Oleh: Desrimaiyanto
Pesta demokrasi di tingkat nagari telah usai. Bilik suara telah jadi saksi, dan pemimpin baru telah ditetapkan. Kini, saatnya menurunkan bendera kampanye dan menaikkan kembali bendera kebersamaan. Pertanyaannya bukan lagi siapa yang kita pilih kemarin, melainkan apa yang akan kita bangun bersama besok.
Sebagai pedoman bersama, ada dua sisi mata uang yang harus berjalan selaras: Kedewasaan masyarakat dan tanggung jawab kepemimpinan.
Untuk Masyarakat: Memulihkan “Raso jo Pareso”
Pilihan boleh berbeda, namun nagari adalah rumah bersama. Bagi masyarakat, saatnya menerapkan kembali prinsip “Biduak lalu kiambang batauik”, setelah biduk (persaingan) lewat, kiambang (persatuan) harus bertaut kembali.
Hentikan Dikotomi Pendukung: Tidak ada lagi kubu Tokoh, kubu Toke, atau kubu Tageh. Yang ada hanyalah Anak Nagari yang menginginkan kemajuan. Fanatisme buta hanya akan menghambat pembangunan nagari itu sendiri.
Menjadi Pengawas yang Konstruktif: Mendukung Wali Nagari terpilih bukan berarti memberikan cek kosong. Masyarakat harus tetap kritis, namun dengan cara yang beradab (badunsanak). Awasi Dana Desa, pantau kebijakan pembangunan, namun sampaikan aspirasi lewat jalur yang tepat seperti Musyawarah Nagari (Musnag).
Untuk Wali Nagari Terpilih: Menjadi Pemimpin yang “Salasai”
Bagi Anda yang telah diberi amanah, gelar “Wali” bukan sekadar jabatan administratif, melainkan beban moral dan adat.
Rangkul Kembali Sang Lawan: Seorang pemimpin yang Tageh dan Tokok adalah ia yang berani merangkul rival politiknya. Gunakan potensi lawan bicara untuk membangun nagari. Jangan ada dendam politik dalam pelayanan publik.
Buktikan Kapasitas “Tokoh” dan “Toke”: Jika Anda terpilih karena dianggap Tokoh, buktikan wibawa Anda bisa menyatukan kaum. Jika Anda seorang Toke, gunakan jaringan Anda untuk membawa investasi dan kemakmuran tanpa menggerus hak-hak ulayat.
Transparansi adalah Kunci: Banyak pemimpin jatuh bukan karena kurang pintar, tapi karena kurang terbuka. Jadilah pemimpin yang “Salasai” dengan kepentingan pribadi, sehingga setiap rupiah Dana Desa benar-benar kembali ke kantong rakyat dalam bentuk manfaat.
Menuju Nagari yang Mandiri
Nagari yang kuat lahir dari sinergi antara masyarakat yang patuh pada aturan dan pemimpin yang rendah hati dalam mengabdi. Kita tidak butuh pemimpin yang hanya “manis di bibir” saat kampanye, tapi kita butuh Wali Nagari yang mampu mengawinkan ketegasan (Tageh) dengan kecerdasan (Tokok) untuk membawa perubahan nyata.
Mari kita tutup buku perselisihan. Wali Nagari terpilih kini bukan lagi milik tim sukses, melainkan milik seluruh anak nagari, dari hulu hingga muaro.
“Tibo di mato indak dipiciangkan, tibo di paruik indak dikempiskan.” Keadilan dan keberpihakan pada masyarakat adalah harga mati bagi pemimpin baru.














