LABUHANBATU — Ada pejabat yang naik jabatan karena namanya sudah lama terpampang di meja birokrasi. Ada pula yang naik karena dipercaya mampu mengerjakan pekerjaan yang lebih besar.
Abdi Jaya Pohan kini masuk kategori kedua. Setidaknya, begitulah harapan masyarakat Labuhanbatu.
Pada Senin (10/8/2026), Bupati Labuhanbatu dr. Hj. Maya Hasmita melantik Abdi Jaya Pohan sebagai Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Kabupaten Labuhanbatu.
Kalau sebelumnya Abdi lebih banyak berurusan dengan dunia pendidikan (guru, kepala sekolah, murid, PAUD, TK, SD sampai SMP) kini meja kerjanya bertambah panjang.
Bukan lagi sekadar memikirkan bagaimana anak-anak Labuhanbatu bisa pintar matematika, tetapi juga bagaimana orang-orang dewasa di dalam birokrasi bisa bekerja dengan benar.
Ini tentu pekerjaan yang berbeda.
Anak sekolah kalau salah mengerjakan matematika paling banter nilainya merah. Birokrasi kalau salah menghitung kebijakan, yang bisa merah bukan hanya nilai ujian, tetapi juga rapor pelayanan publik.
Dari Mengurus Pendidikan sampai Mengurus Para Pengurus
Nama Abdi Jaya Pohan sebenarnya bukan nama baru dalam pemerintahan Kabupaten Labuhanbatu.
Sebelum dipercaya menjadi Pj Sekda, ia dikenal melalui kiprahnya di Dinas Pendidikan Kabupaten Labuhanbatu.
Di bawah kepemimpinannya, dunia pendidikan Labuhanbatu tidak hanya sibuk dengan kegiatan seremonial. Sejumlah aktivitas dan prestasi peserta didik turut mendapat ruang publikasi.
Salah satu yang menarik perhatian adalah prestasi Caroline Cicilia Br. Nababan, siswi SD Negeri 18 Rantau Selatan.
Pada 11–12 Juli 2026, Caroline berhasil meraih Gold Winner sekaligus Top Score kategori Mathematics Competition Level A dalam ajang Asia Science & Mathematics Competition (ASMC) Global Round 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia.
Medali emas itu mungkin kecil jika dilihat dari ukuran bendanya.
Tetapi kalau yang dihitung adalah rasa bangga orang tua, sekolah, guru, dan daerah, ukurannya tentu jauh lebih besar.
Sebab, seorang anak SD dari Labuhanbatu bisa berkompetisi di tingkat internasional dan pulang membawa prestasi.
Artinya sederhana bahwa anak daerah tidak harus lahir di Jakarta untuk bisa punya prestasi internasional.
Kadang yang dibutuhkan memang bukan pindah kota, tetapi kesempatan.
Birokrasi Juga Perlu “Top Score”
Kini Abdi Jaya Pohan mendapat lapangan permainan yang berbeda.
Kalau di Dinas Pendidikan yang diurus adalah dunia pendidikan, di Sekretariat Daerah persoalannya jauh lebih lebar. Ia harus membantu memastikan perangkat daerah bergerak dalam satu arah.
Bupati Maya Hasmita sendiri menegaskan bahwa posisi Sekda mempunyai peran strategis sebagai penggerak birokrasi, koordinator antar perangkat daerah, sekaligus penghubung antara kepala daerah dengan jajaran ASN.
Penunjukan Abdi sebagai Pj Sekda tersebut berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Sumatera Utara Nomor 800.1.3.3/3101/VIII/2026 tertanggal 5 Agustus 2026.
Dengan demikian, kursi Sekda yang sebelumnya kosong setelah pejabat terdahulu memasuki masa purna tugas kini tidak lagi dibiarkan seperti kursi kosong di warung kopi.
Ada yang menduduki.
Ada yang harus bekerja.
Dan ada target yang harus dicapai.
Bupati Maya Hasmita juga mengingatkan bahwa pelantikan bukan sekadar acara berdiri, membaca sumpah, tanda tangan, foto bersama, lalu pulang membawa ucapan selamat.
Pelantikan, kata Bupati, merupakan awal dari amanah dan tanggung jawab.
Pesannya pun cukup jelas, “jaga komunikasi, bangun koordinasi, dan pastikan seluruh perangkat daerah bergerak dalam satu arah.”
Kalau boleh diterjemahkan secara sederhana: jangan sampai Bupati menarik ke kanan, OPD menarik ke kiri, sementara masyarakat berdiri di tengah sambil bertanya, “Jadi sebenarnya kita mau ke mana?”
Dari Media Sosial ke Meja Koordinasi
Salah satu hal yang cukup menonjol dari kiprah Abdi di dunia pendidikan adalah komunikasi publik.
Berbagai kegiatan pendidikan dari jenjang PAUD, TK hingga sekolah menengah cukup aktif dipublikasikan melalui kanal informasi dan media sosial.
Ini penting.
Sebab birokrasi zaman sekarang tidak cukup hanya bekerja. Masyarakat juga perlu tahu apa yang dikerjakan.
Memang, mengunggah kegiatan bukan bukti tunggal bahwa sebuah instansi berhasil. Foto pejabat sedang meninjau sekolah tidak otomatis membuat mutu pendidikan naik. Foto rapat juga tidak otomatis membuat pelayanan publik menjadi cepat.
Kamera tidak pernah bisa menggantikan kinerja.
Tetapi komunikasi publik tetap diperlukan agar masyarakat tidak hanya mengetahui pemerintah ketika ada pelantikan, pembagian bantuan, atau ketika pejabat datang membawa rombongan.
Karena itu, pengalaman Abdi membangun komunikasi di Dinas Pendidikan bisa menjadi modal ketika kini ia harus berhadapan dengan persoalan pemerintahan yang lebih kompleks.
Tantangan Abdi Sekarang Bukan Lagi Murid, tapi Birokrasi
Menjadi Pj Sekda tentu bukan perkara mudah.
Di satu sisi, ia harus menerjemahkan kebijakan kepala daerah. Di sisi lain, ia harus memastikan perangkat daerah menjalankan tugasnya. Di tengah-tengahnya ada ASN, masyarakat, program pembangunan, anggaran, pelayanan publik, target kinerja, dan sederet persoalan yang kadang muncul tanpa mengirim surat pemberitahuan terlebih dahulu.
Karena itu, pengalaman sebagai kepala dinas akan diuji dalam ruang yang lebih besar.
Jika dulu ia dituntut membantu memastikan program pendidikan berjalan, sekarang tuntutannya adalah bagaimana seluruh birokrasi Kabupaten Labuhanbatu dapat bekerja lebih terkoordinasi.
Bupati Maya Hasmita berharap Abdi mampu memperkuat sinergi antar perangkat daerah dan memastikan program pemerintah berjalan sesuai target serta memberikan manfaat nyata kepada masyarakat.
Harapan itu terdengar sederhana.
Namun dalam birokrasi, pekerjaan sederhana sering kali menjadi rumit ketika terlalu banyak meja yang harus dilewati.
Maka tantangannya adalah bagaimana membuat birokrasi tidak menjadi labirin.
Masyarakat datang membawa persoalan, jangan sampai pulangnya membawa persoalan baru karena bingung harus mengetuk pintu yang mana.
Nama “Jaya” Jangan Cuma Ada di Kartu Nama.
Abdi Jaya Pohan kini memasuki babak baru.
Dari dunia pendidikan menuju ruang koordinasi pemerintahan yang lebih luas.
Prestasi siswa seperti Caroline Cicilia Br. Nababan menjadi salah satu cerita positif yang bisa dibawa dari masa kepemimpinannya di dunia pendidikan. Tetapi jabatan Pj Sekda membawa ukuran keberhasilan yang berbeda.
Kini yang akan dinilai bukan hanya berapa banyak kegiatan yang dilakukan atau berapa banyak foto yang dipublikasikan.
Masyarakat akan melihat apakah pelayanan semakin mudah.
Apakah OPD semakin kompak.
Apakah persoalan masyarakat semakin cepat ditangani.
Apakah program pembangunan benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan.
Dan yang paling penting, apakah birokrasi bisa bekerja tanpa harus selalu menunggu viral terlebih dahulu.
Sebab masyarakat Labuhanbatu sebenarnya tidak meminta pejabat menjadi manusia super.
Mereka hanya membutuhkan pemerintah yang hadir ketika dibutuhkan.
Mungkin di situlah nama Abdi Jaya Pohan akan mendapatkan makna sebenarnya.
“Abdi” adalah pengabdian.
“Jaya” adalah keberhasilan.
Sekarang tinggal membuktikan apakah keduanya bisa berjalan beriringan.
Sebab jabatan Pj Sekda bukan hadiah.
Ia adalah pekerjaan rumah baru.
Dan seperti pekerjaan rumah anak sekolah, kalau dikerjakan dengan serius, hasilnya bisa mendapat nilai bagus.
Kalau dikerjakan asal-asalan, ya jangan salahkan guru ketika rapornya merah.
Bedanya, kali ini yang menjadi guru adalah masyarakat Labuhanbatu.
Dan rapornya bernama pelayanan publik.
Di bawah kepemimpinan Bupati Maya Hasmita dan Wakil Bupati Jamri, masyarakat tentu berharap birokrasi Labuhanbatu bukan sekadar bergerak, tetapi benar-benar bergerak ke arah yang lebih baik.
Harapan kita bersama, slogan “Labuhanbatu Cerdas Bersinar, Membangun Desa Menata Kota” tidak cukup hanya terdengar bagus ketika dibacakan.
Ia harus terasa ketika masyarakat mengurus sesuatu di kantor pemerintah.
Kalau itu berhasil, barulah nama Abdi Jaya Pohan benar-benar semakin “Jaya” di Labuhanbatu.
(Aiman Ambarita)













