Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
BERITA UTAMADAERAHTERBARU

Buka Kegiatan Pesantren di Rutan Lubuk Sikaping, Resman Hanafi: Semangat Warga Binaan Harus Lebih Tinggi dari Siapa pun

7
×

Buka Kegiatan Pesantren di Rutan Lubuk Sikaping, Resman Hanafi: Semangat Warga Binaan Harus Lebih Tinggi dari Siapa pun

Sebarkan artikel ini
Foto bersama usai pembukaan kegiatan pesantren untuk warga binaan di Rutan Kelas II B Lubuk Sikaping, Selasa (11/8/2026).

PASAMAN – Kepala Rumah Tahanan (Rutan) Kelas II B Lubuk Sikaping, Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), Resman Hanafi SPt MM membuka kegiatan pesantren untuk para warga binaan di rutan tersebut.

Dalam kegiatan di Masjid Al Ikhlas Komplek Rutan Kelas II B Lubuk Sikaping, Selasa (11/8/2026) itu tampak hadir Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Pasaman H.Rali Tasman S. Ag. M.Pd Kepala KUA Lubuk Sikaping
Abd. Munir S.Ag dengan penceramah Ustadz Syafrizal.

Dalam sambutannya Resman mengatakan bahwa pihaknya melaksanakan berbagai program yang dimaksudkan untuk memberi bekal yang cukup bagi warga binaan, baik bekal berupa keterampilan maupun pembinaan mental.

“Kegiatan pesantren ini misalnya, tidak lain dimaksudkan agar para warga binaan memiliki bekal ilmu agama dan moralitas yang cukup, yang kelak akan sangat berharga bila warga binaan kembali lagi ke tengah masyarakat,” ujarnya.

Karena sekarang bulan Agustus yang merupakan bulan kemerdekaan, menurut Resman, salah satu hikmah yang bisa dipetik adalah semua warga negara berhak untuk mendapatkan nikmat kemerdekaan di bidang pendidikan.

“Buktinya saudara-saudara kita yang berada di dalam rutan ini,” tambahnya. Kendati terkurung di balik tembok, ucap Resman, para warga binaan tetap mendapatkan pendidikan sebagai mana warga negara lainnya.

Tidak ada jalan lain, menurut Resman, para warga binaan harus memanfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya,” katanya. “Sebab, kesempatan yang baik itu jarang datang dua kali.”

Salah satu cara memanfaatkan kesempatan, menurut Resman, adalah membekali diri dengan semangat belajar yang tinggi. “Kalau para pembina semangatnya hanya 95, para warga binaan diharapkan punya semangat 98,” sambungnya.

Resman mengklaim pihaknya serius memberi bekal agama yang cukup bagi warga binaan. Sebab, menurutnya, setelah program pesantren dilaksanakan akan dilakukan kegiatan evaluasi menyeluruh.

“Kita akan undang pihak dari sejumlah instansi terkait untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan pesantren ini,” katanya. “Misalnya dengan mendatangkan tenaga ahli dari Kantor Kemenag Pasaman,” ucapnya

Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Pasaman H.Rali Tasman S. Ag. M.Pd mengatakan bahwa salah satu cara pembinaan warga binaan di lapas atau rutan adalah dengan pendekatan keagamaan.

“Dilakukan dengan cara pondok, para warga binaan secara terstruktur diberi pengetahuan dan pembinaan tentang agama,” ungkap Rali, yang masih tergolong baru menjabat sebagai Kakan Kemenag Pasaman.

Dengan bekal keagamaan yang cukup, menurut Rali, para warga binaan diharapkan siap untuk kembali ke tengah masyarakat setelah selesai menjalani masa tahanan di rutan atau pun di lapas.

Sebab, menurut Rali, pada dasarnya setiap manusia memiliki potensi yang sama untuk berbuat kesalahan. “Yang tidak bagus adalah kalau sampai seseorang berlarut-larut dalam kesalahan,” ungkapnya.

“Lebih baik menjadi mantan orang jahat daripada menjadi mantan ulama,” kata Rali, sambil menambahkan bahwa pola pendekatan agama terhadap para warga binaan selama ini dinilai cukup efektif.

Di bagian lain, Kepala Markaz PMI Pasaman Erry Koto mengatakan, mengakui pihaknya memang diminta oleh Rutan Kelas II B Lubuk Sikaping ikut ambil bagian berupa kegiatan donor darah. “Pihak rutan yang menyurati kami,” ungkap Erry Koto.

“Karena diminta berpartisipasi, ya, kita menyatakan ikut,” ujar Erry sambil menambahkan PMI Pasaman terbuka menjalin kerja sama dengan kelompok masyarakat mana pun untuk menyelenggarakan kegiatan sesuai dengan bidang tugas PMI.

Dalam kesempatan itu, Erry menggugah kesadaran masyarakat Pasaman untuk berpartisipasi mendonorkan darahnya. “Karena setetes darah yang disumbangkan sangat berarti bagi yang membutuhkan,” kata Erry.

Penceramah dalam kegiatan itu, H. Syafrizal SF SIQ S.Ag. M.Pd mengatakan pembinaan keagamaan bagi para warga binaan di rutan itu mengusung tema masuk jadi napi, keluar menjadi qori dan dai.

“Faktanya, dalam pembinaan para warga binaan di rutan ini banyak kemajuan yang telah dicapai,” ujar Buya Syafrizal. Ia mencatat sudah 15 warga binaan di Rutan Kelas II B Lubuk Sukaping yang sudah bisa menjadi imam.

“Kita targetkan, setelah kelak kembali ke tengah
masyarakat, mereka bisa menjadi imam shalat di lingkungan keluarganya, menjadi Muazin di masjid tempat ia bermukim, bahkan diharapkan menjadi khatib,” ucapnya. (spa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *