekerjasama secara teknis maupun dukungan materil dari pihak ketiga.

“Yang paling penting kami menjalin kerjasama dengan kesatuan misi menyelamatkan lingkungan bawah laut,” ungkap David.

Ketika membolak-balik “lembaran sejarah” hidupnya, David pun mulai kembali menjemput masa silamnya. Ia pun mengatakan bahwa sebenarnya dirinya mulai gencar melakukan penyelamatan terumbau karang di kampungnya Sungai Pinang semenjak aktif sebagai Ketua Club Diving Proklamator, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Universitas Bung Hatta Padang pada tahun 2009.

Saat itu kata David, ia sering mengajak kawan-kawannya melakukan penyelaman di perairan Sungai Pinang, Kecamatan Koto XI Tarusan.

“Kami juga melakukan pengamatan tutupan terumbu karang aktif dan mati di kawasan perairan nagari serta gugusan-gugusan pulau di Kawasan Wisata Terpadu (KWT) Mandeh, Pesisir Selatan,” kata David.

Saat itulah ia mengaku bersua realita memiriskan tentang kondisi terumbu karang di daerahnya Sungai Pinang.

Kerusakan terumbu karang ini katanya, karena aktivitas manusia, seperti hal kecil yaitu membuang sampah ke laut sampai dengan penangkapan ikan dengan pemakaian bom, hingga aktivitas-aktivitas lainnya yang tidak mengindahkan dampak terhadap terumbu karang.

“Kerusakan ini menyebakan meluasnya tekanan pada ekosistem terumbu karang alami. Jadi salah satu kegiatan yang kami lakukan adalah pelestarian dan restorasi terumbu karang hingga budidaya rumput laut,” ujar David.

Ia menyebutkan, pada umumnya terumbu karang akan tumbuh di pinggiran pantai atau laut dangkal yaitu daerah yang masih terkena sinar matahari, untuk dapat tumbuh dengan optimal, dalam artian terumbu karang memerlukan kondisi lingkungan yang mendukung.

Namun kata David, sayangnya krusakan terumbu karang meningkat pesat. Hanya sekitar 6,2% saja terumbu karang yang masih dalam kondisi baik.

“Sebenarnya hidup saling berkaitan dan saling membutuhkan, maka dari itu wajib bagi kita untuk ikut serta melestarikan terumbu karang agar kehidupan tetap seimbang,” ujarnya.

Ia pun mengatakan, selaku Ketua Andespin Deep West Sumatra yang digagasnya bersama Meni Mardanus selaku pembina, Andi M, Putra Tanjung, Muslianto, Septia Geovany, Mustakrim dan lainnya, mereka tak hanya fokus dalam kegiatan penanaman saja, namun juga aktif melakukan kegiatan di bidang edukasi yang dinamakan “Rumah Literasi atau Belajar” sebagai bentuk ruang pencerdasan bagi masyarakat sekitar.

“Rumah Literasi atau Belajar ini kami dirikan untuk membekali sumber daya manusia untuk mempelajari terumbu karang agar tetap bisa berjalan dengan baik,” terang David.

Intinya, kata dia, sejak tahun 2014 hingga 2019 Andespin Deep West Sumatra terus melangsungkan kegiatan transplantasi karang. Kegiatan dilakukan lewat swadaya untuk pemberdayaan kawasan pesisir dan pantai Nagari Sungai Pinang.

Selain itu David bersama kawan-kawannya juga melakukan rehabilitasi kawasan pantai dan muara sungai, yaitu mangrove dan cemara laut.

“Rehabilitasi kawasan pantai dan muara sungai diperlukan untuk melindungi garis pantai dari abrasi. Kelompok kami telah membuat pembibitan mangrove dan cemara laut untuk ditanam di kawasan pantai sebagai pagar alami. Kelompok kami juga terus berupaya mensosialisasikan perlindungan, fungsi dan manfaat dari hutan mangrove dan mengajak untuk melakukan penanaman bibit. Tujuannya tentu mencegah pemanfaatan secara liar dan penebangan,” terang David.

David mengatakan, Andespin Deep West Sumatra juga melakukan pengembangan budidaya rumput laut sebagai bentuk solusi dari permalasahan sulitnya ekonomi masyarakat pesisir. Terutama nelayan ikan yang hasil tangkapannya semakin menurun setiap harinya. Selai itu juga sebagai bentuk pengalihan fokus masyarakat nelayan dari aktifitas penangkapan ikan dengan alat tangkap tidak ramah lingkungan yang bisa saja merusak ekosistem pesisir seperti terumbu karang.

“Pengembangan budidaya rumput laut ini sangat potensial untuk dikembangkan di Nagari Sungai Pinang, mengingat di Sumatera Barat baru Nagari Sungai Pinang yang melakukan pengembangan budidayanya,” beber David.

Tak berhenti sampai di situ David bersama kawan-kawannya di Andespin Deep West Sumatra juga mengembangkan batik dan kopi mangrove sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat dan pemanfaatan sumberdaya alam, khususnya mangrove, dalam rangka pemulihan ekonomi masyarakat di tengah kondisi pandemi COVID-19.

Berkat kesungguhnya dalam menjaga perairan Nagari Sungai Pinang, Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan, terumbu karang di daerah tersebut kini seakan telah “menemukan nyawanya” kembali.

Keindahan yang kembali dipancarkan oleh terumbu karang ini juga menjadi “bayaran” atas kesungguhan dan kerja keras David bersama kawan-kawannya yang berbuat dilandasi oleh rasa cinta. Tak mengherankan bila kini betapa eloknnya kondisi bawah laut di Nagari Sungai Pinang dan kehidupan yang ada di dalamnya. (FF/Rangga EK Fadil)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *