PESISIR SELATAN – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Periode II Universitas Andalas dari Program Studi Ilmu Politik melaksanakan program edukasi politik bagi pelajar tingkat sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), dan sekolah menengah atas (SMA) di wilayah pengabdian KKN. Kegiatan yang berlangsung pada 24 Juli hingga 1 Agustus 2026 tersebut merupakan bagian dari program kerja individu mahasiswa dalam bidang pendidikan politik.
Program ini dilaksanakan secara berjenjang dengan menyesuaikan materi, metode penyampaian, serta bentuk aktivitas dengan karakteristik peserta pada masing-masing tingkat pendidikan. Materi yang diberikan mencakup kepemimpinan, kesetaraan gender, demokrasi, serta integritas dan antikorupsi. Khusus pada jenjang SMA, materi diperluas dengan pembahasan mengenai pemilih pemula, literasi politik bagi Generasi Z, hubungan antara politik dan kebijakan publik, serta etika politik dan integritas.
Pendekatan berjenjang digunakan agar pendidikan politik tidak diberikan dalam bentuk materi yang seragam kepada seluruh peserta. Pemahaman mengenai politik diperkenalkan melalui persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari peserta, kemudian dikembangkan sesuai dengan tingkat usia dan kemampuan berpikir mereka.
Pada jenjang SD, kegiatan ditujukan kepada siswa kelas V dan VI. Materi difokuskan pada pengenalan kepemimpinan, tanggung jawab, kerja sama, kesetaraan, serta nilai-nilai dasar dalam kehidupan bersama. Penyampaian dilakukan secara interaktif dengan menggunakan contoh yang dapat ditemukan peserta di lingkungan sekolah.
Konsep kepemimpinan, misalnya, diperkenalkan melalui situasi sederhana seperti pemilihan ketua kelas, ketua kelompok belajar, pembagian tugas dalam kelompok, maupun kegiatan bersama di sekolah. Melalui contoh tersebut, peserta diperkenalkan pada hubungan antara kepemimpinan dengan tanggung jawab dan kemampuan bekerja sama.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa KKN tidak menempatkan kepemimpinan semata-mata sebagai persoalan mengenai siapa yang menjadi pemimpin. Pembahasan juga diarahkan pada bagaimana seseorang menjalankan tanggung jawab, mendengarkan pendapat orang lain, mengambil keputusan bersama, serta melaksanakan tugas yang telah diberikan.
Materi kesetaraan gender juga diperkenalkan melalui situasi yang dekat dengan kehidupan siswa. Peserta diajak memahami bahwa kesempatan untuk belajar, berpartisipasi, menyampaikan pendapat, serta menjalankan tanggung jawab dalam lingkungan sekolah tidak semestinya dibatasi berdasarkan jenis kelamin.
Pada jenjang SMP, pendekatan pembelajaran dikembangkan melalui diskusi kelompok atau Focus Group Discussion (FGD). Peserta, khususnya siswa kelas VII dan IX, diberikan ruang untuk menyampaikan pandangan dan mendiskusikan berbagai persoalan yang berkaitan dengan kepemimpinan, demokrasi, kesetaraan gender, dan integritas.
Metode diskusi digunakan untuk memberikan kesempatan kepada peserta tidak hanya menerima informasi, tetapi juga menyampaikan pendapat dan menanggapi pandangan peserta lainnya. Topik pembahasan dikaitkan dengan kehidupan sekolah dan lingkungan sosial yang mereka hadapi sehari-hari.
Dalam konteks demokrasi, misalnya, peserta diajak melihat praktik sederhana yang dapat ditemukan di lingkungan sekolah, seperti pemilihan ketua kelas, pengambilan keputusan dalam kelompok, penyampaian pendapat, dan penghargaan terhadap perbedaan pandangan. Dari situ, demokrasi diperkenalkan sebagai proses yang berkaitan dengan partisipasi, aturan, tanggung jawab, serta penghormatan terhadap pendapat orang lain.
Pembahasan mengenai integritas juga ditempatkan dalam konteks yang dapat dipahami oleh peserta. Integritas diperkenalkan melalui perilaku sehari-hari, seperti kejujuran dalam mengerjakan tugas, tidak mengambil hak orang lain, menjalankan tanggung jawab, dan berani mengakui kesalahan. Dengan demikian, pembahasan antikorupsi tidak hanya ditempatkan pada persoalan korupsi dalam pemerintahan, tetapi juga pada pembentukan kebiasaan yang berkaitan dengan kejujuran dan tanggung jawab.
Sementara itu, pada jenjang SMA, materi diarahkan pada pemahaman politik yang lebih luas karena peserta berada pada tahap pendidikan yang semakin dekat dengan posisi sebagai pemilih pemula. Mahasiswa KKN memberikan materi mengenai pemilih pemula, literasi politik, Generasi Z dan politik, politik dan kebijakan publik, serta etika politik dan integritas.
Materi pemilih pemula diberikan untuk memperkenalkan kepada siswa mengenai hak dan tanggung jawab sebagai warga negara yang nantinya akan menggunakan hak pilih. Pembahasan tidak diarahkan pada pilihan politik tertentu, melainkan pada bagaimana calon pemilih memahami informasi politik dan menggunakan pertimbangan yang rasional dalam menentukan pilihan.
Mahasiswa KKN juga menjelaskan keterkaitan antara politik dan kebijakan publik. Politik tidak hanya berkaitan dengan pemilu atau aktivitas partai politik, tetapi juga berhubungan dengan proses pengambilan keputusan yang menghasilkan kebijakan dan memengaruhi kehidupan masyarakat. Kebijakan di bidang pendidikan, kesehatan, transportasi, lingkungan, ekonomi, maupun pelayanan publik merupakan bagian dari kehidupan masyarakat yang memiliki keterkaitan dengan proses politik.
Materi tersebut juga dikaitkan dengan posisi Generasi Z sebagai kelompok yang tumbuh dalam lingkungan digital. Peserta diajak memahami bahwa akses terhadap informasi politik yang semakin mudah tidak selalu berarti seluruh informasi yang diterima dapat langsung dipercaya. Kemampuan memeriksa sumber informasi, membandingkan informasi, memahami konteks, dan membedakan fakta dengan opini menjadi bagian penting dalam literasi politik.
Dalam pembahasan etika politik, mahasiswa KKN memperkenalkan sejumlah nilai yang berkaitan dengan integritas, seperti kejujuran, tanggung jawab, penghormatan terhadap perbedaan, serta kesediaan mempertanggungjawabkan keputusan. Materi ini ditempatkan sebagai bagian dari pendidikan kewargaan yang dapat diterapkan tidak hanya dalam aktivitas politik, tetapi juga dalam kehidupan sekolah dan masyarakat.
Untuk mendukung pelaksanaan kegiatan, mahasiswa KKN menyusun materi pembelajaran dalam bentuk modul yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing jenjang pendidikan. Penyusunan materi dilakukan dengan memanfaatkan pengetahuan yang diperoleh selama menempuh pendidikan di Program Studi Ilmu Politik Universitas Andalas dan kemudian disederhanakan ke dalam bentuk pembelajaran yang dapat digunakan oleh peserta didik.
Penggunaan modul tersebut juga membantu menjaga kesesuaian materi pada setiap pelaksanaan kegiatan. Meskipun substansi utama yang dibahas berada dalam satu tema besar pendidikan politik, bentuk penyampaian dibedakan berdasarkan jenjang peserta. Pada SD, materi lebih banyak menggunakan contoh konkret dan aktivitas interaktif. Pada SMP, peserta diarahkan pada proses diskusi dan pertukaran pendapat. Sementara pada SMA, pembahasan dikembangkan menuju persoalan politik, kebijakan publik, pemilih pemula, serta literasi politik.
Untuk memperoleh gambaran mengenai pemahaman peserta terhadap materi yang diberikan, mahasiswa KKN menggunakan instrumen pre-test dan post-test. Pre-test diberikan sebelum penyampaian materi, sedangkan post-test diberikan setelah kegiatan selesai. Kedua instrumen tersebut digunakan sebagai bagian dari evaluasi untuk melihat tingkat pemahaman peserta sebelum dan setelah mengikuti kegiatan.
Penggunaan evaluasi tersebut menjadi bagian dari upaya mahasiswa untuk melaksanakan kegiatan pendidikan politik secara terukur. Hasil evaluasi dapat digunakan untuk melihat bagian materi yang telah dipahami maupun materi yang masih membutuhkan penjelasan lebih lanjut.
Dari sisi pelaksanaan KKN, kegiatan ini menempatkan mahasiswa tidak hanya sebagai pelaksana program, tetapi juga sebagai fasilitator yang membawa pengetahuan akademik ke dalam lingkungan masyarakat. Pengetahuan mengenai politik, demokrasi, kepemimpinan, kesetaraan gender, dan integritas diterjemahkan ke dalam materi yang lebih dekat dengan pengalaman peserta didik.
Pelaksanaan kegiatan pada tiga jenjang pendidikan juga menunjukkan adanya perbedaan kebutuhan dalam pendidikan politik. Pelajar SD membutuhkan pengenalan terhadap konsep dasar melalui pengalaman sehari-hari, pelajar SMP membutuhkan ruang untuk berdiskusi dan membangun pemahaman melalui pertukaran pendapat, sedangkan pelajar SMA mulai diperkenalkan pada isu politik yang lebih kompleks, termasuk posisi mereka sebagai calon pemilih.
Program edukasi politik tersebut menjadi salah satu bentuk pelaksanaan program kerja individu mahasiswa KKN Reguler Periode II Universitas Andalas di bidang pendidikan politik. Kegiatan dilaksanakan dengan melibatkan pelajar sebagai peserta dan menyesuaikan proses pembelajaran dengan karakteristik masing-masing jenjang pendidikan.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, materi pendidikan politik diperkenalkan secara bertahap, mulai dari kepemimpinan, tanggung jawab, kesetaraan, dan kerja sama pada tingkat SD; demokrasi, diskusi, kesetaraan, dan integritas pada tingkat SMP; hingga pemilih pemula, literasi politik, kebijakan publik, etika politik, dan integritas pada tingkat SMA.
Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang bagi mahasiswa Ilmu Politik Universitas Andalas untuk menerapkan pengetahuan akademik dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui pendidikan politik yang disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik.













