Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
BERITA UTAMAOPINITERBARU

Masa Depan Dunia Kerja di Era AI dan Arah Kebijakan Pendidikan Indonesia

46
×

Masa Depan Dunia Kerja di Era AI dan Arah Kebijakan Pendidikan Indonesia

Sebarkan artikel ini

Oleh: Novita Sari Yahya

Pendahuluan

Peradaban manusia selalu bergerak mengikuti perubahan teknologi. Dari revolusi agraria, revolusi industri, hingga kini memasuki era kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), dunia kerja dan pendidikan mengalami pergeseran mendasar. Perubahan ini bukan sekadar soal alat baru, melainkan perubahan cara manusia bekerja, belajar, dan memaknai nilai dirinya di tengah sistem ekonomi global.

Di tengah perubahan tersebut, muncul pernyataan-pernyataan futuristik dari tokoh teknologi dunia seperti Elon Musk. Ia menyampaikan pandangan bahwa dalam beberapa dekade ke depan, AI dan robot berpotensi menggantikan sebagian besar pekerjaan manusia, bahkan menjadikan kerja sebagai sesuatu yang “opsional”. Di sisi lain, pemerintah Indonesia justru mengambil langkah yang tampak berlawanan dengan narasi tersebut, yakni membuka akses pendidikan tinggi, terutama di bidang kedokteran dan teknik, dengan skema pembiayaan negara.

Tulisan ini berupaya membaca dua arus besar tersebut secara kritis. Pertama, bagaimana wacana global tentang AI dan masa depan kerja memengaruhi cara kita memandang pekerjaan manusia. Kedua, bagaimana kebijakan pendidikan Indonesia dapat menjadi strategi bertahan sekaligus berkembang di tengah disrupsi teknologi.

Wacana Elon Musk tentang AI dan Hilangnya Pekerjaan

Elon Musk dikenal sebagai figur yang sering melontarkan pandangan visioner, bahkan provokatif, mengenai masa depan manusia. Dalam beberapa wawancara dan pernyataan publik, Musk menyebut bahwa AI berpotensi membuat hampir semua pekerjaan manusia tidak lagi relevan. Dalam visinya, robot dan sistem AI akan mampu memproduksi barang, menyediakan jasa, bahkan mengambil keputusan secara efisien dan murah, sehingga manusia tidak lagi perlu bekerja untuk bertahan hidup.

Pernyataan ini memantik perdebatan global. Bagi sebagian kalangan di negara maju, wacana tersebut mungkin terdengar sebagai gambaran kemajuan. Namun, bagi masyarakat di negara berkembang seperti Indonesia, pernyataan tersebut terasa jauh dari realitas sehari-hari. Ketika jutaan orang masih bergantung pada pekerjaan manual, sektor informal, dan upah harian, gagasan tentang “pekerjaan yang tidak lagi diperlukan” terasa seperti canda yang tidak pada tempatnya.

Di Indonesia, kerja bukan hanya soal produktivitas ekonomi, tetapi juga soal martabat, identitas sosial, dan keberlangsungan hidup keluarga. Karena itu, wacana global tentang AI perlu dibaca dengan kacamata lokal, agar tidak menjadi narasi yang menyesatkan atau bahkan melumpuhkan semangat generasi muda.

Memahami Makna di Balik Pernyataan Elon Musk

Penting untuk memahami bahwa pernyataan Elon Musk tidak dapat dimaknai secara harfiah dan tunggal. Ketika ia menyebut pekerjaan akan menjadi “opsional”, yang dimaksud bukanlah lenyapnya seluruh aktivitas manusia, melainkan perubahan struktur kerja. Pekerjaan yang bersifat repetitif, mekanis, dan berbasis pola memang sangat rentan digantikan oleh AI.

Saat ini, AI telah mampu melakukan berbagai tugas yang sebelumnya dikerjakan manusia, seperti layanan pelanggan otomatis, analisis data, pembuatan konten sederhana, hingga diagnosis awal dalam bidang kesehatan. Namun, kemampuan tersebut tetap bekerja dalam batas algoritma dan data. AI tidak memiliki kesadaran, empati, maupun tanggung jawab moral sebagaimana manusia.

Karena itu, masa depan kerja bukanlah tentang ketiadaan pekerjaan, melainkan tentang perubahan jenis pekerjaan. Manusia akan semakin dituntut untuk mengerjakan hal-hal yang tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada mesin.

Pandangan Para Ahli tentang Masa Depan Dunia Kerja

Berbeda dengan narasi tunggal tentang “hilangnya pekerjaan”, banyak pakar ekonomi dan teknologi melihat AI sebagai alat transformasi, bukan penghancur total lapangan kerja. World Economic Forum (WEF), dalam berbagai laporan resminya, menyebut bahwa AI akan menghilangkan sejumlah jenis pekerjaan, tetapi sekaligus menciptakan jenis pekerjaan baru.

Menurut WEF, pekerjaan masa depan akan lebih menuntut kemampuan berpikir kritis, kreativitas, literasi digital, serta kecakapan sosial. AI akan berperan sebagai co-worker atau co-pilot yang membantu manusia bekerja lebih efisien, bukan sepenuhnya menggantikan peran manusia.

Dengan demikian, tantangan utama bukanlah AI itu sendiri, melainkan kesiapan sistem pendidikan dan kebijakan publik dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang adaptif.

Kebijakan Pendidikan Indonesia di Tengah Disrupsi AI

Di tengah wacana global tersebut, pemerintah Indonesia mengambil langkah strategis melalui kebijakan pendidikan. Presiden Prabowo Subianto menyampaikan rencana pembukaan kampus-kampus kedokteran dan teknik yang dibiayai negara, sehingga mahasiswa tidak dibebani biaya kuliah.

Kebijakan ini menunjukkan kesadaran bahwa pendidikan tinggi tetap menjadi fondasi utama pembangunan bangsa. Alih-alih menyerah pada narasi bahwa AI akan menggantikan manusia, negara justru memperkuat kapasitas manusia melalui pendidikan formal.

Langkah ini juga dapat dibaca sebagai upaya negara untuk memastikan bahwa perubahan teknologi tidak menciptakan ketimpangan sosial yang lebih dalam.

Urgensi Pendidikan Kedokteran di Indonesia

Indonesia masih menghadapi kekurangan tenaga medis, terutama di daerah-daerah terpencil dan tertinggal. Rasio dokter terhadap jumlah penduduk masih jauh dari standar ideal yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Kondisi ini berdampak langsung pada kualitas layanan kesehatan masyarakat.

Pembukaan fakultas kedokteran gratis merupakan terobosan besar. Kebijakan ini membuka peluang bagi anak-anak dari keluarga tidak mampu untuk mengakses pendidikan kedokteran, yang selama ini dikenal mahal dan eksklusif. Dalam jangka panjang, kebijakan ini diharapkan dapat memperbaiki pemerataan tenaga kesehatan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Di era AI, profesi dokter justru menjadi contoh pekerjaan yang sulit digantikan sepenuhnya oleh mesin. Teknologi dapat membantu diagnosis dan administrasi, tetapi sentuhan kemanusiaan, empati, dan tanggung jawab etis tetap berada di tangan manusia.

Pendidikan Teknik sebagai Pilar Kemandirian Bangsa

Selain kedokteran, pendidikan teknik juga menjadi fokus utama. Bidang teknik berperan penting dalam pembangunan infrastruktur, industri, energi, dan teknologi nasional. Lulusan teknik diharapkan mampu menciptakan inovasi, bukan sekadar menjadi pengguna teknologi asing.

Dalam konteks AI, pendidikan teknik justru memungkinkan Indonesia untuk menjadi produsen teknologi, bukan hanya konsumen. Dengan sumber daya manusia yang kuat di bidang teknik dan sains, Indonesia memiliki peluang untuk mengembangkan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan dan nilai-nilai lokal.

Strategi Bertahan dan Berkembang bagi Manusia Indonesia

Menghadapi era AI, manusia Indonesia perlu menyiapkan strategi yang realistis dan berakar pada kondisi sosial budaya bangsa.

Pertama, penguatan keterampilan manusiawi seperti empati, kepemimpinan, dan komunikasi interpersonal harus menjadi bagian penting dari pendidikan. Keterampilan ini tidak dapat digantikan oleh algoritma.

Kedua, literasi teknologi harus diperluas. AI perlu dipahami sebagai alat bantu, bukan ancaman. Mereka yang mampu mengombinasikan keahlian profesional dengan pemanfaatan teknologi akan memiliki posisi yang kuat di dunia kerja.

Ketiga, pendidikan formal harus relevan dengan kebutuhan masa depan. Kebijakan pemerintah membuka akses pendidikan di bidang strategis perlu diiringi dengan kurikulum yang adaptif dan berorientasi pada pemecahan masalah.

Kesimpulan

Masa depan dunia kerja di era AI bukanlah kisah tentang punahnya peran manusia, melainkan tentang perubahan peran tersebut. Wacana global tentang AI perlu dibaca secara kritis dan kontekstual, terutama bagi negara berkembang seperti Indonesia.

Di tengah disrupsi teknologi, kebijakan pendidikan yang berpihak pada rakyat menjadi kunci utama. Pembukaan akses pendidikan kedokteran dan teknik secara gratis merupakan langkah strategis untuk memastikan bahwa manusia Indonesia tetap relevan, berdaya, dan bermartabat di era perubahan.

Dengan pendidikan yang tepat, keterampilan yang adaptif, dan keberanian untuk berubah, manusia Indonesia tidak akan tergilas oleh AI, melainkan berjalan berdampingan dengannya sebagai subjek utama pembangunan bangsa.

Daftar Referensi

1. Kumparan News
Prabowo Akan Buka Kampus Kedokteran dan Teknik, Mahasiswa Tak Boleh Bayar
https://kumparan.com/kumparannews/prabowo-akan-buka-kampus-kedokteran-dan-teknik-mahasiswa-tak-boleh-bayar-26cOS8FFTJy

2. ANTARA News
Prabowo: Negara Akan Biayai Kampus Kedokteran Gratis
https://gorontalo.antaranews.com/berita/379053/prabowo-negara-akan-biayai-kampus-kedokteran-gratis

3. CNBC Indonesia
Elon Musk Bilang Percuma Sekolah Dokter, Ungkap Penggantinya
https://www.cnbcindonesia.com/tech/20260114140325-37-702341/elon-musk-bilang-percuma-sekolah-dokter-ungkap-penggantinya

4. World Economic Forum
The Future of Jobs Report
https://www.weforum.org/reports/the-future-of-jobs-report

5. Workabroad.id
Pekerjaan yang Rentan Digantikan AI
https://www.workabroad.id/blog/pekerjaan-yang-digantikan-ai-8-pekerjaan-yang-digantikan-ai

Profil Novita Sari Yahya
Penulis dan Peneliti
Buku yang Diterbitkan:
1. Romansa Cinta Antologi 23 Cerpen
2. Padusi: Alam Takambang Jadi Guru
3. Novita & Kebangsaan
4. Ibu Bangsa, Wajah Bangsa
5. Perempuan Indonesia, Zamrud Khatulistiwa
6. Self Love: Rumah Perlindungan Diri
7. Makna di Setiap Rasa: Antologi Puisi
8. Siluet Cinta, Pelangi Rindu
Pemesanan Buku: 089520018812

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *