Oleh : Novita sari yahya
Pendahuluan: Dunia yang Tidak Pernah Benar-Benar Damai
Dunia modern kerap menggaungkan narasi perdamaian, kerja sama internasional, dan pembangunan ekonomi berkelanjutan sebagai fondasi utama hubungan antarnegara. Namun, di balik pidato diplomatik dan forum global, realitas geopolitik menunjukkan wajah yang jauh lebih keras. Perang, sanksi ekonomi, intervensi militer, dan penggulingan rezim masih menjadi bagian dari dinamika internasional. Dalam konteks inilah, senjata nuklir kembali menjadi topik sentral bukan sebagai alat pemusnah massal semata, melainkan sebagai simbol kekuatan, jaminan keamanan, dan alat tawar paling efektif dalam politik global.
Sebuah cuplikan video yang beredar luas di media sosial menampilkan pernyataan Presiden Kazakhstan, Kassym-Jomart Tokayev, yang menyampaikan pandangan bahwa negara yang bertumpu pada nuklir tidak akan mencapai kemajuan ekonomi dan perdamaian dunia. Pernyataan normatif ini mencerminkan idealisme banyak negara yang memilih jalur non-nuklir. Namun, tanggapan singkat Presiden Rusia Vladimir Putin “Saddam Hussein juga berpikir begitu” menggugah diskusi lebih dalam tentang makna keamanan dalam tatanan dunia yang tidak setara.
Dialog Singkat yang Membuka Realitas Panjang
Komentar Putin tersebut, meskipun singkat, sarat makna geopolitik. Ia merujuk pada nasib Saddam Hussein, pemimpin Irak yang negaranya diserang dan rezimnya dijatuhkan oleh Amerika Serikat pada 2003 dengan dalih kepemilikan senjata pemusnah massal yang kemudian terbukti tidak ditemukan. Dalam logika realisme politik, ketiadaan senjata nuklir membuat Irak tidak memiliki daya cegah yang cukup untuk mencegah invasi.
Pernyataan ini sering digunakan untuk menegaskan satu pesan utama: dalam sistem internasional maka kekuatan militer khususnya senjata nuklir masih menjadi jaminan utama kedaulatan negara. Moral global dan hukum internasional sering kali tunduk pada kalkulasi kekuatan dan kepentingan strategis negara besar.
Nuklir dan Bargaining Position dalam Geopolitik Global
Pertanyaan mendasar yang muncul adalah: apakah senjata nuklir benar-benar menjadi posisi tawar paling ampuh agar sebuah negara tidak diserang atau dijatuhkan? Sejarah kontemporer menunjukkan pola yang sulit dibantah. Negara-negara yang memiliki senjata nuklir relatif tidak pernah mengalami invasi langsung oleh kekuatan besar, sementara negara non-nuklir lebih rentan terhadap tekanan militer dan politik.
Kasus terbaru yang memanaskan suhu geopolitik adalah penyerangan Amerika Serikat ke Venezuela dan penangkapan Presiden Nicolás Maduro dengan tuduhan melindungi kartel narkoba. Terlepas dari kontroversi dan perdebatan hukum internasional atas tindakan tersebut, peristiwa ini memperkuat persepsi bahwa kedaulatan negara non-nuklir dapat dengan mudah dilanggar ketika bertabrakan dengan kepentingan negara adidaya.
Rusia dan Amerika Serikat: Dominasi Nuklir Dunia
Rusia dan Amerika Serikat hingga kini masih mendominasi kekuatan nuklir global. Kedua negara memiliki ribuan hulu ledak nuklir dengan sistem pengiriman canggih, mulai dari rudal balistik antarbenua, kapal selam nuklir, hingga pembom strategis. Kepemilikan ini bukan semata warisan Perang Dingin, melainkan bagian dari strategi pertahanan dan pencegahan yang terus diperbarui.
Ancaman penggunaan nuklir, meskipun jarang diucapkan secara eksplisit, selalu menjadi bayang-bayang dalam setiap eskalasi konflik antara kekuatan besar. Ultimatum keras Rusia terhadap Eropa, misalnya, menunjukkan bahwa nuklir tetap menjadi kartu terakhir yang menentukan arah konflik global.
Korea Utara: Nuklir sebagai Jaminan Eksistensial
Korea Utara adalah contoh paling jelas bagaimana senjata nuklir digunakan sebagai alat bertahan hidup rezim. Di tengah sanksi internasional yang berat dan isolasi diplomatik, Pyongyang tetap bertahan dengan mengembangkan senjata nuklir dan rudal balistik.
Bagi Korea Utara, nuklir berfungsi sebagai pencegah utama terhadap ancaman eksternal, terutama dari Amerika Serikat dan sekutunya. Kepemilikan kemampuan serangan nuklir yang kredibel membuat opsi militer terhadap Korea Utara menjadi sangat berisiko. Selain itu, program nuklir juga menjadi alat tawar-menawar diplomatik untuk mendapatkan bantuan ekonomi, pelonggaran sanksi, atau pengakuan politik.
