Oleh : Novita sari yahya
Mengapa Pola Asuh Seimbang Memegang Peranan Penting dalam Pembentukan Karakter Anak
Pembicaraan soal pola asuh anak sering kali muncul di ruang publik Indonesia. Banyak orang tua dan pengamat sosial menekankan bahwa kasih sayang saja tidak cukup untuk menjadikan anak tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan bermoral. Disiplin, batasan nilai, dan teladan yang konsisten juga sangat dibutuhkan. Namun di tengah gelombang pandangan ini, penting untuk menelaahnya berdasarkan bukti ilmiah, supaya wacana tidak hanya berputar pada opini semata.
Disiplin, Kasih Sayang Tanpa Batas Bisa Menjadi Fondasi Moral yang Rapuh
Kasih sayang kepada anak adalah hal yang tak ternilai harganya. Namun, riset menunjukkan bahwa kasih sayang yang tidak dibarengi dengan aturan dan batasan justru bukan jaminan terbentuknya moral yang kuat. Anak yang dibesarkan dengan pola pengasuhan permisif — di mana orang tua cenderung memanjakan dan jarang memberi batasan kerap mengalami kesulitan dalam pengendalian diri dan keterampilan sosial. Dalam penelitian kuantitatif, pola asuh seperti ini berkontribusi terhadap perilaku hidup sehat anak sekitar 84 %, dibandingkan dengan pola asuh yang seimbang (authoritative), yang kontribusinya sebesar 95,5 % terhadap perilaku sehat anak.
Artinya, kasih sayang harus saling melengkapi dengan batasan yang jelas, bukan dilepas begitu saja. Anak butuh mengetahui perbedaan antara yang boleh dan tidak boleh secara konsisten sejak dini.
Jejak Masa Lalu Orang Tua Bisa Menjadi Beban Psikologis Anak
Setiap orang tua membawa pengalaman hidupnya masing-masing ketika membesarkan anak. Pola hidup masa lalu, terutama bila penuh konflik, tidak tertata, atau berantakan, sering menjadi bagian dari lingkungan psikologis anak. Beberapa studi menunjukkan hubungan yang kuat antara pola asuh yang tidak stabil atau kurang konsisten dengan masalah emosional dan perilaku anak. Misalnya, pendekatan pengasuhan yang terlalu longgar atau terlalu keras memiliki korelasi dengan masalah mental seperti kecemasan dan perilaku impulsif pada anak dan remaja.
Intinya, apa yang orang tua alami dan praktikkan dalam hubungan keluarga turut membentuk persepsi anak tentang dunia, nilai, dan dirinya sendiri. Ini bukan sekadar teori, tetapi diperkuat oleh bukti empiris dari banyak penelitian perkembangan anak.
Luka Batin Anak Sering Tumbuh Diam-Diam
Tidak semua dampak pola asuh terlihat dalam tindakan yang mencolok. Banyak anak yang tampak “baik-baik saja” secara lahiriah, tetapi membawa luka batin yang muncul perlahan ketika mereka memasuki usia remaja atau dewasa awal. Penelitian internasional mengonfirmasi bahwa gaya pengasuhan orang tua berdampak signifikan pada kesehatan mental anak, termasuk kemampuan regulasi emosional, harga diri, dan kecenderungan depresi atau kecemasan.
Yang menarik, gaya pengasuhan autoritatif yang menggabungkan rasa sayang dengan aturan yang jelas menunjukkan hasil paling positif dalam perkembangan psikologis anak. Ini berarti disiplin bukan hanya soal aturan ketat, tetapi juga soal hubungan yang hangat dan komunikatif.
Walau Sudah 18 Tahun, Batasan Moral Tetap Relevan
Di Indonesia, usia 18 tahun sering dianggap sebagai batas formal kedewasaan. Namun, secara perkembangan psikologis, otak manusia terutama bagian yang berkaitan dengan pengambilan keputusan dan kontrol diri belum matang sepenuhnya pada usia itu. Banyak remaja yang tiba-tiba menghadapi realitas hidupl yang menuntut tanggung jawab, tetapi belum siap secara emosional.
Penelitian pendidikan anak menunjukkan bahwa pola asuh yang konsisten dan menanamkan aturan sejak dini tetap berpengaruh hingga remaja akhir, termasuk dalam kesiapan menghadapi tanggung jawab sosial dan akademik.
Ini berarti batasan nilai harus terus disampaikan secara bijak, bukan dihapus mentah-mentah saat anak mencapai usia dewasa secara hukum. Batasan harus terus berubah seiring kedewasaan anak, bukan lenyap begitu saja.
Normalisasi Perilaku Abai Tanggung Jawab di Media Sosial Mengirim Pesan yang Salah
Di era digital, banyak figur publik yang menampilkan gaya hidup bebas, glamor, atau tanpa tanggung jawab di media sosial. Ini bukan sekadar konten hiburan, tetapi juga menjadi model perilaku sosial yang mudah ditiru oleh remaja dan anak muda. Penelitian psikologi perkembangan menekankan bahwa anak belajar bukan hanya melalui ucapan orang tua, tetapi juga dari apa yang mereka lihat secara konsisten di lingkungan sosial, termasuk media.
Ketika perilaku ceroboh atau tak bertanggung jawab diproyeksikan tanpa konsekuensi nyata, anak bisa salah menafsirkan bahwa itu adalah hal yang normal atau bahkan aspiratif. Ini adalah salah satu alasan mengapa budaya tanggung jawab harus terus ditegaskan dalam komunitas dan media.
Etika Tubuh dan Peran “Ibu Bangsa” dalam Masyarakat
Perilaku individu, terutama perempuan, sering dipandang sebagai urusan pribadi. Namun kenyataannya, perilaku individu memiliki dampak sosial yang luas karena ia berkontribusi pada pembentukan budaya dan norma masyarakat. Perempuan sebagai ibu biologis memiliki peran besar dalam pembentukan generasi selanjutnya, sehingga pilihan hidupnya secara langsung maupun tidak langsung memengaruhi kualitas masyarakat ke depan.
Sociological studies pada pola asuh menegaskan bahwa keterlibatan dan tanggung jawab orang tua terhadap anak adalah faktor utama dalam perkembangan mental, sosial, dan perilaku anak yang sehat.
Ini bukan soal mengekang kebebasan, tetapi tentang menyadari bahwa kebebasan selalu datang bersama tanggung jawab yang tidak bisa diabaikan begitu saja.
Menuju Generasi Bermartabat: Kesimpulan Keseluruhan
Bukti dari berbagai penelitian lintas negara menunjukkan satu hal dengan sangat jelas: pola asuh yang seimbang antara kasih sayang, aturan yang konsisten, dan komunikasi terbuka merupakan landasan utama untuk perkembangan anak yang sehat secara psikologis, sosial, dan moral. Anak yang dibesarkan dengan pola asuh yang warnanya dominan hangat tetapi tanpa panduan yang jelas cenderung mengalami kesulitan dalam pengendalian diri dan pergaulan sosial. Demikian pula, pola yang terlalu otoriter tanpa kehangatan emosional bisa menimbulkan resistensi, rasa takut, atau masalah harga diri.
Sekali lagi, disiplin bukanlah hukuman, tetapi upaya sistematik untuk mengajarkan anak cara berpikir, memilih, dan bertanggung jawab atas hidupnya sendiri dengan dasar nilai yang kuat dan dukungan emosional yang stabil.
Daftar Referensi
1. Hanif Rahman, M. (2025). The Role of Parenting Style on Children’s Healthy Lifestyle: Authoritative, Authoritarian, and Permissive Parenting Styles. Jurnal KESMAS UWIGAMA. Tersedia online: https://journal.uwgm.ac.id/KESMAS/article/view/2231
2. Pal, P., & Verma, V. L. (2024). Parenting Styles and Their Effects on Child Mental Health. Journal for ReAttach Therapy and Developmental Diversities. Tersedia online: https://jrtdd.com/index.php/journal/article/view/3156
3. Romadhona, A., dkk. (2025). Pola Asuh yang Mendukung Kesehatan Mental Anak Usia Dini. Aulad: Journal on Early Childhood. Tersedia online: https://aulad.org/index.php/aulad/article/view/1154
4. Ayu Khusna, I. (2025). Hubungan Pola Asuh Orang Tua Terhadap Kedisiplinan Anak. MULTIPLE: Journal of Global and Multidisciplinary. Tersedia online: https://journal.institercom-edu.org/index.php/multiple/article/view/524
5. Zulfiya Ningsih, dkk. (2024). Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Disiplin Anak Usia Dini. Jurnal Kewarganegaraan UPY. Tersedia online: https://journal.upy.ac.id/index.php/pkn/article/view/3794
6. Sari Defia Rizki, dkk. (2025). Relationship between Parenting Style and Children Academic Achievement. Jurnal Keperawatan UMM. Tersedia online: https://ejournal.umm.ac.id/index.php/keperawatan/article/view/4020
7. Education.gov.gy. Why Parenting Styles Matter When Raising Children. Tersedia online: https://education.gov.gy/en/index.php/parents/5748-why-parenting-styles-matter-when-raising-children
Profil Novita Sari Yahya
Penulis dan Peneliti
Buku yang Diterbitkan:
1. Romansa Cinta Antologi 23 Cerpen
2. Padusi: Alam Takambang Jadi Guru
3. Novita & Kebangsaan
4. Ibu Bangsa, Wajah Bangsa
5. Perempuan Indonesia, Zamrud Khatulistiwa
6. Self Love: Rumah Perlindungan Diri
7. Makna di Setiap Rasa: Antologi Puisi
8. Siluet Cinta, Pelangi Rindu
Pemesanan Buku: 089520018812
Lagu Ibu Bangsa Wajah Bangsa
Pencipta lagu : Gede Jerson
Berdasarkan puisi ibu Bangsa, Wajah Bangsa karya Novita sari yahya














