Jalan Licin Menuju Pilkada Sumbar, Mulyadi-Gusmal Sikuda Hitam

Oleh : Syamsul Azwar

Panggung demokrasi Pilkada kian bergetar dan mendebarkan. Baik Untuk Perebutan Kursi Gubernur Sumbar, maupun Untuk perebutan kursi empuk bupati dan walikota di beberapa daerah di Sumatera Barat. Namun Potret demokrasi masih menempuh jalan licin dan berliku.

Poster publik figur semakin menghiasi daerah hingga ke pelosok nagari, politisi, pejabat, pengusaha serta perantau begitu kuat keinginan untuk mengabdi di masing masing wilayahnya. Namun sampai sejauh ini belum satupun kepastian partai yang mengusung, para balon yang tampil, terkesan masih begitu enggan manampilkan logo partai pada balihonya.

Seakan partai belum memberikan arti penting untuk ditampilkan kepada rakyat, menyongsong Pilkada yang kian mendekat. Seakan keberadaan partai kian tumpul dibalik peran indah aktor aktor partai politik, tak lagi menjadi sebuah rahasia bagi rakyat, sebegitu mahalkah? untuk mendapatkan sebuhh logo partai bagi putra putri terbaik bangsa yang tampil saat ini, ditengah virus corona yg saat ini mulai mencabik dan mengusik para elit bangsa dan rakyatnya.

Genderang Pilkada telah ditabuhkan kehadapan rakyat, meski Penyelenggara, KPU Belum menetapkan Calon dan Pihak Panwas masih belum lagi keluar akte kelahirannya. Namun sejumlah nama telah mengapung dan menjadi perbincangan hangat di tingkat Masyarakat. Salah satunya untuk calon Gubernur Sumbar,, H Mulyadi-H Gusmal menjadi perbincaraan warga dari lapau ke lapau yang kian menghangat di ranah Kabupaten Solok.

Banyak pihak memprediksikan bila H.Mulyadi-H. Gusmal berpasangan diyakini akan menjadi kuda hitam untuk merebut kursi yang bakal ditinggal Irwan Prayitno dan Nasrul Abit,, benarkah…?.

Analisa ini tentu memiliki alasan, misalnya sosok Mulyadi dengan menunggangi kendaraan demokratnya mampu mengantongi suara tertinggi di wilayahnya saat merebut kursi Anggota DPR RI, kajian ini pun sangat relevan dengan Demokrat termasuk mampu menghadirkan banyak anggota perlemen lokal di DPRD Kabupaten Solok. Ini salah satu indikator penilaian pasangan ini.

Ditambahlagi sosok Gusmal adalah seorang birokrat senior yang telah dua periode mendapatkan kepercayaan masyarakat menjadi orang nomor satu di Kabupaten Solok. Dua figur yang masing masing menguasai wilayah yang berbeda banyak pihak menilai akan mampu mendulang suara Rakyat Sumatera Barat.

Munculnya Sosok Gusmal yang siap mendampingi Mulyadi menjadi sebuah kekuatan besar bagi Mulyadi ketika wilayah sekitarnya muncul banyak kandidat yang siap berkompetisi untuk kursi Gubernur Sumbar, seperti sosok Fahrizal Mantan Kapolda Sumbar, Indra Catri, Mahyeldi dan beberapa nama tokoh Tokoh hebat lainnya.

Sementara Gusmal dg minimnya kompetitor para tokoh diwilayahnya sangat memberikan peluang besar untuk mendapatkan simpati rakyat, tidak hanya di Kabupaten Solok, Kekuatan Solok Saiyo Sakato (S3), yakni Kabupaten Solok, Kota Solok dan Kabupaten Solok satu kesatuan kultur yang begitu kokoh dan bukanlah hal mudah untuk ditumbangkan. Termasuk hubungan kultural yang amat sakral S3 dg Masyarakat Kabupaten Pesisir Selatan.

Meski isu isu corona kian mencekam dan membelenggu warga, namun tak mampu mengubur isu Pilkada yang semakin diambang pintu. Minimnya kompetisi para tokoh di wilayah Solok dan sekitarnya semakin memberikan peluang besar Bagi Bupati Solok Gusmal meraup suara di wilayahnya, ditambahlagi nama Gusmal tak asing lagi dikalangan akar rumput.

Pembaca yang budiman
tulisan ini merupakan refleksi yang dihimpun dari sebuah cerita dari lapau ke lapau. Penulis hanya menyajikan dg keterbatasan kemampuan, bukanlah semurni hasil lembaga survey resmi dan pemantau lainnya.

Penulis adalah Wartawan Tabloid PUBLIC mencoba menuangkan pemikiran beberapa tokoh tokoh utama di Kabupaten Solok dan Warga S3 , sekaligus menghilang kejenuhan atas isu corona yg semakin menghantui,,