Peringatan HSN di Sawahlunto. TIDAK ADA ISLAM RADIKAL

SAWAHLUNTO. RELASIPUBLIK

       Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) yang ke-5 di Kota Sawahlunto diselenggarakan dalam bentuk Tabligh Akbar dan tidak ada  upacara bendera seperti tahun-tahun  sebelumnya.

     Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Sawahlunto Idris Nazar menyebutkan, sesuai arahan pimpinan, HSN boleh dilaksanakan dalam tiga bentuk kegiatan yaitu  gerakan bersih-bersih pesantren, upacara bendera dan tabligh akbar.

“Di Sawahlunto ini kita adakan dua
saja yakni bersih-bersih pesantren dan tabligh akbar,” katanya saat  memberikan sambutan peringatan HSN di Masjid Agung Nurul Islam, pada  Selasa 22/10.

     Peringatan HSN ini, sambung Idris Nazar bukan berarti bentuk intervensi pemerintah melainkan penghargaan atas perjuangan kaum santri selama ini dalam membela negara.

“Hari santri merupakan implementasi spirit kebangsaan, nasionalisme serta spirit memperbaiki akhlak dan moral bangsa,” tambahnya.

      Sementara itu  Ketua DPRD Kota Sawahlunto  yang  diwakili Irlan,  menyampaikan ucapan selamat HSN yang ke 5,  disamping itu DPRD  juga siap mendukung jika Pemerintah Kota nantinya mengusulkan anggaran peringatan Hari Santri Nasional untuk tahun berikutnya , katanya.

     Disamping program tahfiz. Lanjut Irlan, DPRD  Bahkan  akan menindaklanjuti UU pesantren jika diperlukan dalam bentuk Perda.

“Peringatan Hari Santri kali ini patut disyukuri dan istimewa dengan lahirnya undang undang pesantren,” sebutnya.

     Sementara itu, Wakil Walikota Sawahlunto Zohirin Sayuti mengungkapkan, santri patut berbangga  dengan ditetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional, . Hal ini menurut Zohirin menunjukkan pemerintah sangat memperhatikan pentingnya pendidikan agama apalagi dengan lahirnya Undang-undang Nomor 18 tahun 2019 tentang Pesantren, ujarnya.

      Pada kesempatan tersebut Wawako juga mengungkapkan kekesalannya terhadap istilah Islam radikal yang mencuat akhir-akhir ini.
” Ia menegaskan tidak ada islam radikal karena ajaran Islam  mengajarkan kedamaian dan rahmat bagi sekalian alam. Yang radikal itu bukan agama islam tetapi penganutnya yang salah dalam memahami ajarannya,” tegas Zohirin.

     Dihadapan peserta tabligh akbar yang hadir dari berbagai elemen masyarat, pejabat terkait dan para santri, selain menyinggung perkembangan pondok tahfiz binaan pemerintah daerah, Zohirin Sayuti juga  berpesan kepada para santri bahwa sebagai generasi penerus bangsa diharapkan dapat  berperan meluruskan pemahaman keliru termasuk konflik di tengah-tengah masyarakat.pungkasnya.

     Usai menyerahkan penghargaan atas partisipasi santri Pondok pesantren Ababil Lunto dalam mengikuti Pekan Olahraga Seni tingkat Sumatera Barat belum lama ini, Wawako Zohirin Sayuti yang didampingi Kepala Kankemenag Idris Nazar  beserta para undangan lainnya menyempatkan diri  menyaksikan kesenian religi “Hadroh” yang ditampilkan sejumlah santri di Halaman Masjid Agung Nurul Islam.

     Pada acara tabligh akbar bertindak selaku penceramah pada peringatan Hari Santri Nasional di Kota Sawahlunto tersebut adalah Ustad Ibrahim dari Kota Sawahlunto. (Jun)