Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
BERITA UTAMAPERISTIWATERBARU

Busa Diduga Limbah Cemari Tiga Desa di Sungai Percut, KTH AMPHIBI Desak Pemerintah Bertindak

5
×

Busa Diduga Limbah Cemari Tiga Desa di Sungai Percut, KTH AMPHIBI Desak Pemerintah Bertindak

Sebarkan artikel ini
Busa putih diduga akibat pencemaran menutupi muara Sungai Percut dan saluran irigasi menuju sawah warga di Deli Serdang.
Busa putih tebal tampak menutupi kawasan muara Sungai Percut hingga masuk ke saluran irigasi dan areal persawahan di Desa Pematang Lalang, Desa Percut, dan Desa Cinta Rakyat, Kabupaten Deli Serdang, Selasa (30/6/2026).

Busa Diduga Limbah Cemari Tiga Desa di Sungai Percut, KTH AMPHIBI Desak Pemerintah Bertindak

DELI SERDANG, RELASI PYBLIK – Pencemaran yang diduga berasal dari limbah kembali terjadi di Sungai Percut, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang. Busa putih pekat yang menyerupai gumpalan awan dilaporkan meluas hingga menggenangi tiga desa, Selasa (30/6/2026), sehingga memicu kekhawatiran masyarakat terhadap dampak lingkungan dan pertanian.

Berdasarkan pantauan di lapangan, busa tidak hanya menutupi kawasan muara Sungai Percut, tetapi juga terbawa arus masuk ke saluran irigasi hingga menggenangi areal persawahan di Desa Pematang Lalang, Desa Percut, dan Desa Cinta Rakyat.

Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) AMPHIBI Percut, A. Sayuti, mengatakan fenomena tersebut mulai terlihat sekitar pukul 03.00 WIB. Hingga pukul 07.14 WIB, busa masih tampak mengapung dengan ketebalan cukup tinggi di sepanjang kawasan estuari hingga jaringan irigasi pertanian.

“Busa sudah menyebar dari kawasan muara menuju saluran irigasi dan masuk ke sawah masyarakat di tiga desa. Kondisi ini tentu sangat mengkhawatirkan,” ujar A. Sayuti.

Ketua Umum KTH AMPHIBI, Agus Salim Tanjung (AST), menilai pencemaran tersebut berpotensi mengancam kelestarian ekosistem Sungai Percut, termasuk kawasan hutan mangrove yang selama ini dikelola kelompoknya sebagai kawasan konservasi dan edukasi lingkungan.

Menurutnya, lapisan busa yang menutupi permukaan air dapat menghambat proses pertukaran oksigen di perairan sehingga berpotensi mengganggu pertumbuhan vegetasi mangrove.

“Apabila kondisi ini terus berlangsung, akar napas mangrove bisa tertutup busa sehingga mengganggu proses respirasi tanaman. Jika mangrove rusak, masyarakat pesisir akan kehilangan benteng alami yang selama ini melindungi kawasan dari abrasi dan banjir rob,” kata Agus.

Ia menyebut kawasan mangrove tersebut selama ini menjadi pelindung bagi sekitar 300 kepala keluarga nelayan yang bermukim di wilayah pesisir Kecamatan Percut Sei Tuan.

Selain berdampak terhadap ekosistem pesisir, Agus juga mengungkapkan kekhawatiran terhadap lahan pertanian warga. Menurutnya, busa yang diduga berasal dari limbah mengandung bahan kimia, termasuk surfaktan, telah memasuki areal persawahan sehingga berpotensi memengaruhi pertumbuhan tanaman padi.

“Kami khawatir tanaman padi mengalami gangguan bahkan berpotensi menurunkan hasil panen apabila kondisi ini tidak segera ditangani. Dampaknya bukan hanya terhadap lingkungan, tetapi juga terhadap mata pencaharian masyarakat,” ujarnya.

KTH AMPHIBI Sampaikan Tiga Tuntutan

Menyikapi kondisi tersebut, KTH AMPHIBI meminta pemerintah daerah bersama instansi terkait segera mengambil langkah konkret guna mengetahui penyebab pencemaran sekaligus mencegah dampak yang lebih luas.

Adapun tiga tuntutan yang disampaikan yakni:

  1. Segera mengambil sampel air, busa, dan tanah di lokasi terdampak untuk dilakukan pengujian laboratorium.
  2. Melaksanakan audit lingkungan secara menyeluruh guna mengidentifikasi sumber pencemaran di wilayah hulu Sungai Percut.
  3. Menindak tegas pihak yang terbukti melakukan pencemaran sesuai ketentuan hukum serta memberikan ganti rugi kepada masyarakat terdampak apabila terbukti terjadi kerugian.

Agus berharap pemerintah, aparat penegak hukum, dan instansi teknis segera turun ke lapangan untuk melakukan investigasi sehingga penyebab munculnya busa dapat dipastikan melalui hasil uji ilmiah.

“Kami berharap pemerintah segera bertindak agar penyebab pencemaran dapat diketahui secara pasti. Lingkungan Sungai Percut harus diselamatkan demi keberlangsungan hidup masyarakat yang bergantung pada sungai ini,” tutupnya.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari instansi pemerintah maupun pihak yang diduga menjadi sumber pencemaran terkait penyebab munculnya busa di Sungai Percut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *