Oleh ; Dr. Ahmad Hosaini, M.Pd.
Kalau shalat tergadaikan karena uang. Sungguh aku tidak suka. Ya aku harus jujur mengatakannya walaupun kau harus cemberut padaku. Mengata-ngataiku atau apalah. Tapi semoga tidak karena ini bulan puasa. Bulan penuh rahmat bukan hanya bagi kita, tapi bagi seluruh alam semesta.
Saat mendengar nama Said..
Waw, _amazing_ …! Itulah kesan yang muncul dari sultan Madura. Ya ia tampil heroik di tengah-tengah masyarakat yang lagi bingung meratapi nasib. Ia hadir bak pahlawan saat pemerintah Sumenep tak tahu harus bagaimana, aku tak tahu harus mengatakan apa. Namanya selalu menggema di daun telinga masyarakat madura. Said Sang Sultan dari timur Pulau Madura. Tempat lahirnya para raja. Sumenep yang dipaksa membranding wajahnya “the Soul of Madura” kata yang bagiku terlihat ambigu, tapi harus kuturuti walaupun aku geli. Semoga mereka tidak marah karena bagaimanapun aku tetap bangga menjadi Songeneb atau Sungeneb. Aku hanya melukis kata hati walaupun itu tidak mesti.
Kembali pada Sang Sultan. Kontribusi nyata dalam setiap momen selalu dirasakan oleh masyarakat. Ia selalu tampil dermawan di saat yang lain berlakon pecundang. Dermawan memang sangat dermawan. Aku salut padanya, sampaikan, jangan tak disampaikan. Salam hormat dan senyumku untuknya.
Lautan manusia membanjiri area Mushala yang konon dikenal dengan Mushala Said. Mushalla ini memang kecil, tapi siapa yang tak kenal dengan namanya. Mungkin tak berlebihan kiranya kalau aku sebut Mushala yang namanya lebih besar dari bentuknya. Mereka berbondong-bondong datang ke sana hanya mengharap bingkisan dari Sang Sultan. Ya Said bisa saja bermetamorfosis menjadi Sultan karena kedermawanannya. Ia dielu-elukan banyak orang karena uang dan keistimewaannya. Walaupun jujur, sebenarnya Said yang dimaksud Said yang mana? Apa ia yang konon katanya menyandang jabatan strategis di negara ini? Atau ia yang sering juga disebut Abuya Said Abdullah? Atau Said-Said yang lain? Ah siapa pun ia aku kagum.
Siapa yang tidak kenal Said? Untuk wilayah Sumenep insyaallah nama ini selalu menggema. Bukan hanya pada saat pemilu, tapi saat-saat tertentu terutama saat bulan puasa ini. Ia rajin setiap tahunnya membagi bingkisan. Biasanya di awal-awal bulan Ramadhan. Masyarakat rela berdesak-desakan hanya ingin mencicipi bingkisan yang telah ia persiapkan.
Tahun ini di awal Ramadhan dibagikan. Kehadiran bingkisan sang sultan sudah menghiasi grup-grup WA. Masyarakat tumpah ruah memadati jalan sekitar. Aparat keamanan disiagakan. Masyarakat sekitar berdesak-desakan untuk ambil bagian. Bahkan mereka rela datang sebelum kumandang adzan magrib menggema. Niatnya sambil tarawih. Namun sayang, jangankan tarawih shalat magrib dan isya’ pun tak dapat dilakukan. Walau semua tidak begitu. Ini cerita mereka yang datang dengan senyum sumringah membawa amplop dengan tiga lembar uang merah bergambar Sukarno Hatta. Beda lagi dengan mereka yang pulang dengan bermasam muka karena tidak kebagian. Mungkin sebagian kecil saja.
Dugaanku kuat, tujuan utama mereka datang tentu bukan shalat, tapi uang atau bingkisan. Shalat mereka korbankan demi selembar kertas. Tuhan mereka gadaikan. Shalat mereka perjual belikan. Allah pencemburu. Ya Allah pasti cemburu pada hambaNya yang niat datang padaNya, tapi mengutamakan uang bukan menghamba padaNya.
إِنَّ اللهَ يَغَارُ، وَغَيْرَةُ اللهِ أَنْ يَأْتِيَ الْمُؤْمِنُ مَا حَرَّمَ اللهُ
“Sesungguhnya Allah cemburu, dan kecemburuan Allah itu ketika seorang mukmin mendatangi apa yang diharamkan oleh Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Mereka memang datang bukan untuk sesuatu yang diharamkan, tapi mengorbankan shalat demi uang adalah sesuatu yang dilarang. Ya dilarang karena itu termasuk lalai.
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَۙ
“Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.”
Ancaman dari ayat jelas bisa saja ditujukan bagi mereka yang menunda atau meninggalkan shalat hingga waktunya habis hanya karena uang dan kesibukan duniawi.
Di saat dzikir dan tasbih bersautan di masjid-masjid, banyak di antara mereka yang di kepalanya tergambar uang, uang dan uang. Bukan lagi Allah, Allah, Allah. Cahaya Allah seakan redup kalah dengan kemilauan uang di atas kepala.
رِجَالٌ لَّا تُلْهِيْهِمْ تِجَارَةٌ وَّلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ وَاِقَامِ الصَّلٰوةِ وَاِيْتَاۤءِ الزَّكٰوةِۙ يَخَافُوْنَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيْهِ الْقُلُوْبُ وَالْاَبْصَارُۙ
orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari Kiamat).(QS.)
Kita memang butuh uang, tapi penghambaan padanya tidak boleh dan sangat sangat dilarang. Betapa pun pentingnya uang, jangan sampai mengalahkan cinta kita pada Allah. Sekali lagi jangan gadaikan penghambaan kita pada Allah karena uang.
Cinta kepada Allah SWT adalah cinta tertinggi hamba pada-Nya yang tidak boleh tergadaikan oleh siapapun, termasuk diri sendiri, keluarga, maupun harta benda.
Buat sang Sultan atau siapapun engkau yang punya sifat kedermawanan, jangan buat Allah cemburu. Bagikan lah sedekahmu dengan cara yang benar dan tepat. Banyak yang membutuhkan termasuk mereka yang tua renta, anak-anak yatim, orang miskin, dan mereka yang kehilangan pekerjaan. Mereka yang hobi memberikan makan orang yang lapar, hobi baca Al-Qur’an, menjaga lisan dari perkataan yang kotor dan berpuasa di bulan Ramadhan, maka Surga merindukannya. Itu kata Nabi. Jangan sampai karena metode yang diterapkan salah, yang membuat banyak orang meninggalkan shalat, yang membuat Tuhannya tergadaikan karena uang, sehingga membuat pintu surga tertutup untuknya.
Kedermawanan mu aku suka. Cintamupada negara aku iya. Tapi yang ini aku tidak. Ya jujur aku tidak setuju dengan metode yang diterapkan. Semoga tahun-tahun berikutnya semakin baik. Sekali lagi, jangan sampai Allah cemburu wahai Said?














