BOGOR, RELASI PUBLIK – AI tantangan jurnalis menjadi sorotan Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamen Komdigi) Nezar Patria saat memberikan materi pada Retret Bela Negara PWI, Jumat (30/1/2026), di Aula Manunggal Pusat Kompetensi Bela Negara BPSDM HAN Kemhan RI, Rumpin, Bogor.
Nezar menegaskan, perkembangan Artificial Intelligence (AI) saat ini menjadi tantangan serius bagi dunia jurnalistik. Hampir seluruh platform digital berlomba-lomba mengembangkan kecerdasan buatan yang mampu memproduksi konten dalam skala besar dan cepat.
AI Berpacu, Konten Palsu Justru Digemari
“Tantangan kerja wartawan ke depan soal AI ini tidak main-main. AI terus berpacu memproduksi konten, bahkan konten yang palsu pun sering kali justru sangat disukai netizen,” ujar Nezar.
Ia mengingatkan, kondisi ini berpotensi menggerus kepercayaan publik terhadap media arus utama apabila insan pers tidak mampu beradaptasi secara tepat.
Riset Reuters: Media Mainstream Tertekan
Mengutip sejumlah penelitian, termasuk riset Reuters Institute, Nezar menyebutkan hanya sekitar 38 persen pemimpin redaksi yang masih percaya diri menghadapi gempuran kecanggihan platform berbasis AI.
“Banyak pemimpin redaksi yang mulai ragu terhadap prospek media mainstream di tengah bombardir kecerdasan buatan,” ujar mantan Pemimpin Redaksi The Jakarta Post tersebut.
Jurnalisme Lapangan Jadi Pembeda
Menurut Nezar, pers arus utama harus menjawab tantangan AI dengan kekuatan yang tidak dimiliki kecerdasan buatan.
“Hadapi AI dengan berita on the ground atau on the spot. Metode ini belum bisa sepenuhnya dilakukan oleh AI,” tegasnya.
Ia juga mendorong penguatan konten real time, eksplorasi visual melalui video pendek, serta infografis sebagai bagian dari strategi adaptasi media.
Human Interest dan Etika Tak Bisa Digantikan AI
Nezar menekankan, konten human interest menjadi kekuatan utama pers karena mengandung empati dan emosi yang tidak dimiliki AI.
“AI bisa membaca algoritma, tetapi tidak punya emosi. Karena itu, etika jurnalistik harus tetap menjadi roh profesi wartawan di tengah hiruk-pikuk konten kecerdasan buatan,” ujarnya dalam sesi yang dimoderatori Sekretaris Jenderal PWI Pusat, Zulmansyah Sekedang.
Risiko Misinformasi dan Ancaman Nilai Kebangsaan
Nezar juga mengingatkan, penggunaan AI yang tidak bijak berisiko memicu misinformasi, termasuk maraknya konten visual palsu yang sulit dibedakan dari fakta.
“Jika wartawan tidak bijak menggunakan AI, risikonya sangat besar terhadap misinformasi,” katanya.
Pemerintah Diminta Sigap
Pemerhati media sosial Adrian Toaik menilai pemerintah harus sigap merespons dampak negatif AI dan media sosial terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Bukan soal membatasi kebebasan berekspresi, tetapi mencegah pelintiran dan framing palsu yang bisa merusak harmoni kebangsaan. Komdigi perlu memiliki semacam ‘penangkal petir’ terhadap konten yang menggerus nilai cinta tanah air,” ujarnya. (***)