Dalam kerangka ideologi Juche dan kebijakan byungjin, nuklir bukan sekadar senjata, melainkan simbol kemandirian nasional dan ketahanan ideologis.
Iran: Ketahanan Nuklir di Tengah Tekanan Global
Iran menempuh jalur yang lebih kompleks. Secara resmi, Teheran menyatakan program nuklirnya bertujuan damai. Namun, pengembangan kemampuan pengayaan uranium hingga tingkat tinggi, pembangunan fasilitas bawah tanah seperti Fordow, serta pengembangan rudal balistik jarak jauh menunjukkan strategi pencegahan yang matang.
Iran bertahan dengan mengandalkan kemampuan domestik, melatih ilmuwan sendiri, dan membangun infrastruktur yang tersebar serta sulit dihancurkan. Serangan dan sanksi justru mendorong Iran untuk semakin mandiri secara teknologi. Program nuklir juga menjadi isu pemersatu domestik yang memperkuat legitimasi politik pemerintah di tengah tekanan eksternal.
Dalam negosiasi internasional, kemampuan nuklir Iran menjadi alat tawar yang efektif. Dengan menjaga posisi “di ambang nuklir”, Iran menciptakan ketegangan strategis yang memaksa lawan-lawannya untuk terus bernegosiasi.
Paradoks Perdamaian dan Nuklir
Di satu sisi, senjata nuklir dipandang sebagai ancaman terbesar bagi umat manusia. Di sisi lain, nuklir justru dianggap sebagai penjamin perdamaian melalui mekanisme deterrence. Paradoks inilah yang membuat dunia terjebak dalam keseimbangan rapuh antara ketakutan dan stabilitas.
Negara-negara yang memilih jalur non-nuklir sering kali dihadapkan pada dilema keamanan. Tanpa kekuatan peralatan perang yang setara terutama nuklir maka kedaulatan lebih mudah ditekan oleh kekuatan besar. Dalam konteks ini, idealisme tentang dunia tanpa nuklir berbenturan dengan realitas politik internasional yang belum sepenuhnya adil dan setara.
Penutup: Realisme yang Tidak Nyaman
Pernyataan Presiden Kazakhstan tentang pentingnya fokus pada ekonomi dan keharmonisan global adalah refleksi dari dunia yang diidealkan. Namun, respons singkat Vladimir Putin mencerminkan dunia sebagaimana adanya. Selama sistem internasional masih didominasi oleh politik kekuatan, senjata nuklir akan tetap menjadi faktor penentu dalam menjaga kedaulatan dan kelangsungan hidup negara.
Pertanyaan tentang nuklir bukan lagi sekadar soal moral atau kemanusiaan, melainkan soal eksistensi. Dalam dunia yang belum sepenuhnya damai, nuklir tetap menjadi bargaining position paling ampuh, sebuah kenyataan pahit yang terus menghantui peradaban modern.
Daftar Referensi
1. CNBC Indonesia. Putin & Xi Jinping Respons Trump Serang Venezuela, Tangkap Maduro.
https://www.cnbcindonesia.com/news/20260105104721-4-699639/putin-xi-jinping-respons-trump-serang-venezuela-tangkap-maduro
2. SINDOnews Internasional. Adu Kekuatan Senjata Nuklir Rusia vs Amerika Serikat.
https://international.sindonews.com/read/1471211/45/adu-kekuatan-senjata-nuklir-rusia-vs-amerika-serikat-siapa-unggul-1728637827
3. CNBC Indonesia Research. Ngeri! 1 Bom Nuklir Rusia Bisa Tewaskan Jutaan Orang.
https://www.cnbcindonesia.com/research/20230331082442-128-426051/ngeri-1-bom-nuklir-rusia-bisa-tewaskan-6-juta-orang-sekejap
4. GoodStats. Rusia dan Amerika Dominasi Kekuatan Nuklir Dunia 2025.
https://data.goodstats.id/statistic/rusia-dan-amerika-dominasi-kekuatan-nuklir-dunia-2025-4MGsw
5. Arms Control Association. Arms Control and Proliferation Profile: Russia.
https://www.armscontrol.org/factsheets/arms-control-and-proliferation-profile-russia
6. CNN Indonesia. Ultimatum Keras Putin: Rusia Menang Jika Eropa Memulai Perang.
https://www.cnnindonesia.com/internasional/20251203073546-134-1302130/ultimatum-keras-putin-rusia-menang-jika-eropa-memulai-perang
7. Kompas.id. Apa Alasan AS Menyerang Venezuela dan Menangkap Presiden Maduro.
https://www.kompas.id/artikel/apa-alasan-as-menyerang-venezuela-dan-menangkap-presiden-maduro
8. Detik.com. Reaksi Keras Rusia hingga China Usai AS Tangkap Presiden Venezuela.
https://news.detik.com/internasional/d-8292101/reaksi-keras-rusia-hingga-china-usai-as-tangkap-presiden-venezuela














