Oleh : Diana Fauziah Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya University Andalas
Australia menerbitkan uang kertas polimer yang memuat wajah seorang wanita dan juga penggalan puisi dari Dame Mary Gilmore pada pecahan $10 sejak 1 November 1993. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghargaan atas kontribusi Dame Mary Gilmore bagi Australia di bidang Sejarah dan sastra. Selain itu, hal tersebut menjadi bagian dari fitur keamanan pada uang kertas yang berbentuk microprint.
“No foe shall gather our harvest,
Or sit on our stockyard rail.”
“Tak ada musuh yang akan memanen hasil bumi kami, atau duduk di pagar kandang ternak kami”.
Penggalan puisi tersebut tercetak pada uang pecahan $10 Australia yang dikeluarkan pada tanggal 1 November 1993. Tercetak di sisi kiri potret Dame Mary Gilmore dan kutipan lainnya ditulis dalam ukuran yang sangat kecil hingga sulit untuk dilihat. Hal ini merupakan bagian dari salah satu fitur keamanan uang kertas.
Penggalan itu berasal dari puisi karya Dame Mary Gilmore yang berjudul “No Foe Shall Gather Our Harvest”. Sebenarnya siapakah Dame Mary Gilmore itu?
Dame Mary Gilmore adalah seorang penyair, penulis, dan aktivis perempuan Australia yang selain penggalan dari puisinya, ternyata wajahnya juga dapat kita temukan di uang pecahan $10 Australia. Namun, kita pasti bertanya-tanya mengapa wajah dan penggalan puisinya bisa tercetak di uang $10 Australia? Mari kita bahas lebih lanjut!
Dame Mary Gilmore lahir dengan nama Mary Jean Cameron. Lahir pada 16 Agustus 1865 di Cotta Walla, New South Wales, dari pasangan Donald Cameron dan Mary Ann Beattie. Setelah menikah dengan William Gilmore pada 25 Mei 1897 di Cosme, Paraguay, ia kemudian lebih dikenal dengan nama Mary Gilmore.
Selain seorang penyair dan penulis, Dame Mary Gilmore juga merupakan seorang jurnalis, guru, dan aktivis sosial Australia. Ia dikenal karena memperjuangkan hak-hak perempuan, kesejahteraan pekerja, masyarakat miskin, dan masyarakat Indigenous. Ia banyak menulis tentang kehidupan pedesaan, masyarakat Australia, pekerjaan, dan keadilan sosial.
Pada tahun 1937, ia mendapat gelar Dame Commander of the Order of the British Empire (DBE) atas kontribusinya dalam bidang sastra. Selama Perang Dunia II, ia menulis puisi “No Foe Shall Gather Our Harvest”. Puisi ini menunjukkan rasa patriotisme dan kepeduliannya terhadap Australia.
Gilmore meninggal pada 3 Desember 1962 pada usia 97 tahun. Dame Mary Gilmore kemudian dikremasi lalu abunya dimakamkan di makam suaminya, William Gilmore, yang meninggal pada Februari 1945, di Cloncurry Cemetery, Queensland, Australia.
Bagi sejumlah mahasiswa, puisi di atas uang ini terasa tidak biasa. “Jarang ada yang ngaitin uang sama sastra,” ujar Aqilah Humaidi, mahasiswa Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas.
Menurutnya, lewat topik ini mahasiswa dapat “belajar sastra dan sejarah Australia lewat sesuatu yang nyata, bukan cuma dari buku.”
Sementara itu, Nadya Ulya, mahasiswa jurusan yang sama, menilai uang tersebut menunjukkan bagaimana Australia menghargai tokoh perempuan dan penulisnya.
Anisah Desmalia Putri, yang juga mahasiswa Sastra Inggris, menambahkan bahwa budaya suatu negara “tidak hanya berupa tradisi atau kesenian, tetapi juga inovasi.”
Atas segala kontribusinya bagi negara, Dame Mary Gilmore menjadi tokoh penting dalam sejarah dan sastra Australia. Pada tahun 1993, wajahnya ditampilkan pada uang $10 Australia, yang juga memuat microprint dari puisinya “No Foe Shall Gather Our Harvest”. Di sisi lainnya, wajah Banjo Paterson juga tercetak pada uang $10 Australia.
Pada awalnya, masyarakat Australia menggunakan sistem barter untuk bertransaksi. Namun, setelah munculnya koloni yang makin berkembang menyebabkan munculnya berbagai bentuk alat transaksi yang bisa digunakan. Pada tahun 1851, emas ditemukan sehingga mendorong pencetakan koin emas dan perbankan.
Pada tahun 1910, pemerintah membuat aturan bahwa penerbitan uang kertas harus berada di bawah pemerintahan setelah sebelumnya bank-bank swasta bisa menerbitkan uang kertas sendiri. Uang kertas Australia pertama kali dicetak pada tanggal 1 Mei 1913 dengan nominal 10 shilling.
Pada tahun 1912 seorang warga Inggris bernama Thomas Samuel Harrison diangkat sebagai pencetak uang kertas pertama di Australia. Lokasi percetakan pertama uang kertas ini berada di dekat dermaga di ujung barat Flinders Street di Melbourne.
Saat ini, uang Australia terdiri dari pecahan $5, $10, $20, $50, dan $100. Uang ini memiliki berbagai fitur keamanan baru pada seri yang diperkenalkan pada tahun 2016 dan pecahan $10 yang terbaru diterbitkan pada 20 September 2017 lalu.
Lalu, bisakah uang polimer dipakai di Indonesia?
Ketiga narasumber menjawab bisa. Iklim tropis yang lembap dinilai cocok dengan sifat polimer yang tahan air dan tidak mudah sobek.
“Banyak masyarakat yang menyimpan uang di saku atau dompet sehingga uang mudah basah karena keringat atau hujan,” kata Anisah.
Meski begitu, Aqilahh mengingatkan bahwa biaya produksi awal lebih mahal dan mesin ATM harus disesuaikan, sehingga penerapannya lebih realistis bila dilakukan bertahap.
Nadya menambahkan, kebiasaan masyarakat yang sudah nyaman dengan uang kertas juga menjadi tantangan. Secara historis, Indonesia pernah menerbitkan uang polimer pecahan Rp50.000 pada 1993 dan Rp100.000 pada 1999, tetapi kemudian kembali memakai kertas berserat kapas.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa Australia telah mengalami perubahan sistem dari yang awalnya barter dan uang kertas swasta menjadi uang kertas polimer yang lebih modern, aman, tahan lama, dan sulit untuk dipalsukan.
Sumber: Reserve Bank of Australia









