Oleh: Mhd.Wildan Ats’Tsauri
Univesitas Andalas
Selama ini, wacana perubahan iklim seolah terkurung di ruang-ruang ber-AC, hotel bintang lima, dan forum-forum bergengsi. Ia seringkali dibicarakan dengan bahasa yang teknis dan elitis, “jejak karbon”, “transisi energi”, atau “kendaraan tanpa emisi”. Namun, kita tidak perlu pergi jauh-jauh ke forum bergengsi untuk menyaksikan dampak paling nyata dan parah dari bencana global ini. Cukup melangkah ke sawah-sawah di pedesaan dan tatap raut wajah kebingungan para petani saat mereka menatap langit.
Bagi orang-orang di kota besar, cuaca buruk mungkin cuma berarti jalanan banjir yang bikin macet saat berangkat ke kantor, atau cuaca panas terik yang bikin kita harus menyalakan AC lebih lama. Tapi, bagi para petani kecil, cuaca yang tidak menentu adalah urusan perut, masa depan keluarga, dan hidup atau mati.
Sekarang cuaca sudah kacau balau. Kemarau panjang yang bikin sawah kering kerontang bisa tiba-tiba berubah jadi hujan badai berhari-hari yang merendam padi yang sudah menguning dan siap dipanen. Akibatnya sangat fatal, gagal panen kini bukan lagi musibah langka yang terjadi lima atau sepuluh tahun sekali, melainkan ancaman nyata di setiap musim tanam. Belum lagi serangan hama penyakit, seperti wereng atau tikus yang makin ganas karena suhu dan kelembapan udara yang naik-turun secara ekstrem. Petani terus-terusan dipaksa main tebak-tebakan dengan alam.
Masalahnya tidak berhenti di situ. Cuaca ekstrem membuat biaya tanam membengkak berkali-kali lipat. Saat kemarau panjang, air irigasi mati. Petani terpaksa menyewa pompa air dan membeli bahan bakar (bensin atau gas melon) setiap hari agar tanamannya tidak mati kehausan. Pengeluaran bertambah, tetapi hasil panennya belum tentu sepadan.
Ketika akhirnya gagal panen terjadi, penderitaan petani menjadi berkali-kali lipat. Dimana banyak petani kita yang menanam dengan modal dari utang. Ketika padi atau jagung mereka mati direndam banjir atau mati kekeringan, mereka tidak punya uang untuk mengembalikan pinjaman. Ujung-ujungnya, mereka terpaksa meminjam lagi ke tengkulak atau rentenir dengan bunga mencekik untuk modal tanam musim berikutnya. Ini adalah lingkaran setan atau “jebakan utang” yang sangat sulit diputus.
Melihat kondisi yang makin buruk ini, mungkin wajar jika anak-anak muda di desa kini kehilangan minat untuk meneruskan pekerjaan orang tuanya. Bertani dianggap sebagai pekerjaan yang terlalu berisiko, menguras keringat, tapi hasilnya sering kali hanya air mata.
Mereka lebih memilih merantau ke kota untuk menjadi buruh pabrik, pekerja bangunan, atau pengemudi ojek online.
Ketika petani merugi dan tidak panen, dampaknya langsung terasa ke meja makan kita semua. Harga beras jadi mahal, harga cabai melonjak, dan persediaan makanan kita terancam. Sayangnya, nasib buruk petani ini sering kali cuma dianggap sebagai “musibah alam biasa” oleh pemerintah.
Di sinilah letak ketidakadilan yang luar biasa. Kebijakan lingkungan yang dibuat pemerintah sering kali terlihat mewah, tapi tutup mata pada nasib rakyat kecil.
Pemerintah berani keluar uang triliunan rupiah dari uang negara untuk memberi subsidi diskon kepada orang-orang yang mau beli mobil atau motor listrik. Alasannya demi menyelamatkan lingkungan.
Tapi, pernahkah kita terbayang berapa banyak uang negara yang disiapkan untuk membantu petani kecil saat sawah mereka kebanjiran? Alih-alih membantu petani kecil yang sudah ada, pemerintah kadang lebih suka membuat proyek pertanian raksasa (seperti Food Estate) yang membabat hutan ribuan hektare, dikelola perusahaan besar, namun pada akhirnya sering kali gagal dan justru memperparah kerusakan lingkungan.
Di mana bantuan nyata seperti penyediaan bibit padi unggul yang tahan banjir atau tahan kekeringan? Apakah petani di pelosok desa diberi tahu secara cepat dan mudah dimengerti kalau minggu depan akan ada badai supaya mereka bisa bersiap? Jawabannya sering kali nihil. Mereka dibiarkan bertarung sendirian melawan cuaca.
Kenyataan ini membuktikan satu hal, krisis iklim paling menyiksa rakyat kecil. Mereka yang gaya hidupnya paling sederhana seperti petani kecil, nelayan tradisional, dan masyarakat adat justru yang paling menderita akibat rusaknya bumi ini. Padahal, yang merusak alam dan membuang polusi paling banyak adalah pabrik-pabrik raksasa, tambang, dan gaya hidup mewah orang-orang di kota atau negara maju.
Menyelamatkan lingkungan tidak cukup cuma dengan membangun pabrik baterai raksasa, pamer kendaraan listrik, atau pidato di mimbar internasional. Menyelamatkan lingkungan juga harus berarti melindungi rakyat kecil yang paling dirugikan oleh rusaknya alam.
Sudah saatnya pemerintah dan para politisi turun ke lapangan, melihat langsung lumpur dan sawah yang mengering. Bantuan dan perlindungan harus dimulai dari bawah. Berikan petani teknologi yang tepat, pastikan air irigasi mengalir lancar, hentikan alih fungsi lahan sawah, dan berikan jaminan ganti rugi atau asuransi yang mudah dicairkan saat mereka gagal panen karena cuaca ekstrem. Sebab, sehebat apa pun pujian dunia internasional terhadap program “ekonomi hijau” pemerintah kita, itu semua tidak ada artinya jika orang-orang yang meneteskan keringat untuk menanam makanan kita justru dibiarkan jatuh miskin dan kelaparan di tanahnya sendiri.









