Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
BERITA UTAMAKesehatanTERBARU

Mengkudu, Buah Pahit yang Menyimpan Harapan Kesehatan

140
×

Mengkudu, Buah Pahit yang Menyimpan Harapan Kesehatan

Sebarkan artikel ini
Buah mengkudu yang menyimpan harapan kesehatan. (Dok. web)

Oleh: Desrimaiyanto

Aromanya menusuk hidung, rasanya getir tak bersahabat. Banyak orang memilih menjauh saat buah ini matang dan jatuh ke tanah. Namun di balik kesan yang kerap diremehkan itu, mengkudu justru menyimpan kisah panjang tentang ketahanan alam, kearifan lokal, dan harapan kesehatan.

Di sejumlah daerah di Sumatera Barat, mengkudu tumbuh tanpa banyak perawatan. Pohonnya berdiri tenang di pekarangan rumah, tepi kebun, bahkan di sela-sela semak. Tak perlu pupuk mahal atau teknik budidaya rumit. Alam seolah merawatnya sendiri. Warga setempat menyebutnya sebagai buah obat, meski jarang disantap sebagai buah segar.

“Kalau demam atau badan pegal, dulu orang tua kami cukup memeras mengkudu, dicampur sedikit madu,” tutur Yulinar, seorang warga di pinggiran Kota Padang. Ramuan sederhana itu menjadi pengetahuan turun-temurun, diwariskan jauh sebelum istilah herbal menjadi tren di perkotaan.

Secara ilmiah, mengkudu dikenal dengan nama Morinda citrifolia. Penelitian modern mencatat buah ini mengandung berbagai senyawa aktif seperti xeronine, proxeronine, scopoletin, serta antioksidan yang diyakini berperan dalam meningkatkan daya tahan tubuh. Tak heran, mengkudu kemudian naik kelas—dari tanaman pekarangan menjadi bahan baku industri jamu, suplemen, hingga minuman kesehatan.

Namun perjalanan mengkudu menuju pengakuan publik tidaklah instan. Bau menyengat dan rasa pahit menjadi tantangan tersendiri. Banyak produsen kemudian mengolahnya menjadi jus, kapsul, atau difermentasi agar lebih mudah dikonsumsi. Inovasi ini perlahan mengubah persepsi: mengkudu bukan lagi buah terbuang, melainkan komoditas bernilai ekonomi.

Di beberapa nagari, mengkudu mulai dilirik sebagai peluang usaha. Warga mengolahnya secara sederhana—dikeringkan, difermentasi, atau dijadikan sari buah. Selain menambah penghasilan, upaya ini juga menghidupkan kembali pengetahuan lokal yang nyaris tergerus zaman.

Meski demikian, para ahli mengingatkan agar konsumsi mengkudu tetap bijak. Tidak semua klaim kesehatan dapat diterima tanpa kajian lebih lanjut, dan konsumsi berlebihan justru berpotensi menimbulkan efek samping, terutama bagi penderita gangguan ginjal atau mereka yang sedang menjalani pengobatan tertentu.

Mengkudu mengajarkan satu hal penting: tidak semua yang tampak buruk di luar benar-benar tak bernilai. Di balik rasa pahit dan aroma tajam, tersembunyi pelajaran tentang kesabaran, kearifan lokal, dan cara manusia berdamai dengan alam.

Seperti hidup, mengkudu mengingatkan bahwa manfaat sering kali hadir dalam rupa yang tak kita duga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *