Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
BeritaNASIONALTERBARU

Kisah Haru di Huntara Senen, Anak Warga yang Putus Sekolah Kini Bisa Kembali Belajar Berkat Sekolah Rakyat

17
×

Kisah Haru di Huntara Senen, Anak Warga yang Putus Sekolah Kini Bisa Kembali Belajar Berkat Sekolah Rakyat

Sebarkan artikel ini

JAKARTA,RELASIPUBLIK–Kebahagiaan sederhana terpancar dari wajah warga penghuni Hunian Sementara (Huntara) Senen, Jakarta Pusat. Bukan hanya karena kini memiliki tempat tinggal yang lebih layak setelah bertahun-tahun hidup di bantaran rel kereta api, tetapi juga karena anak-anak mereka kembali memiliki kesempatan untuk meraih masa depan melalui pendidikan.

Salah satu momen paling menyentuh terjadi saat Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Indonesia, Dony Oskaria, berdialog dengan warga ketika meninjau Huntara Senen, Selasa (3/11/2026).

Di tengah perbincangan hangat, seorang warga menyampaikan rasa syukur karena program Sekolah Rakyat telah mengubah keadaan anaknya yang sebelumnya putus sekolah.

“Alhamdulillah, Pak. Apalagi semenjak adanya Sekolah Rakyat, anak saya yang sebelumnya putus sekolah akhirnya bisa sekolah lagi,” ungkap seorang warga kepada Dony.

Mendengar cerita tersebut, Dony langsung merespons dengan penuh antusias.

“Wah, mantap!” jawabnya.

Ungkapan syukur itu menjadi gambaran bahwa kehadiran pemerintah tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kesempatan yang kembali terbuka bagi masyarakat kecil. Bagi seorang orang tua, melihat anaknya kembali bersekolah merupakan kebahagiaan yang tidak ternilai.

Kisah tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa perhatian terhadap warga Huntara Senen tidak berhenti pada penyediaan tempat tinggal. Akses pendidikan bagi anak-anak juga menjadi perhatian agar mereka tidak kehilangan kesempatan untuk menggapai cita-cita.

Dalam kunjungannya, Dony tampak berbincang akrab dengan warga. Ia menyapa satu per satu penghuni huntara dan menanyakan kebahagiaan mereka setelah menempati hunian baru.

“Senang, ya? Senang banget, ya? Happy?” tanya Dony.

“Happy,” jawab warga kompak.

Dony pun ikut tersenyum melihat antusiasme warga. Ia berharap hunian tersebut membawa keberkahan bagi kehidupan mereka.

“Insyaallah, mudah-mudahan berkah usahanya. Kompak-kompak, ya,” ujarnya.

Dony mengatakan, pembangunan Huntara Senen merupakan bagian dari upaya menghadirkan manfaat nyata BUMN bagi masyarakat. Menurutnya, keberadaan BUMN harus benar-benar dirasakan, terutama oleh masyarakat yang membutuhkan perhatian dan dukungan.

“Kegiatan hari ini kita mengunjungi rumah yang dibangun oleh BUMN secara bersama-sama. Kita ingin keberadaan BUMN itu memang dirasakan oleh masyarakat,” kata Dony.

Ia menyebut, penyediaan hunian tersebut juga menjadi bukti kepedulian Presiden Prabowo Subianto dan Sekretaris Kabinet terhadap kehidupan masyarakat kecil.

Menurut Dony, warga yang sebelumnya tinggal di bantaran rel kini mendapatkan kesempatan untuk menjalani kehidupan yang lebih layak. Sebagian besar dari mereka bekerja sebagai pemulung dan selama ini menghadapi keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan hidup.

Namun, baginya, hunian yang layak harus berjalan beriringan dengan pendidikan yang baik.

“Kalau kita tinggal di tempat yang sudah enak, sekolahnya juga harus bagus supaya masa depannya baik,” ujarnya.

Dony menegaskan, tidak boleh ada anak yang kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan hanya karena keterbatasan ekonomi maupun kondisi tempat tinggal.

“Yang penting, anak-anak harus sekolah. Jangan sampai anak-anaknya tidak sekolah. Kita bantu masukin Sekolah Rakyat,” katanya.

Ia menjelaskan, Sekolah Rakyat memberikan fasilitas pendidikan sekaligus kebutuhan dasar bagi para peserta didik, mulai dari makan, tempat tinggal, hingga pendidikan yang seluruhnya telah disiapkan.

“Sekolah itu bisa mengubah masa depan. Jadi, anak-anak harus sekolah. Kalau di Sekolah Rakyat, mereka sudah dapat makan, tempat tidur, pendidikan, semuanya sudah diurusin,” tutur Dony.

Ia juga memastikan bahwa pemerintah berupaya membuka akses pendidikan seluas-luasnya bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

“Bisa, semua bisa. Nanti kita urus supaya anak-anak sekolah. Tujuan Bapak Presiden kan semua rakyat Indonesia harus mampu mengakses pendidikan, apa pun levelnya,” tambahnya.

Tidak hanya menyediakan tempat tinggal dan akses pendidikan, kawasan Huntara Senen juga dilengkapi sejumlah fasilitas pendukung kehidupan warga. Di antaranya masjid, ruang keluarga, serta ruang berkumpul yang dapat dimanfaatkan untuk mempererat hubungan antarwarga.

Dony mengungkapkan, fasilitas olahraga juga tengah disiapkan, termasuk rencana pembangunan lapangan mini soccer bagi anak-anak.

Menurutnya, lingkungan yang sehat dan fasilitas bermain sangat penting untuk mendukung tumbuh kembang anak. Dengan adanya ruang beraktivitas, anak-anak dapat bersosialisasi, bermain, dan tumbuh dalam lingkungan yang lebih baik.

“Ini penting buat anak-anak kita. Mereka bisa bersosialisasi dengan sehat, di lingkungan yang sehat. Harapannya, tentu mereka tumbuh menjadi anak-anak yang sehat dan kuat untuk masa depan bangsa kita,” ungkapnya.

Program penyediaan Huntara Senen merupakan kolaborasi BUMN di bawah koordinasi PT Kereta Api Indonesia (KAI), sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kehadiran hunian tersebut menjadi wujud komitmen pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dalam menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat.

Pada akhirnya, kebahagiaan warga Huntara Senen bukan semata tentang memiliki rumah yang lebih nyaman. Ada harapan yang kembali tumbuh, ada anak yang kembali mengenakan seragam sekolah setelah sempat kehilangan kesempatan belajar, dan ada masa depan yang kini terasa lebih dekat.

Di balik senyum seorang ibu yang anaknya kembali bersekolah, tersimpan pesan sederhana namun bermakna bagi negara: pembangunan akan benar-benar terasa ketika mampu mengubah kehidupan masyarakat.

Sebab, bagi keluarga tersebut, Program Sekolah Rakyat adalah kesempatan kedua bagi seorang anak untuk kembali menggapai masa depan.

“Kepada pak Prabowo, saya bangga pak. Sehat-sehat Bapak Presiden. Berkat Bapak, anak saya yang putus sekolah sekarang bisa sekolah lagi.” (***)