BUYA MAHYELDI WAKTU ITU LUPA

Oleh : Yosmeri/ Pengamat Politik

“Saya akan menuntaskan jabatan sampai akhir periode” itulah kira-kira ungkapan menggelegar Mahyeldi Ansyarullah pada debat kandidat Calon Walikota Padang dua tahun lalu di sebuah ballroom hotel di Kota Padang.

Video ungkapan itu terekam digital di berbagai media sosial, kini Mahyeldi dikabarkan maju Cagub Sumbar berpasangan dengan Audy ke Pilkada Provinsi Sumbar Desember 2020, kabarnya lagi, Mahyeldi-Audy diusung PKS-PPP.

Majunya Buya ke Pilkada Sumbar dengan jabatan walikota Padang masih tiga tahun lagi menimbulkan pro-kontra masyarakat terutama soal rekaman gambar dan suara Buya (panggilan Mahyeldi,red) saat debat kandidat dulu itu. Rekam jejak digital itu menjadi santapan pro dan kontra netizen di jagad dunia maya.

Penulis melihat ini sebuah kealpaan belaka dari seorang Buya. Saat berkampanye bisa saja Mahyeldi lupa dengan Buya-nya. Atau waktu itu Buya Mahyeldi mungkin menjadi aktor politik negeri untuk meyakinkan konstituennya. Hasilnya kita semua tahu Mahyeldi-Hendri Septa menang dan menjadi walikota dan wakil walikota Padang.

Bagi penulis sah saja saat itu Mahyeldi lupa, tapi ketika ini diuber lagi dan menjadi gunjingn netizen memang perlu kelegowoan seorang Pak Mahyeldi menyikapinya. Cuitan metizen pun sah saja terjadi, dalam konteks kebebasan berpendapat oke aja tuh.

Selama gunjingan netizen berseliweran di jagad dunia maya, tidak sekalipun Pak Mahyeldi ikut meluruskan atau mengklarifikasi.
Tapi di beberapa media online bisa dibaca kalau maju ke pentas Cagub Sumbar karena Mahyeldi Ansyarullah diperintah partainya PKS.

Artinya kealpaan seorang politisi berbrevet Buya pada ucapan penutup saat debat kandidat itu sebuah keteledoran, kalau boleh jujjur mungkin sudah banyak yang ingin menghapus rekam jejak digital itu. Tapi ini era digital tidak manual, ketika dia viral
dihapus satu di konten lain dipastikan muncul lagi.

Jadi sangat tepat kalau ungkapan saat debat di Pilkada Kota Padang lalu itu Mahyeldi alpha atau khilaf, atau bisa saja Mahyeldi tidak punya cita-cita maju ke pemimpin lebih atas lagi seperti Gubernur, waktu itu.

Tapi sudahlah rekam digital tetap
menjadi hal yang menarik diumbar netizen apalagi agenda Pilkada saat ini seperti detik-detik cinta menyentuh. Buya adalah Buya dan politisi tetaplah politisi.
Sekedar sebutan untuk awal
nama boleh saja, tapi dalam prakteknya antara Buya dan Politisi sangat bertolak belakang.

Akhirnya benar juga kata Nikita Khrushchev, Uni Soviet. “Para politisi sama saja di dunia. Mereka berjanji membangun jembatan, padahal di tempat itu tidak ada sungainya”.

Hhmm ya sudah, kopi kental makin enak dinikmati jelang ke peraduan malam ini.(analisa) Yosmeri/ Padang 17 Juli 2020.