PAINAN — Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Pesisir Selatan kembali memperkuat pendidikan politik dan pengawasan partisipatif di kalangan generasi muda melalui program Kelas Pemilu. Memasuki seri ketujuh, kegiatan tersebut digelar di Aula SMAN 1 Koto XI Tarusan, Kamis (13/8/2026).
Kegiatan diikuti siswa dan siswi SMAN 1 Koto XI Tarusan yang terdiri dari perwakilan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) serta siswa yang memiliki ketertarikan terhadap isu kepemiluan dan demokrasi.
Para peserta tampak antusias mengikuti berbagai materi yang diberikan, mulai dari pendidikan politik, pengawasan partisipatif hingga perkembangan demokrasi di era digital.
Anggota Bawaslu Kabupaten Pesisir Selatan, Bambang Putra Niko, mengatakan pendidikan politik merupakan proses pembelajaran untuk meningkatkan pemahaman, kesadaran, dan kepedulian warga negara terhadap hak, kewajiban, serta tanggung jawab dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menurutnya, pemahaman tersebut perlu ditanamkan sejak usia muda agar generasi penerus memiliki kesadaran untuk berpartisipasi dalam kehidupan demokrasi secara bertanggung jawab.
Niko juga menjelaskan bahwa pengawasan partisipatif merupakan bentuk keterlibatan masyarakat dalam mengawasi sekaligus mendukung terselenggaranya setiap tahapan Pemilu sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
“Pengawasan Pemilu bukan hanya tanggung jawab Bawaslu. Masyarakat juga memiliki peran penting untuk ikut mengawasi dan memastikan Pemilu berjalan sesuai dengan ketentuan,” ujar Niko.
Ia menyebutkan, Kelas Pemilu di SMAN 1 Koto XI Tarusan merupakan kegiatan ketujuh yang dilaksanakan Bawaslu Pesisir Selatan. Program serupa sebelumnya telah digelar di SMAN 3 Painan, MAN 2 Pesisir Selatan, SMAN 2 Painan, SMKN 1 Painan, STAI MA Bayang, dan STAI Balai Selasa.
Melalui program tersebut, Bawaslu Pesisir Selatan berupaya membangun kesadaran generasi muda agar tidak hanya menjadi pemilih, tetapi juga mampu mengambil bagian dalam menjaga kualitas proses demokrasi.
“Upaya ini kami lakukan untuk menciptakan agen-agen muda pengawasan Pemilu. Kami berharap peserta yang mengikuti Kelas Pemilu dapat menjadi bagian dari masyarakat yang ikut menjaga kualitas demokrasi,” katanya.
Selain Kelas Pemilu, Bawaslu Pesisir Selatan juga mengembangkan sejumlah inovasi untuk memperluas akses masyarakat terhadap informasi kepemiluan.
Di antaranya melalui program Bawaslu Mangudara yang disiarkan melalui Radio Langkisau FM serta podcast “Baraja Pemilu” melalui kanal YouTube Bawaslu Kabupaten Pesisir Selatan.
Niko mengatakan Bawaslu Pesisir Selatan juga tengah menyiapkan majalah digital Suara Pengawasan. Publikasi tersebut direncanakan diluncurkan bertepatan dengan momentum Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026.
Sementara itu, Wakil Kepala SMAN 1 Koto XI Tarusan, Damril, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan Kelas Pemilu di sekolah tersebut.
Ia menyebutkan SMAN 1 Koto XI Tarusan memiliki sekitar 1.005 siswa. Dalam kegiatan tersebut, sekolah mengikutsertakan perwakilan OSIS dan siswa yang memiliki ketertarikan terhadap isu kepemiluan.
Damril mengingatkan para siswa agar tidak bersikap apatis terhadap Pemilu. Menurutnya, generasi muda perlu memahami bahwa penggunaan hak pilih merupakan salah satu bentuk tanggung jawab sebagai warga negara.
“Generasi muda harus memahami pentingnya menggunakan hak pilih. Jangan sampai menjadi pemilih yang apatis terhadap proses demokrasi,” ujarnya.
Materi lain yang menarik perhatian peserta adalah demokrasi digital. Dosen Universitas Negeri Padang (UNP), Reno Fernandes, yang menjadi narasumber, membahas perkembangan demokrasi digital serta kaitannya dengan pendidikan pemilih pemula melalui platform TikTok.
Reno mengatakan materi tersebut merupakan bagian dari riset yang dilakukan bersama sejumlah pihak untuk melihat kemungkinan pengembangan pendidikan pemilih pemula secara virtual melalui media sosial.
“Program ini sebelumnya merupakan kerja sama peneliti dengan KPU. Namun, pelaksanaan bersama Bawaslu ini menjadi yang pertama di Indonesia. Mudah-mudahan ini menjadi langkah pencetus bagi kami dan Bawaslu ke depan,” ungkapnya.
Menurut Reno, perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi politik, melakukan diskusi, mengikuti kampanye hingga membentuk pandangan terhadap berbagai persoalan politik.
Kondisi tersebut memberikan peluang besar bagi pemilih muda untuk memperoleh informasi mengenai demokrasi dan kepemiluan. Namun, di sisi lain, derasnya arus informasi juga menuntut kemampuan literasi digital agar pemilih mampu membedakan informasi yang benar dari konten yang menyesatkan.
“Demokrasi digital tidak hanya berbicara tentang penggunaan teknologi, tetapi juga bagaimana warga negara menggunakan teknologi secara bertanggung jawab dalam kehidupan demokrasi,” pungkasnya.
Melalui Kelas Pemilu, Bawaslu Pesisir Selatan berharap pengetahuan kepemiluan yang diperoleh para siswa tidak berhenti di ruang kelas. Peserta diharapkan dapat menjadi bagian dari lingkungan masyarakat yang aktif menyebarkan pemahaman mengenai demokrasi, kepemiluan, dan pentingnya pengawasan partisipatif.
Dengan melibatkan generasi muda secara langsung, program tersebut diharapkan mampu membangun pemilih pemula yang kritis, cerdas, serta memiliki kesadaran untuk menggunakan hak politik secara bertanggung jawab.













