Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
BeritaBERITA UTAMANASIONALTERBARU

Beradat di Festival Gamad, Anggota DPRD Sumbar Hidayat: Untuk Aktivasi Warisan Budaya Takbenda

62
×

Beradat di Festival Gamad, Anggota DPRD Sumbar Hidayat: Untuk Aktivasi Warisan Budaya Takbenda

Sebarkan artikel ini
Anggota Komisi V DORD Sumbar, Hidayat, SS, MH. (Foto dok/Ms/on)

PADANG, RELASI PUBLIK – Gamad sudah menjadi Warisan Budaya Takbenda Nasional pada 2016 lalu. Dibutuhkan aktivasi agar tradisi ini tidak cabut atau bahkan lenyap dari masyarakat. Aktivasi ini bisa dilakukan dengan berbagai hal. Salah satunya adalah festival.

Pada 25-26 November nanti, UPT Taman Budaya Sumatera Barat akan mengadakan Festival Gamad. Grup Gamad se-Sumatera Barat menyatakan berpartisipasi dalam festival tersebut. Di antaranya adalah Gamad Pauh Sejati, Orkes Gamad Sampai Hati, Orkes Gamad Kumbang Jati, GPS Gamad, Orkes Gamad Jam Gadang, Lima Nada Band, Orkes Gamad Bintang Laut, Orkes Gamad Selendang Benang Ameh dan Orkes Gamad Ravel Family.

Bagi unit pelaksana Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat ini, Festival Gamad termasuk bagian penting untuk pelestarian. “Kita butuh kegiatan untuk mendukung warisan budaya takbenda,” ujar Supriyadi, Kepala Taman Budaya.

Sementara itu Anggota Komisi V DORD Sumbar, Hidayat, SS, MH, juga melihat  gamad sangat mungkin dijadikan warisan budaya takbenda UNESCO. “Keseniannya dipengaruhi beberapa suku bangsa. Asimilasi ini tumbuh dan berkembang dengan baik. Menunjukkan bahwa Sumbar sangat berterima dengan bangsa lain,” ujar Hidayat yang juga Ketua Fraksi Gerindra DPRD Sumbar ini.

Menurutnya, Gamad mesti di-masyarakat-kan. Karena selain melawan isu negatif tentang Sumbar, juga akan memperlihatkan kekompakkan antar bangsa. Narasi seperti ini, menurut Hidayat, penting diapungkan.
“Sudah saatnya, kebudayaan kita letakkan sebagai garis paling depan agar siapa Sumatera Barat sesungguhnya bisa terlihat jelas,” tukuknya.

Seperti diketahui, gamad berkembang sejak abad 20. Berbagai versi tentang gamad ini juga berkembang di masyarakat. Bagi Ferry YJ, gamad ada karena qawwali dan gambang. Keduanya kesenian dari India dan Tiongkok.

“Kemudian ada sentuhan Melayu dari akordion. Gamad sangat Minang karena pantunnya. Jadi, gamad memang dikenal sebaga musik ‘4 Negara’,” ujar anak dari penyanyi Minang legendaris, Yan Juned ini.
Ia berharap, dalam Festival Gamad nanti akan muncul visual yang memperlihatkan gamad sebagai tradisi. “Kami akan menampilkan gamad beradat nanti,” tambahnya. (Ms/on)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *