KabupatenSemarang,RELASIPUBLIK– Di balik riuhnya pekerjaan pembangunan fisik dalam program TMMD Reguler ke-129 Tahun Anggaran 2026 di Dusun Gombyong, Desa Cukil, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, terselip potret sederhana yang sarat makna. Bukan tentang alat berat atau hamparan beton, melainkan tentang tangan-tangan yang saling menguatkan dalam balutan nilai gotong royong.
Di sela waktu istirahat pelaksanaan TMMD, Pratu Royhan, anggota Satgas TMMD dari Yon Arhanudse 15, memilih menghabiskan waktunya di rumah Nenek Parmi (80). Dengan penuh kesabaran, ia ikut menganyam bambu untuk membuat tempat ikan pindang, kerajinan tradisional yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari kehidupan dan mata pencaharian warga desa. Sabtu (18/7/2026)
Jari-jari yang biasa menggenggam perlengkapan militer itu kini begitu luwes menyusun bilah-bilah bambu. Sesekali ia mendengarkan arahan Nenek Parmi, yang dengan telaten mengajarkan teknik anyaman agar hasilnya kuat dan rapi. Suasana hangat penuh canda membuat pekerjaan terasa ringan, menghadirkan kebersamaan yang lahir tanpa sekat antara prajurit dan rakyat.
Bagi Nenek Parmi, kehadiran Pratu Royhan bukan sekadar membantu pekerjaan. Perhatian dan kepedulian yang diberikan menjadi kebahagiaan tersendiri, membuktikan bahwa TMMD bukan hanya membangun infrastruktur desa, tetapi juga membangun kedekatan, rasa saling peduli, dan semangat kekeluargaan.
“Senang sekali ada yang membantu. Rasanya seperti punya cucu sendiri yang mau belajar menganyam bambu,” tutur Nenek Parmi dengan senyum penuh syukur.
Pratu Royhan mengatakan bahwa membantu warga merupakan bagian dari pengabdian seorang prajurit. Menurutnya, setiap kesempatan untuk meringankan beban masyarakat adalah wujud nyata kemanunggalan TNI dengan rakyat.
“Kami hadir bukan hanya untuk menyelesaikan sasaran fisik TMMD, tetapi juga ingin berbagi waktu, tenaga, dan kebersamaan dengan masyarakat. Dari kegiatan sederhana seperti ini, kami belajar bahwa kebersamaan adalah kekuatan terbesar dalam membangun desa,” ungkapnya.
Anyaman bambu yang perlahan terbentuk menjadi tempat ikan pindang itu seolah menjadi simbol eratnya hubungan antara TNI dan masyarakat. Di setiap helai bambu yang saling mengikat, tersimpan pesan tentang gotong royong, kepedulian, dan pengabdian yang menjadi ruh pelaksanaan TMMD.
Melalui momen sederhana tersebut, TMMD Reguler ke-129 tidak hanya meninggalkan jejak pembangunan di Desa Cukil, tetapi juga menghadirkan kenangan indah tentang kebersamaan yang akan terus hidup di hati masyarakat. (Pendim 0714/Salatiga)













