Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
BERITA UTAMADAERAHTERBARU

75 Ribu Mangrove Ditanam AMPHIBI, Soroti Sampah Sungai Percut

23
×

75 Ribu Mangrove Ditanam AMPHIBI, Soroti Sampah Sungai Percut

Sebarkan artikel ini
Relawan AMPHIBI dan masyarakat nelayan menanam mangrove di pesisir Desa Percut Kabupaten Deli Serdang
Relawan AMPHIBI bersama Kelompok Tani Hutan Nelayan (KTHn) AMPHIBI Percut dan masyarakat pesisir melakukan penanaman mangrove dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 di Desa Percut, Deli Serdang.

DELI SERDANG, RELASI PUBLIK — Memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Lembaga Lingkungan Hidup AMPHIBI bersama Kelompok Tani Hutan Nelayan (KTHn) AMPHIBI Percut menggelar aksi penanaman 75.000 bibit mangrove di pesisir Pantai Desa Percut, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.

Kegiatan yang berlangsung selama 14 hari, mulai 1 hingga 14 Juni 2026 itu menjadi bagian dari upaya rehabilitasi kawasan pesisir sekaligus memperkuat ketahanan lingkungan menghadapi dampak perubahan iklim.

Ketua KTHn AMPHIBI Percut, A. Sayuti, mengatakan penanaman mangrove merupakan bentuk komitmen masyarakat pesisir dalam menjaga ekosistem pantai, mengurangi abrasi, serta melindungi wilayah permukiman nelayan dari ancaman banjir rob.

“Mangrove yang kita tanam hari ini adalah benteng hidup untuk melindungi desa kami dari banjir rob, sekaligus menjadi sumber kehidupan bagi berbagai biota laut dan masyarakat nelayan di masa mendatang,” ujar Sayuti.

Ia menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan lanjutan dari program rehabilitasi mangrove yang sebelumnya dilaksanakan pada Agustus 2024 melalui kolaborasi PT Freeport Indonesia, Direktorat Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Wilayah Pesisir dan Laut (PPKPL) Ditjen PPKL KLH/BPLH, Universitas Gadjah Mada (UGM), dan AMPHIBI.

Saat itu, sebanyak 250.000 propagul mangrove jenis Rhizophora mucronata dan Rhizophora apiculata ditanam di kawasan muara Sungai Percut dan pesisir Pantai Percut dengan cakupan area sekitar 25 hektare.

Namun, program tersebut menghadapi tantangan serius. Pada awal 2025, ketika tanaman memasuki fase pertumbuhan dengan 4 hingga 8 helai daun, kawasan rehabilitasi diterjang kiriman sampah dalam jumlah besar yang terbawa arus Sungai Percut hingga menyebabkan kerusakan tanaman.

Menurut hasil investigasi tim AMPHIBI, sumber utama sampah diduga berasal dari aliran yang dilepas melalui Bendungan Sidoras yang berjarak sekitar tujuh kilometer dari muara Sungai Percut.

“Akibat peristiwa tersebut, sekitar 200.000 bibit mangrove yang telah ditanam mengalami kerusakan bahkan mati karena tertimbun dan dihantam berbagai jenis sampah,” ungkap Sayuti.

Ketua Umum AMPHIBI, Agus Salim Tanjung (AST), menyayangkan kondisi tersebut. Menurutnya, pengelolaan sampah di kawasan Bendungan Sidoras perlu menjadi perhatian serius agar tidak berdampak terhadap lingkungan pesisir dan program rehabilitasi mangrove yang telah dilakukan masyarakat.

“Kami berharap ada penanganan yang lebih efektif terhadap sampah yang masuk ke area bendungan sehingga tidak terbawa ke hilir dan merusak ekosistem mangrove yang telah dibangun bersama masyarakat,” kata AST.

Ia menambahkan, AMPHIBI telah melakukan audiensi dan klarifikasi dengan pihak Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Sumatera II terkait persoalan tersebut. Namun hingga saat ini, pihaknya mengaku belum memperoleh tanggapan resmi mengenai langkah penanganan yang akan dilakukan.

Sebagai bentuk komitmen menjaga kawasan pesisir, AMPHIBI bersama KTHn AMPHIBI Percut dan masyarakat nelayan terus melaksanakan rehabilitasi mangrove. Pada Agustus 2025 dilakukan penanaman kembali sebanyak 65.000 propagul, disusul 50.000 propagul pada Januari 2026.

Pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini, sebanyak 75.000 propagul mangrove kembali ditanam dengan memanfaatkan sumber bibit yang berasal dari kawasan hutan mangrove Desa Percut.

Jenis yang ditanam meliputi Rhizophora mucronata dan Rhizophora apiculata yang dinilai memiliki tingkat adaptasi tinggi terhadap kondisi pasang surut di wilayah pesisir Percut.

Selain penanaman, AMPHIBI juga menyiapkan program pemeliharaan selama enam bulan ke depan guna memastikan tingkat keberhasilan tumbuh bibit tetap optimal.

AST berharap aksi rehabilitasi mangrove tersebut dapat mendorong kolaborasi yang lebih luas antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat dalam menjaga ekosistem pesisir Sumatera Utara.

“Penanaman mangrove ini tidak hanya menjadi bagian dari peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, tetapi juga bentuk nyata kontribusi terhadap upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim melalui penyerapan emisi gas rumah kaca serta konservasi lingkungan pesisir,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *