PADANG, RELASIPUBLIK – Udara di Kota Padang dan sejumlah wilayah Sumatera Barat tampak berkabut pada Kamis pagi (13/8/2026). Pandangan ke arah kejauhan terlihat kurang jernih, seiring adanya perubahan kondisi atmosfer di sejumlah wilayah.
Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Barat Arry Yuswandi mengatakan, kondisi tersebut perlu dipahami berdasarkan data kualitas udara. Kabut tidak semata-mata berkaitan dengan berkurangnya jarak pandang, tetapi juga dapat dipengaruhi keberadaan partikel-partikel kecil di atmosfer.
Menurut Arry, partikel di udara dapat berupa berbagai zat pencemar, termasuk ozon, sulfur dioksida, karbon monoksida serta partikulat PM10 dan PM2.5.
“Ketika partikel-partikel kecil berada di udara, kondisi atmosfer menjadi kurang jernih. Cahaya yang melewati atmosfer kemudian berinteraksi dengan partikel tersebut sehingga pandangan kita terhadap objek di kejauhan menjadi berkurang,” ungkap Arry.
Kondisi berkabut juga terpantau di sejumlah wilayah Sumatera Barat. Pemantauan kualitas atmosfer di Stasiun Pengamatan Atmosfer Global Koto Tabang, Kabupaten Agam, mencatat konsentrasi partikulat 33,8 mikrogram per meter kubik dan berada pada kategori sedang.
Arry mengatakan, kondisi udara tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan apa yang terlihat secara kasatmata. Pengukuran kualitas udara diperlukan untuk mengetahui tingkat pencemaran secara lebih objektif.
“Kita perlu melihat kondisi ini berdasarkan data kualitas udara. Jangan hanya karena udara terlihat kabur kemudian langsung menyimpulkan bahwa kondisinya berbahaya,” ujarnya.
Ia menyebut kondisi kualitas udara dapat berubah mengikuti dinamika atmosfer. Karena itu, perkembangan data pemantauan tetap menjadi acuan untuk melihat perubahan kondisi dari waktu ke waktu.
Arry menjelaskan, salah satu partikulat yang perlu diperhatikan adalah PM2.5 karena ukurannya sangat kecil dan dapat masuk lebih jauh ke saluran pernapasan. Dalam kondisi tertentu, partikel tersebut dapat mencapai bagian dalam paru-paru dan masuk ke aliran darah sehingga berpotensi memicu proses peradangan.
Paparan udara dengan kondisi kurang baik juga dapat menimbulkan keluhan seperti iritasi mata dan tenggorokan, batuk, hidung berair, sakit kepala, pusing, kelelahan hingga rasa tidak nyaman saat bernapas. Dampaknya dapat berbeda tergantung konsentrasi polutan, lama paparan dan kondisi kesehatan masing-masing orang.
Anak-anak, lanjut usia, perokok serta masyarakat dengan gangguan pernapasan dan penyakit jantung termasuk kelompok yang lebih rentan.
Meski demikian, Arry menegaskan masyarakat tidak perlu panik. Aktivitas sehari-hari tetap dapat dilakukan dengan menyesuaikan kondisi udara.
Kegiatan di luar ruangan yang tidak terlalu penting dapat dikurangi ketika kondisi udara kurang baik. Bagi yang harus beraktivitas di luar, penggunaan masker dapat membantu mengurangi paparan partikulat.
Masyarakat juga diharapkan menjaga kondisi tubuh dengan istirahat cukup, memenuhi kebutuhan cairan dan menerapkan pola hidup sehat.
“Yang penting kita memahami kondisi yang terjadi dan menyesuaikan aktivitas secara wajar. Tidak perlu panik, tetapi tetap menjaga kesehatan dan memperhatikan perkembangan kualitas udara,” tuturnya.













