Solok, Relasipublik.com – Aroma roti dan kue bukan sekadar memenuhi ruang produksi Pingacok Bakery, Koto Baru, Kabupaten Solok. Di tempat inilah 16 pelaku usaha kecil dan calon pelaku UMKM mendapat kesempatan memperkuat keterampilan melalui Tailor Made Training pembuatan roti dan kue yang digelar Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) RI melalui BPYP Padang.
Pelatihan yang berlangsung selama sepuluh hari tersebut menjadi ruang bagi peserta untuk tidak hanya belajar teknik produksi, tetapi juga memperdalam pengetahuan sesuai dengan produk yang akan mereka kembangkan.
Program ini secara khusus diperuntukkan bagi dunia usaha di Kabupaten Solok. Peserta mendapatkan berbagai fasilitas pendukung dari BPYP Padang, mulai dari baju peserta, bahan praktik, modul pelatihan, makan, uang transportasi hingga fasilitas BPJS selama satu tahun.
Ketua Forum UMKM Kabupaten Solok, Syafri, mengatakan pelaksanaan Tailor Made Training tersebut menjadi peluang penting bagi pelaku usaha untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas produk.
Menurutnya, pelatihan ini tidak berhenti pada proses belajar selama sepuluh hari. Para peserta yang hadir juga diproyeksikan untuk kembali dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan pengembangan UMKM berikutnya.
“Seluruh yang hadir akan direkrut untuk kegiatan selanjutnya,” ujar Syafri, Senin (07/09/26)
Tak berhenti pada kemampuan produksi, seluruh hasil dari kegiatan tersebut nantinya akan diarahkan untuk mendapatkan branding, sehingga produk UMKM Kabupaten Solok memiliki tampilan dan identitas yang lebih siap bersaing di pasar.
Pemerintah Kabupaten Solok melalui Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (DKUKMPP) menyatakan siap membantu membuka akses pemasaran bagi produk yang dihasilkan peserta.
Kepala DKUKMPP Kabupaten Solok yang diwakili Kepala Bidang UKM, Helvi Yuliati, SH, menyampaikan permohonan maaf karena kepala dinas tidak dapat hadir dalam kegiatan tersebut karena kondisi kesehatan yang kurang baik.
Atas nama Pemerintah Kabupaten Solok, Helvi menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Kemnaker RI serta BPYP Padang yang telah memberikan dukungan terhadap pengembangan UMKM di daerah.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Solok, terima kasih banyak atas pelaksanaan kegiatan ini dan kerja sama dengan Kemnaker,” katanya.
Ia mengakui, kondisi efisiensi anggaran membuat pemerintah daerah belum dapat melaksanakan kegiatan serupa pada tahun ini.
Namun, menurutnya, hal tersebut tidak boleh menjadi alasan bagi pelaku UMKM untuk berhenti mengembangkan usaha.
“Kami akan mencoba memfasilitasi kegiatan pemasaran. Untuk tahun ini kami mohon maaf tidak bisa melaksanakan kegiatan seperti ini karena adanya efisiensi anggaran,” ujarnya.
Di sisi lain, Helvi mengapresiasi pengurus Forum UMKM yang mampu membuka akses program dari pemerintah pusat.
“Kami salut dengan seluruh pengurus yang bisa mendapatkan kegiatan yang dibantu oleh pusat,” tambahnya.
Pesan penting juga disampaikan kepada para peserta, khususnya pelaku UMKM pemula. Pelatihan tidak boleh berhenti sebagai pengalaman sesaat.
Ilmu yang diperoleh selama sepuluh hari harus diterjemahkan menjadi peningkatan produksi dan pengembangan usaha.
“Kami menyampaikan kepada pemula supaya meningkatkan produksi,” kata Helvi.
Ia juga mengingatkan pelaku UMKM yang sudah lama menjalankan usaha agar tidak berhenti melakukan inovasi.
“Harapannya jangan ilmu yang kita dapat hilang begitu saja. Bagi yang telah lama menjadi pelaku UMKM, jangan sampai tidak melanjutkan ini,” ujarnya.
Setelah peserta menguasai teknik pembuatan roti dan kue, pekerjaan berikutnya adalah membangun identitas produk.
Pemerintah Kabupaten Solok membuka ruang konsultasi bagi pelaku UMKM yang membutuhkan pendampingan terkait merek, desain kemasan dan pemasaran.
Pelaku usaha dapat memanfaatkan layanan Klinik Desain dan Kemasan yang berada di bawah naungan DKUKMPP Kabupaten Solok di kawasan Salayo.
Lebih jauh, program ini diharapkan melahirkan produk roti dan kue UMKM Kabupaten Solok yang memiliki kualitas, merek, kemasan dan daya saing, sehingga mampu masuk ke pasar yang lebih luas.
Ini adalah langkah awal untuk membawa produk UMKM Kabupaten Solok dari dapur produksi menuju pasar yang lebih besar. (A3)













